by

Anak Petani Yang Kini Mengurus “Hidup-Mati” Masyarakat Maluku Tengah

Ambon, BKA- “Berasal dari keluarga kurang mampu tidak menjadikan Marulak Togatorop merenungi dan meneruskan kehidupannya sebagai petani. Keuletan orangtua Marulak menjadi panutan dalam setiap langkah hidupnya. Hingga kini Marulak menjadi sosok penting, yaitu, Kepala Kantor Pertanahan Maluku Tengah.”

Marulak Togatorop, pria pemilik suara yang berat namun tegas disertai dengan kacamata bulat yang menghiasi wajahnya, mengaku, meniti karir menjadi seorang pegawai negeri semenjak duduk dibangku Sekolah Menengah Atas.

Meskipun pernah gagal beberapa kali, Marulak, begitu sapaannya, tidak pernah menyerah dan akhirnya berhasil menjadi pegawai Direktorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri pada Tahun 1986. Menjalani pendidikan Tata Guna Tanah selama kurang lebih 1 tahun di Bogor, Marulak kemudian ditempatkan di Provinsi Maluku pada awal bulan Januari 1987.

Bidang pertanahan bagi Marulak sangat besar artinya, karena mengurus hidup-mati orang banyak. Bagi pria yang berhasil menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon pada 25 Februari 2020 ini, tanah adalah harga diri dan hak asasi seorang manusia.

Selain mendapatkan pendidikan yang baik, memiliki tempat tinggal yang layak adalah hak asasi semua manusia. Namun, peran Marulak kini menjadi seorang Kepala Kantor Pertanahan di Kabupaten Maluku Tengah sejak 18 Januari 2020 silam.

Marulak melihat bahwa pertanahan di Maluku Tengah belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya penduduk serta tanah yang masih luas. Tanah di Maluku Tengah terdiri dari banyak kawasan hutan dan pertanian. Saat ini tanah di Maluku Tengah belum sampai 50% yang terdaftar atau bersertipikat.

PROGRAM KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN MALUKU TENGAH

Pria yang mengaku mengagumi sosok Presiden Joko Widodo ini memiliki program agar seluruh tanah terdaftar serta memiliki sertipikat. Hal ini dikarenakan, apabila sudah memiliki sertipikat bisa dimanfaatkan sebagai modal usaha untuk kesejahteraan masyarakat.

Jadi, sertipikat bukan hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga memberikan nilai ekonomi untuk modal usaha. Apabila seorang nelayan atau petani mempunyai sertipikat tanah, bisa diagunkan ke bank sebagai modal usaha.

Marulak mengatakan, sebenarnya ini adalah salah satu bentuk bantuan pemerintah kepada rakyat, meskipun bukan berupa dana secara langsung.

Jika bantuan berupa dana langsung, nilainya akan hilang dalam sekejap. Tetapi berbeda dengan sertipikat tanah. Nilainya kekal sampai anak cucu.

Usaha Marulak menyadarkan masyarakat Maluku Tengah akan pentingnya kepemilikan sertipikat tanah, dilakukan dengan cara pendekatan, sosialiasi, menjalankan fungsi humas secara optimal, serta menjadi narasumber di Radio Republik Indonesia selama 5 tahun belakangan, sejak dia bertugas pertama kali menjabat sebagai Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Maluku Tenggra Barat dan Kabupaten Maluku Barat Daya tahun 2014 sampai dengan 2017, dan Kepala Kepala Kantor Pertanahan Kota Ambon 2017 sampai dengan 2019.

Saat itu, Marulak terus melakukan Program Pemberdayaan Masyarakat Pasca Sertipikasi Asset tanah Masyarakat dan mendekatkan masyarakat kepada pihak-pihak per bank-an dan Jasa Keuangan lainnya, guna mendapat bantuan modal usaha.

BERASAL DARI KELUARGA MISKIN

Terjun ke lapangan selama kurang lebih 34 tahun, Marulak mendapatkan banyak dukungan positif dari keluarga.

Bagi Marulak, keuletan kedua orangtuanya hingga kini dijadikan sebagai contoh kehidupan yang luar biasa.

Berasal dari keluarga petani tadah hujan Sumatera Utara, Kabupaten Serdang Bedagai, Kecamatan Sei Ramapah, Desa Sei Ban-Ban, Dusun Parsaoran, yang miskin, Marulak diajarkan untuk ulet dalam bekerja sejak kecil.

Kepedihan mewarnai hari Marulak kecil kala itu. Ketika padi rusak karena banjir, orang tua Marulak kemudian beralih menjual singkong atau ikan. Sedangkan Marulak harus mencari uang sekolah serta uang untuk membeli buku sendiri, dengan cara kerja pada orang lain di berapa kampung sekitar pada saat libur sekolah.

Kini, bagi Marulak, orang yang ulet dan mau bekerja pasti akan sukses. Motto hidup Marulak adalah seseorang harus mempunyai Integritas. Bila berkata iya, maka katakan iya dan lakukan, tetapi bila tidak katakan tidak dan jangan lakukan. Oleh sebab itu, Marulak tidak pernah malu untuk mencabut rumput, mengepel, sampai menyikat lantai walaupun Marulak sudah menjadi Kepala Kantor hal ini dia lakukan dimanapun Marulak bertugas. Menjadi seorang pemimpin, bagi Marulak bukan menjadi seorang raja. Tetapi berikan teladan yang baik dengan memberikan contoh secara langsung.

Marulak melihat kehidupan sederhana yang dicontohkan oleh Bapak Presiden, Joko Widodo. Presiden saja sederhana, masa pejabat di bawahnya ingin seperti raja. Itu pemikiran Marulak.

Marulak senang terjun ke lapangan, sehingga setiap hari selama 15 menit, dia akan langsung turun untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan staff serta memberi motivasi dalam bekerja.

Bagi Marulak, jabatan adalah amanah Tuhan. Ilmu Pengetahuan yang didapatkan harus diaplikasikan dengan berbagai inovasi, untuk memajukan bangsa serta mensejahterakan masyarakat banyak.

Berbagai pengalaman sudah dia lalui. Mulai dari menjadi staf, pejabat lapisan paling rendah hingga kini menjadi seseorang yang menduduki jabatan penting di Kabupaten Maluku Tengah.
Kinerja Marulak boleh diacungi jempol. Tahun 2019 silam, Marulak mengikuti lelang jabatan untuk eselon II dan lolos sampai wawancara dan interview oleh Menteri ATR/BPN.

Lalu pada 2017, Marulak mendapatkan kenaikan pangkat istimewa dari Kementerian ATR/BPN dari pangkat IV/a tahun 2015 naik ke IV/b hanya selama dua tahun, yang seharusnya empat tahun. Tidak heran Marulak memperoleh banyak penghargaan.

Tetapi bagi Marulak penghargaan terbesar adalah apabila sebagai manusia mampu memberikan bantuan kesejahteraan kepada masyarakat, karena mengurus pertanahan itu adalah Mengurus Hidupn dan Mati Masyarakat banyak. Itu satu tugas yang Mulia. Penghargaan berupa lencana ataupun lainnya, hanya merupakan bonus bagi dirinya.

SAAT VIRUS COVID-19 MENYERANG
Semenjak seluruh dunia termaksud Indonesia diserang oleh Covid-19, segala sistem tatanan hidup manusia terganggu. Hal ini pun dialami oleh Marulak dan keluarga.

Selain bekerja dari rumah, Marulak menghabiskan waktunya dengan bercocok tanam. Bersama sang istri dan anak-anak, mereka menanam berbagai macam sayuran, seperti, terong dan sawi.

Bagi Marulak bercocok tanam merupakan kegiatan yang menyenangkan sekaligus hemat ekonomi.

Tentu selain lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Marulak harus melakukan beberapa perubahan selama Covid-19 menghantui, yaitu, dengan bekerja secara online. Pelayanan Kantor Pertanahan saat ini bersifat online, bisa melakukan pengecekan sertipikat secara online serta perbankan melakukan Hak Tanggungan secara online. Pengerjaan segala bidang pun semakin cepat.

Meskipun masih ada beberapa pegawainya yang bekerja di kantor, tetapi Marulak tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat, yaitu dengan memeriksa kesehatan pegawai, pemberian vitamin, pemakaian masker serta sarung tangan.

Bagi Marulak selain faktor menjaga kebersihan, ada pula yang terpenting, yaitu Tuhan. Sesibuk apapun kita harus ingat untuk beribadah. Baru kemudian keluarga. Setelah itu bekerja dengan memberikan contoh, mengedepankan transparasi serta monitoring yang harus diutamakan.

MENGENAI COVID-19
Marulak selalu berpikir positif akan suatu kejadian, begitu juga dengan adanya Covid-19 ini. Bagi Marulak sisi positif dari Covid-19 ini adalah melatih kedisiplinan serta pelayanan sistem perkantoran kembali menuju IT murni. Perubahan akan dipaksa berubah dari manual menjadi IT. Hal ini memiliki keunggulan yaitu lebih menghemat pengeluaran.

Maluku merupakan negara kepulauan sehingga ketika ingin membuat sertipikat dan datang dari pulau lain, harus memikirkan biaya menginap, biaya makan hingga biaya transportasi yang cukup mahal. Maluku Tengah memiliki luas empat kali dibandingkan Ambon. Online hanya membutuhkan pulsa, sehingga ke depannya sertipikat akan berbentuk elektronik. Tidak lagi dipegang dalam bentuk kertas tetapi sertipikat akan dikirim melalui e-mail. Jadi, jika terjadi kebakaran atau banjir seperti di Jakarta, sertipikat tidak akan hilang, tetap masih ada di e-mail pemilik.

Marulak nampaknya akan terus melakukan pelayanan online dalam jangka panjang. Dahulu tatap muka, kini bisa melalui online. Pembayaran pun bisa dilakukan ke bank melalui atm. Hal ini juga mengantisipasi permainan di belakang yang kerap kali Marulak temui. Ke depannya, Marulak melihat bahwa kantor yang dianggap modern bukan masyarakat yang banyak datang ke kantor tetapi yang semakin sepi dikunjungi masyarakat. Segalanya menjadi lebih mudah dan cepat. Keuntungan lain adalah kantor-kantor pertanahan tidak harus memiliki ruang arsip yang besar untuk menampung dokumen masyarakat.

PANDANGAN MENGENAI PENANGANAN PEMERINTAH MEMBASMI VIRUS COVID-19

Menurut Marulak, penanganan pemerintah akan Covid-19 sudah sangat maksimal. Tetapi masih banyak masyarakat yang menganggap enteng anjuran pemerintah. Mereka-mereka ini yang belum pernah menjadi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin harus membuat sebuah keputusan yang pasti akan ada pro dan kontra. Menjadi pemimpin itu berat.

Marulak pun berpesan kepada generasi muda yang kini dihadapkan pada Covid-19 agar mengubah tantangan Covid-19 ini menjadi sebuah kemajuan. Jangan menjadi berkecil hati dan berdiam diri. Covid-19 ini harusnya membuat generasi muda berpikir, apa yang harus dikerjakan.

Menurutnya, tantangan ini yang harus dipikirkan. Tantangan membuat siapapun yang berpikir dan berusaha bisa maju dan berkembang. Tidak ada orang sukses tanpa tantangan. Tantangan semakin besar, kesuksesan semakin nyata. Begitulah Marulak, pria dengan segala pengalaman hidup.

Marulak pun menitipkan amanat kepada pemerintah agar menjaga kesatuan Indonesia. Harus selalu kompak dan jangan saling menyalahkan. Karena bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Merdeka!(**)

Comment