by

Ancaman Walikota Tak Mempan

Biaya Rapid Test Masih Tinggi
Ambon, BKA- Surat Edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga ancaman Walikota Ambon terhadap biaya rapid test mandiri, seakan tak mempan bagi beberapa fasilitas kesehatan (Faskes) di Kota Ambon. Pasalnya, biaya rapid test mandiri masih diberlakukan dengan harga tinggi sebesar Rp 580.000.

Ini ditemukan langsung oleh Anggota DPRD Kota Ambon, Morist Tamaela, saat meninjau Rumah Sakit (RS) Otto Kuyk Passo, Kecamatan Baguala. Padahal, RS Otto Kuyk ini menjadi salah satu Faskes rujukan Pemerintah Kota Ambon untuk melakukan rapid test mandiri bagi para pelaku perjalanan yang hendak ke luar kota ataupun sebaliknya.

Naasnya, biaya rapid test yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Surat Edaran (SE) nomor HK.02.02/I 2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Rapid Test Antibodi sebesar Rp150.00 untuk seluruh wilayah di Indonesia, masih diabaikan oleh RS Otto Kuyk.

Padahal, Walikota Ambon, Richard Louhenapessy telah memberikan warning kepada seluruh Faskes di Kota Ambon yang mendapat rujukan dari Pemerintah Kota agar berlakukan tariff biaya rapid test mandiri maksimal sebesar Rp.150.000 sesuai surat edaran Kemenkes.

Bahkan walikota telah menghimbau agar masyarakat Kota Ambon segera melapor ke Pemerintah Kota jika ada Faskes yang berlakukan biaya rapid test mandiri diatas Rp150.000.
Menurut Tamaela, sampai dengan kemarin, semua Faskes yang direkomendasikan Pemerintah Kota Ambon untuk melayani kebutuhan pemeriksaaan tes cepat antibodi Covid 19 masih memberlakukan penerapan harga diatas Rp.400.000.

“Sangat disayangkan sampai dengan hari keempat pasca penetapannya, semua fasilitas layanan kesehatan ternyata belum menerapkan isi surat edaran Kemenkes untuk menyesuaikan biaya rapid test mandiri sebesar 150 ribu. Bahkan lebih para lagi di RS Otto Kuyk, saya temukan langsung harga rapid test itu sampai dengan harga 580 ribu. ” kesal Tamaela, saat menghubungi koran ini, Jumat (10/7).

Politisi Nasdem Kota Ambon ini meminta, agar Pemerintah Kota lewat Dinas Kesehatan segera mengambil langkah tegas untuk menindaklanjuti pihak RS Otto Kuyk yang sengaja mengabaikan aturan maupun peringatan walikota terkait biaya rapid test mandiri.

Sebab, hal ini dapat berujung pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah Kota akibat tidak konsisten dalam melihat keluhan dan penderitaan masyarakat. Terkhusus bagi warga yang hendak melakukan perjalanan luar daerah Kota Ambon.

“Kondisi seperti ini jangan dibiarkan. Kasihan masyarakat yang mau bepergian untuk urusan pribadi ke kampung halaman misalnya, atau ke kabupaten kota lain tapi harga rapid test sudah lebih besar dari harga tiket. Dan tidak bisa dijadikan sebagai lahan bisnis,” kesal dia.

Terkait temuan ini, lanjut Tamaela, akan disampaikan dalam internal Komisi I DPRD Kota Ambon untuk nantinya memanggil Dinas Kesehatan Kota Ambon beserta seluruh Faskes yang direkomendasikan oleh Pemerintah Kota sebagai rujukan rapid test mandiri. Salah satunya RS Otto Kuyk.

Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Ambon ini menduga, ada sejumlah Faskes lainnya yang masih berlakukan harga tinggi diatas Rp 150.000 untuk rapid test mandiri. Sehingga meminta agar Pemerintah Kota lebih tegas terhadap seluruh Faskes rujukan tersebut.

“Saya akan sampaikan temuan ini untuk dibahas secara internal Komisi, supaya secepat kita undang Dinas dan seluruh Faskes untuk menyikapi temuan ini. Saya juga harap kita semua dapat bersabar dan taat mengikuti aturan pemerintah, khususnya di masa PSBB ini. Agar nanti kita bisa kembali dalam tahapan kehidupan normal seperti sediakala,” harap Tamaela. (UPE)

Comment