by

Ambil Sikap dan Tindakan, Jangan Netral

Oleh: Ustadz Fathurrahman
Dai Ikadi/Pengajar di Ma’had Arrahmah Ambon

“Biarlah… Itu urusan dia. Saya tidak ikut-ikutan”. Itu sekedar kalimat fiktif sebagai ilustrasi atas keadaan seseorang yang menemukan situasi konflik, pertikaian dan sejenisnya. Sekilas ungkapan itu ada baik dan benarnya. Kalimat itu tampak masuk akal dan memiliki standar moral. Namun menjadi sangat terbalik jika dikembalikan kepada nash yang semestinya tentang konsep keberpihakan.

Istilah keberpihakan tentu dapat bersifat luas setiap kasusnya dan fleksibel sesuai dengan keadaan yang mengikat. Di sini keberpihakan dimaksud murni berdasarkan kalimat dalam tanda kutip pembuka tulisan di atas. Lebih jelasnya mengarah pada masalah keadilan dan keteguhan serta masalah amar ma’ruf nahi munkar.

Adapun Nash yang adalah Hadits berikut,
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim No. 49)
Dari Hadits itu sungguh mudah kita memahami bahwa mencegah kemungkaran itu hukumnya wajib. Wajib ‘ain bagi siapapun, orang yang berakal sehat. Tentu sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Perintah mencegah kemungkaran tidak dikususkan hanya bagi orang tertentu saja, namun wajib bagi setiap orang yang beriman dan berakal. Dan sudah barang tentu menggunakan syarat dan ketentuan. Tetap berdasarkan cara yang ma’ruf (populer) bukan dengan cara mungkar dan asal hajar.

Kalimat “tidak ikut-ikutan” di atas juga menggambarkan bagaimana seseorang mengalami kesalahan berpikir yang berat dan kelelahan berpikir. Keputusan tidak ikutan sekaligus juga menandakan sikap malas dalam upaya menjadi bagian masyarakat madani, civil society yang selalu membutuhkan pihak pemberi peringatan dan control. Bahkan konsekwensinya bisa lebih jauh lagi dan bisa saja sampai taraf fatal jika prinsip tidak ikutan, netral dan sejenisnya dalam contoh masalah amar ma’ruf nahi munkar di atas diabaikan. Ketika seseorang ketimpangan dan atau kezaliman dan dibiarkan saja dengan prinsip tidak mau ikutan, itu sama halnya pertama membiarkan kezaliman terjadi dan kedua menyamakan posisi kezaliman sama level dengan keadilan. Dan sudah barang tentu itu adalah kemungkaran yang besar dan fatal.

Dalam hadits di atas disebutkan, jika tidak mampu mencegah dengan tangan atau dengan lisan, maka solusi terakhir adalah mengingkari dengan hati. Gambarannya pada seseorang yang melihat kemungkaran di hadapannya, sementara mencegah pun tak berdaya, maka solusi terburuk adalah hatinya wajib mengingkari bahwa itu perbuatan mungkar, bahkan harus disertai dengan praktek entah berupa gestures, bahasa tubuh dlsb yang tidak memberikan isyarat netral apalagi mendukung. Seseorang melambaikan tangan kepada orang yang berbuat mungkar sebagai tanda pembiaran, atau tersenyum walapaun dalam hati tidak mendukung, atau bahkan hanya diam tanpa ekspresi samasekali, maka dalam situasi seperti itu berdasarkan makna dzhohir hadits di atas, orang tersebut jatuh pada bahkan bisa hingga pada level hilangnya keimanan. Na’udzubillahi min dzalik

Keadaan dimana seseorang disebut “netral” dalam konteks bahasan di sini juga bisa mengarah pada kemunafikan yang disebut bahwa bahayanya bisa lebih besar daripada bahawa kekafiran. Allah SWT menyebut dengan istilah “Mudzabdzab” sebagaimana Ayat berikut Allah SWT Berfirman,

“Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya”. (An-Nisa:143)

“Mudzabdzab” adalah satu kata dalam al-Qur’an untuk menyebut salah satu ciri kemunafikan yang artinya secara bahasa adalah bimbang, ragu. Lebih luas akan berarti seseorang yang tidak memiliki keteguhan, pendirian dan prinsip. Golongannya tidak jelas. Tidak ke kiri tidak pula ke kanan. Jika dalam kontestasi politik, partainya pun tidak jelas. Atau tidak menjelaskan identitas sebenarnya dalam politik. Itulah yang disebut mudzabdzab yang menjadi ciri utama kemunafikan.

Dan dalam closing statement arti ayat 143 surat An-Nisa di atas “Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya”. Gampang kata, seseorang yang mudzabdzab berpotensi kuat disesatkan Allah SWT dari jalan yang benar. Kehidupannya pun akan dihadapkan pada berbagai situasi yang tak kunjung padam. Keberkahan hidup yang tercabut dari setiap upayanya. Wal ‘Iyadzu Billah.

Semoga sisa sepuluh terakhir Ramadhan 1441 ini, Allah SWT melimpahkan taufik kepada kita semua serta pertolongan agar amalan Ramadhan menjadikan kita orang-orang yang memiliki kepekaan, sense of crysis, memiliki prinsip dan keteguhan untuk berpihak pada keadilan. Hadanallahu wa Iyyakum ajma’in.(**)

Comment