by

BAP La Ode Diduga Direkayasa

Ambon, BKA- Sidang lanjutan kasus persetubuhan dengan terdakwa La Ode Yukni alias Yuki kembali digelar Pengadilan Negeri Namlea, Kabupaten Buru,dengan agenda pemeriksaan saksi meringankan dari tim penasihat hukum terdakwa Marnex Ferison Salmon dan Rony Samloy.

Sidang digelar secara virtual di Pengadilan Negeri Namlea, Senin (22/6) siang. Empat saksi meringankan yang dihadirkan dalam persidangan tertutup itu, masing-masing Wa Ode Aulia, Eryatna, La Sidu dan Andy Nustelu.

Dalam keterangan saksi Nustelu yang masih berstatus pelajar itu membantah Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang dibuat penyidik Polres All Asy Ari Negara alias Ari Peci yang menerangkan kalau saksi mengetahui yang melakukan perbuatan persetubuhan itu adalah terdakwa dan korban adalah Wa Gita Wally. “Tidak, saya tidak pernah menerangkan hal itu,” bantah Andy menyahut pertanyaan anggota kuasa hukum terdakwa, Rony Samloy.

Andy hanya mengakui pertanyaan Penuntut Umum Prasetyo dari Kejari Buru kalau dirinya pernah saling meminjam handphone dengan korban Wa Gita Waly empat hari sebelum pelaksanaan pesta keluarga di Desa Fogi, Kecamatan Kepala Madan, Kabupaten Buru, pada Kamis 19 Desember 2019. Setelah itu, Andy yang merupakan mantan kakak kelas korban di SMP itu membantah kalau setelah pengembalian HP dia kembali bertemu korban di pesta.

Sementara itu, Saksi Wa Ode Aulia dan saksi Eryatna menegaskan mereka tidak yakin kalau La Ode Yuki adalah pelaku perbuatan keji tersebut, sebab terdakwa semasa kecil, pacaran hingga kawin tidak pernah melakukan tindakan kriminal atau memiliki pengalaman buruk dengan wanita lain.

”Saya yakin anak saya bukan pelakunya. Alasannya anak saya bukan anak bandel. Dia tak pakai anting, tak pakai tato, tak suka minuman keras, dan tidak pernah melakukan kekejaman terhadap istrinya maupun perempuan lain. Bahkan tetangga saya juga bingung dengan kejadian ini,” bela Aulia merintih.

Selama pacaran 1,4 tahun dan menikah selama 4 tahun dengan terdakwa, kata Eryatna, dirinya tidak pernah bertengkar dengan terdakwa soal perempuan lain. Eryatna menuturkan pada Kamis 19 Desember 2019 atau sehari sebelum kejadian yang diduga direkayasa itu, dirinya berangkat bersama suaminya (Terdakwa) ke pesta keluarga mereka di Fogi pada pukul 20.00 WIT (jam 8 malam) dan pulang pada Jumat 20 Desember 2010 pukul 02.30 WIT dinihari.

Setelah sampai di rumah suaminya kemudian menjemput adik-adiknya di Fogi dan kembali ke rumah pada pukul 04.00 WIT.

’’Setelah suami saya pulang terus saya tanya, tadi dari mana barang parampuang (Wa Gita Wally) pung keluarga datang tanya saya di sini. Terus suami saya bilang dia dari Bala-bala. Waktu dia pulang pakai kemeja putih dan jeans biru dan sepatu. Pakaiannya masih rapi, tidak mabuk,” jelas Eryatna.

Mengenai permintaan maaf keluarga terdakwa, kata saksi Aulia, itu bukan inisiatif keluarga terdakwa tetapi dorongan dan tekanan dari oknum pengacara bernama La Ode Rahim yang mengatakan tak ada jalan lain menolong terdakwa selain melalui permintaan maaf.

“Permintaan maaf tidak pernah dari kami, itu tekanan dari pak Ode Rahim, karena kami yakin Yuki tidak melakukan perbuatan keji itu,’’ tegas Aulia.

Sedangkan, Saksi La Sadu yang mengakui sebagai tabib menerangkan, dirinya pernah dihubungi ibunda terdakwa Wa Ode Aulia dan Arifin untuk menggunakan mawe memastikan apakah La Ode Yuki pelaku atau tidak dalam perkara pelanggaran UU perlindungan anak tersebut.

’’Dari awal sampai waktu saya wawancara Wa Gita Waly dan bikin videonya saya pastikan La Ode Yuki bukan pelakunya, dia hanya dikorbankan,’’ kata La Sadu.

La Sadu menerangkan ketika dia mewawancarai korban ternyata ada banyak kejanggalan dalam keterangan menyangkut lokasi kejadian sebenarnya.

’’Di video itu tampak kejanggalan sekali, dan La Ode Yuki bukan pelakunya kalau menurut saya,” ungkap La Sadu.

Usai mendengarkan saksi meringankan dari terdakwa, sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Erfan Afandy beranggotakan Fandy Abdilah dan Muhammad Akbar Hanafi, menunda sidang hingga Senin (29/6) pekan depan, dengan agenda pemeriksaan saksi verbalisan dan terdakwa. (SAD)

Comment