by

Akui Cabuli Korban, Ayah Bejat Menangis

Ambon, BKA- Ananias Lawalata alias Is, ayah bejat yang bermukim di kawasan Mangga Dua, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon ini menangis di persidangan lanjutan, Senin (6/7) kemarin, karena menyesali perbuatannya yang sudah mencabuli anak tirinya itu di persidangan yang dipimpin ketua majelis hakim Feliks R. Wuisan Cs.

Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari istri terdakwa, korban dan saksi pelapor, mereka mengakui kalau apa yang tertuang dalam isi dakwaan JPU itu benar adanya.

Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Alfred Tutupary yang dikonfirmasi Berita Kota Ambon mengungkapkan, sidang lanjutan untuk kasus persetubuhan yang dilakukan terdakwa Ananias Lawalata, Senin kemarin menghadirkan korban, ibu korban (istri terdakwa) dan saksi pelapor. “Dari keterangan ketiga saksi, ternyata semua benar yang termuat dalam surat dakwaan JPU, kemudian tampak terlihat di dalam sidang itu terdakwa dan korban menangis,” ungkap Tutupary.

Dia berujar, sebagai PH, dirinya hanya menyerahkan semua keputusan kepada majelis hakim, lantas apa yang disampaikan dipersidangan tadi tidak ada satu keterangan dibantah terdakwa. “Makanya sebagai PH saya serahkan keputusan ini di majelis hakim saja,” tandas pengacara muda ini.
Sebelumnya JPU,Kejari Ambon, Lilia Helut dalam berkas dakwaannya menguraikan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi, berulang kali, sejak tahun 2013-2017.

Saat itu istri terdakwa (Ibu korban) tidak berada di dalam rumah. Awalnya, korban baru pulang dari sekolah, sampai di rumah terdakwa geram atas sikap korban tanpa alasan yang jelas.

Selanjutnya pada saat terdakwa di dalam kamar, dia kemudian menyuruh korban untuk masuk mengikutinya. Sampai disitu, korban sambil diancam dan akhirnya menuruti kemauan terdakwa yang menyuruh untuk berhubungan badan layaknya suami istri.

Bukan hanya disitu, waktu terus berjalan, korban selalu digagahi terdakwa pada saat kondisi rumah sepi, saat itu terdakwa selalu mengancam terdakwa akan mengeluarkan korban dari rumahnya karena korban merupakan anak tiri dan marganya tidak sama dengan terdakwa.

“Kalau kamu cerita ke orang, saya keluarkan dari rumah, karena kamu marga lain dari saya,” ucap terdakwa dengan dialeg Ambon kepada korban sembari meminta agar melayani napsu birahinya.

Bahkan lanjut JPU, sampai korban beranjak dewasa dan duduk di bangku SMA, terdakwa masih merupaya menyetubuhi korban, ibu korban yang sudah mendengar cerita dari korban namun karena suaminya (terdakwa) yang sedang menafkahi mereka dan sedang menanggung biaya kuliah korban, sehingga dia takut untuk melaporkan hal ini ke pihak berwajib.

Suatu saat, korban yang sudah tak tahan, datang ke rumah bibi, dia memilih untuk menceritakan apa yang sudah dialami korban. bibinya kemudian geram dengan tindakan bejat terdakwa, kemudian mendatangi Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk melaporkan kejadian yang dialami korban.

“Terdakwa didakwa melanggar pasal 285 KUHPidana jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana,” jelas JPU.

(SAD)

Comment