by

Aksi Tiga Pimpinan RMS Bukan Kasus Makar

Ambon, BKA- Penasehat hukum tiga terdakwa menyebut perbuatan tiga terdakwa yang dijerat dalam kasus RMS, bukan merupakan perbuatan makar sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang dijerat Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Penasehat hukum terdakwa Alfred Tutupary ketika dikonfirmasi Beritakota Ambon mengungkapkan, melihat dari perbuatan ketiga terdakwa yakni terdakwa Simon Viktor Taihittu, terdakwa Abner Litamahuputty dan terdakwa Johanis Pattiasina. Sebenanya, pada saat mereka ke Polda Maluku itu bukan mau menyerahkan diri karena melakukan tindak pidana RMS, tapi mereka memenuhi undangan tim penyidik Ditreskrimum Polda Maluku.

Menurut Tutupary, yang dikategorikan sebagai tindak pidana makar, seharusnya ada tindakan penyerangan dalam sebuah insiden. Selain itu, mestinya ketiganya ketika memasuki halaman Polda Maluku ada membawa benda-benda tajam disana sesuai dengan amanat UU Makar.
“Tapi ini kan tidak ada, dan kehadiran mereka disana itu kan memenuhi undangan penyidik sendiri, karena sebelumnya mereka dipanggil,” jelasnya, Senin (27/7).

Jadi lanjut dia, rencana untuk melakukan penyerangan itu tidak terbukti. Karena tujuan kedatangan ketiga ke Polda Maluku dengan tujuan meminta Kapolda Maluku untuk bertanggungjawab atas penahanan para simpatisan RMS. Kemudian, mereka meminta agar kedaulatan Maluku harus dikembalikan.

“Jadi dengan meminta kedaulatan dan meminta untuk berdiri sendiri ini kan beda arti. Jadi sekali lagi, beda antara meminta kemerdekaaan dan meminta untuk berdaulat,” jelasnya.

Oleh sebab itulah, sesuai persepsi dari tim penasehat hukum, perbuatan yang dilakukan ketiga terdakwa bukan merupakan perbuatan makar sebagaimana yang tertuang dalam undang-undang.

“Akan tetapi yang jelas, nanti semuanya akan dibuktikan melalui persidangan, terutama saat PH hadirkan saksi ahli yang akan menyatakan kalau perbuatan tiga terdakwa bukan makar,” tandasnya.

Sekedar tahu saja, dalam dakwaan JPU Kejati Maluku, Augustina Ubleeuw mengatakan, tindak pidana yang dilakukan tiga terdakwa yang mengaku petinggi Front Kedaulatan Maluku Republik Maluku Selatan (FKM-RMS), Sabtu (25/4) menerobos masuk ke Polda Maluku dengan membawa bendera RMS sembari berteriak “Mena Muria” di halaman Polda Maluku.

Hal itu dilakukan ketiganya sekitar pukul 15.45 WIT ke markas Polda Maluku yang berada di Jalan Rijali No. 1, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon itu dengan membawa bendera RMS.

Ketiganya diketahui Simon Viktor Taihittu (56). Pekerjaannya wiraswasta. Ia mengaku kepada penyidik adalah warga Batu Gajah, dan juga warga Tanggerang Selatan, Provinsi Banten. Dalam FKM-RMS, ia selaku juru bicara, terdakwa Abner Litamahuputty alias Apet (44), warga di Kudamati, Lorong Rumah Tingkat, pekerjaan alias pengangguran. Tapi di FKM-RMS ia menjabat sebagai Wakil Ketua Perwakilan Tanah Air.

Kemudian Johanis Pattiasina (52),warga yang bermukim di Kayu Tiga, Dusun Soya, Kecamatan Sirimau ini adalah ASN pada Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Maluku. Sebelumnya ia bertugas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Jabatannya di FKM-RMS selaku Sekretaris Perwakilan Tanah Air.

“Ketiganya diancaman melanggar pasal Pasal 106 KUHP, Pasal 110 KUHP tentang Makar dan Pasal 160 KUHP tentang Menghasut,” tandas JPU. (SAD)

Comment