by

Ada Tiga Rekening Penampung Uang Calo ASM Kemenag

Ambon, BKA- Selain dua oknum ASN Kemenag Maluku, yakni, RA dan SL yang terlibat dikasus calo Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam pengangkatan tenaga honor Kategori II (K2) tahun 2017 lalu, diduga kuat ada keterlibatan oknum lain yang dicurigai merupakan pejabat dilingkup Kemenag pusat.

Siapa oknum ketiga dikasus itu, memang belum dia ketahui secara pasti. Karena informasinya masih ditutup rapat oleh RA dan SL, yang terkesan sangat melindungi oknum itu.

Salah satu orangtua korban calo di lingkup Kemenag Maluku, Abdulla Drakel, mengungkapkan, pernah menemui Plt Kabag TU Kanwil Kemenag Maluku, Yaser Rumadaul. Saat itu, dia diminta untuk menunjukan bukti kwitansi dan surat pernyataan jaminan yang asli.

Pada pertemuan itu, pihak Kanwil Kemenag Maluku mengakui telah membentuk tim, dan rencananya akan melanjutkan laporannya ke Kemenag RI. Namun harus disertai dengan sejumlah bukti yang kuat, termasuk dengan berapa jumlah nama-nama korban yang ditipu.

Dalam pembicaraan itu, terungkap kalau ada oknum lain selain SL yang bertugas sebagai guru di MAN 1 Malteng di Tulehu dan RA staf di Kemenag Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Selain rekening pelaku SL dan RA, yang digunakan untuk menampung hasil penipuan terhadap puluhan honorer K2, juga terdapat rekening lain yang dijadikan sebagai rekening penyetor, yang kabarnya milik salah satu pejabat Kemenag RI.

“Jadi waktu sampai di Kanwil, Beta bicara dengan laki-laki diatas, itu ternyata ada tiga rekening, satu lewat ibu Saadiah, satu lewat ibu Rahma dan satu lewat tanpa keduanya, kabarnya milik orang pusat yang ditransfer langsung oleh salah satu korban lainya, jadi ada tiga rekening gendut calo ASN Kemenag,” cetus Drakel, saat ditemui BeritaKota Ambon, belum lama ini.

Drakel merupakan warga Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng). Korban berhasil ditipu SL sebesar Rp 90 juta, yang berjanji menjadikan kedua anaknya menjadi ASN dilingkup Kemenag pada pengangkatan tenaga honor K2 tahun 2017.

Meskipun telah dilakukan kesepakatan dalam bentuk surat pernyataan jaminan diangkat sebagai ASN Kemenag yang ditanda tangani SL, namun setelah ditetapkan pengangkatan honorer K2, nama kedua anaknya tidak tertera dalam data pengangkatan sebagai ASN.

Parahnya lagi, meskipun sudah beberapa kali pertemuan dengan SL, bahkan terakhir lewat Hp, korban tidak lagi bisa menghubungi SL maupun RA.

Korban pun akhirnya mengancam akan menempuh jalur hukum, jika dalam waktu yang ditentukan SL tidak dapat mengembalikan uang sebesar Rp 90 juta miliknya, sesuai dengan kwitansi yang ditanda tangani SL.

“Saya ini nanti tanggal 10 Oktober, sesuai dengan perjanjian dengan ibu Ama (RA). Tapi kalau sampai tanggal yang ditentukan tidak ditepati, besoknya itu langsung saya buat laporan kepolisian lengkap dengan kwitansi dan surat pernyataan jaminan yang mereka buat. Sehingga kita bisa tahu, kemana aliran dananya mengalir kesiapa-siapa saja,” tandasnya. (RHM)

Comment