by

Akibat PJJ, Enam Siswa Tidak Belajar Satu Semester

Ambon, BKA- Kepala SD Inpres 23 Ambon, Nuru Sanaky, mengungkapkan, selama pembelajaran semester ganjil lalu, ada sejumlah siswanya yang sama sekali tidak pernah mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh, sebab mereka tidak memiliki fasilitas untuk mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diberlakukan pemerintah sejak Maret 2020 lalu.

Kenyataan itu membuat pihak sekolah kemudian melakukan pertemuan dengan orangtua, untuk membahas pola pembelajaran yang tepat pada semester genap yang baru saja dimulai pada11 Januari, sebagai persiapan untuk menindaklanjuti kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon kalau memang mengijinkan pembelajaran tatap muka, sesuai instruksi Mendikbud RI.

Hasil pertemuan tersebut, ungkap Sanaky, orangtua menyetujui untuk belajar tatap muka secara kelompok. Tapi karena Pemkot Ambon tidak mengijinkan belajar tatap muka, menyebabkan hasil kesepakatan antara sekolah dan orangtua itu dibatalkan.

“Ada 6 anak yang sama sekali tidak ikut belajar, karena tidak ada fasilitas yang menopang. Kan di sekolah ini, tidak semua anak-anak itu punya smartphone. Jadi lebih banyak itu gunakan Hp milik orangtua. Dengan adanya bantuan pulsa pun, tidak begitu membantu. Karena kenyataannya, pulsa itu juga dipakai oleh orangtua. Karena orangtua kerja, sehingga ketika jam belajar, tidak ada orangtua di rumah. Dengan demikian, kita sudah punya rencana, nanti akan melakukan belajar Luring, tapi lewat kunjungan-kunjungan rumah secara kelompok. Dan itu sudah disetujui saat rapat bersama dengan orangtua. Namun karena Pemkot belum mengijinkan belajar tatap muka, juga ditambah ada satu orangtua yang tidak setuju, mengakibatkan kita batalkan belajar tatap muka secara kelompok,” ucapnya, Selasa (12/1).

Karena telah membatalkan belajar tatap muka secara kelompok, maka proses belajar mengajar pada semester genap di sekolah tersebut, menurut Sanaky, kembali dilakukan secara Daring maupun Luring. Sama seperti yang sudah dilakukan pada semester ganjil lalu.

Namun karena keterlambatan informasi kepada salah satu guru, khususnya wali kelas III, sehingga dia pun tidak menginformasikan hal itu kepada siswanya. Menyebabkan sejumlah siswa kelas ini kemudian datang ke sekolah, dengan maksud belajar kelompok, sebagaimana keputusan awal bersama orangtua.

Karena kepedulian guru wali kelas tersebut, maka dia memutuskan untuk melakukan pembelajaran dalam ruang kelas. Pasalnya, diantara sejumlah siswa yang datang ke sekolah saat itu, terdapat enam siswa yang memang tidak pernah ikut pembelajaran selama 1 semester lalu.

“Jadi yang datang ke sekolah itu ada 10 anak. Enam diantarannya itu tidak pernah belajar selama 1 semester ganjil kemarin. Karena guru kami yang menangani 10 anak ini mengatakan, bahwa dia kasihan dengan enam anak yang tidak pernah belajar dari semester pertama sampai sekarang, sehingga ia mohon ke saya untuk ketemu dengan anak-anak ini satu jam saja. Tapi tidak lama kemudian, pihak dinas datang untuk bubarkan. Terkait apa yang dilakukan itu, sebenarnya tidak disengajakan. Karena yang datang ke sekolah itu hanya kelas III. Itu pun hanya 10 orang saja. Guru kelas ini juga dia tidak tahu informasi pembatalan belajar kelompok, karena wathsaAp tidak aktif. Sehingga tidak membaca pesan. Jadi sama sekali kita tidak bermaksud untuk melanggar aturan dari Pemkot,” ulas Sanaky.

Untik itu, dia mastikan, kejadian tersebut tidak akan terulang kembali. Proses belajar mengajar untuk semester genap ini akan kembali berjalan secar Daring dan Luring. Tidak ada belajar tatap muka, sampai adanya intruksi selanjutnya dari pemerintah.

“Jadi saat ini kita kembali belajar di semester genap dengan belajar Daring dan Luring secara kelompok-kelompok saja. Kita sudah mulai kemarin. Jadi di sekolah ini proses pembelajarannya tetap secara Daring dan Luring. Karena memang ada yang tidak bisa belajar Daring. Mudah-mudahan, pada semester ini, anak-anak bisa ikut proses pembelajaran,” harap Sanaky. (LAM)

Comment