by

Ajaran Islam Yang Memudahkan

Oleh : Zaenal Arifin
Pengajar di Ponpes Khoiru Ummah Waitila Malteng/Kepsek MA Khoiru Ummah

Salah satu dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari sekian banyak fatwa yang telah dikeluarkan adalah perintah kepada Ummat Islam untuk berihtiar menjaga kesehatan dan men jauhi setiap hal yang diyakini dapat menyebabkan terpapar penyakit, sebagai bagian dari menjaga tujuan pokok beragama. (al-Dharuriyat al-Khams).

Fatwa di atas lebih dalam memberikan legitimasi bolehnya sholat jumat diganti dengan sholat dhuhur, Sholat tarawih dilakukan di rumah, Tahlilan tidak harus bersama-sama, Majlis ta’lim bisa dibilang tidak ada aktifitas sementara, dan masih banyak tuntunan ibadah lainnya yang semuanya berisi Rukhsoh (keringanan, kemudahan dalam menjalankan agama) yang memang dicontohkan oleh banginda Rosululloh SAW.

Secara fundamental ayat-ayat Al qur’an dengan gambling menjelaskan bahwa rukshoh itu memang bentuk dari konsekuensi logis adanya pengurangan kadar kewajiban, mengurangi jumlah kewajiban bahkan sampai ke tingkat menghilangkan kewajiban yang disiapkan oleh Allah kepada orang yang melakukan perintah-Nya. Banyak disebut dalam Al-Quran,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al-Baqoroh ayat:185)

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (An-Nisa:28)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Hadits Nabi SAW bersabda: ”Sesungguhnya agama ini mudah dan tidak ada orang yang berlebih-lebihan dalam agama ini kecuali akan mengalahkannya (tidak mampu melakukannya)”. (HR. Bukhori)

Dari ayat dan Hadits Nabi di atas cukuplah bagi kita sebagai referensi bahwa ajaran Islam tidak sesusah yang ada dalam pikiran kita. Betapa jika terjadi perselisihan memahami, menginterpretasi, dan menafsirkan tentang landasan di atas, tentu Majelis Ulama Indonesia (MUI) lah yang lebih professional dan proprosional.

Inti permasalahan mengapa umat mempermasalahkan rukshoh yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, bukan ada pad acara memahami substansi yang terkandung dalam dalil Naqli (Quran dan Hadits) di atas. Melainkan ada pada hukum menjalankan rukhsoh dari Allah SWT SWT. Masalah ini menjadi perbincangan di kalangan para ulama.

Imam Abu Ishaq Al-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaaqat menyebutkan hukum menggunakan rukhsah adalah mubah, artinya boleh dilakukan atau tidak. Alasannya karena pada dasarnya rukhshah itu hanyalah keringanan agar tidak menyulitkan dan memberatkan, maka seseorang boleh memilih antara mengamalkan rukhshah tersebut atau tidak tergantung uzur kesulitan atau keberatan yang diahadapi, misalnya orang musafir dia diberikan kelapanganu ntuk memilih apakah ia mau mengqashar shalatnya atau itmam (menyempurnakannya empat rakaat) tergantung kepada uzurnya. Kalau menggunakan rukhshah itu diperintahkan baik secara wajib maupun sunnah maka bukan lagi sebuah keringanan, tetapi kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ada pilihan lain.

Jumhur Ulama mengatakan bahwa menggunakan rukhsah adalah harus dan kembali kepada hukum asalnya apakah ia wajib atau sunat, misalnya menjaga jiwa agar tidak binasa adalah wajib, maka memakan babi bagi mereka yang terpaksa agar tidak mati kelaparan adalah wajib bukan mubah. Karena kalau dikatakan mubah maka orang tersebut boleh memilih antara makan atau membiarkan dirinya tidak makan walaupun dirinya mati kelaparan.

Allah SWT tidak pernah menghendaki kesulitan kepada hamba-Nya. Termasuk adanya rukhsoh dalam melakukan ajaran agama itu sendiri. Kenyataan yang ada di hadapan kita saat ini, adalah Masjid ada yang menjalankan sholat jum’at ada yang tidak, majlis ta’lim ada yang menjalankan aktifitas dengan biasa, kumpul-kumpul biasa, dan seperti tidak ada apa-apa. Yang lebih lucu adalah adanya beberapa khotib dan Imam masjid yang justru diberhentikan hanya karena mengindahkan fatwa MUI. Sangat memilukan. Semestinya dengan dikeluarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), ini dijadikan panduan ibadah oleh semua kalangan umat Islam, baik yang zona merah covid-19 atau yang masih aman.

Nabi SAW Bersabda,
Artinya :Rasulullahshallallahu ‘alaihiwasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk kenegeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari dari padanya.” (HR Bukhari dan Muslim dariUsamah bin Zaid).
Terlalu banyak contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sebagai teladan kita selalu mengambil dan mengamalkan sesuatu yang paling mudah.
Jadi ternyata sikap merasa tidak afdhol, merasa tidak sholeh, jika mengambil rukhshoh atau merasa seolah menyepelekan dan memudahkan urusan agama itu adalah anggapan yang salah. Dengan kata lain jika menganggap meninggalkan rukhshoh adalah sikap yang sangat shuooleh, sangat Khusyu’ dan Islam itu justru salah kaprah karena mengambil rukhshoh dalam ibadah itu adalah sikap yang lebih disukai Allah.
Justru adalah kesombongan jika tidak mengambil Rukhshoh yang telah disediakan oleh Allah SWT SWT. Memprihatinkan apalagi hingga ada kejadian seorang tokoh, imam dan lainnya diberhentikan hanya karena mengambil rukhsoh.
Menyikapi hal dimaksud maka yang perlu dilakukan oleh semua kalangan, terutama tokoh agama adalah menyampaikan hikmah dibalik covid-19 baik pesan moral berupa perintah sabar, syukur, ihtiar, tawakkal, terlebih penting lagi kajian-kajian yang membahas permasalahan hukum Islam termasuk bahasan rukhsoh.
Wallahu ‘Alam bi Ashawab

Comment