by

Batu Merah Pertahankan Budaya Pela Gandong

Ambon, BKA- Salah satu budaya orang Maluku yang mengambarkan nilai-nilai hidup persaudaraan adalah hubungan pela dan gandong. Dimana, Pela diartikan sebagai “suatu relasi perjanjian persaudaraan antara satu negeri dengan negeri lain yang berada di pulau lain dan kadang menganut agama yang berbeda.” Sedangkan gandong bermakna “adik”. Misalnya di Negeri Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon yang sampai detik ini tetap mempertahankan budaya pela gandong dengan Negeri Passo dan Negeri Ema, khususnya dalam memperingati hari besar keagamaan.

Seperti perayaan Idul Adha tahun ini, dimana sebagai bentuk silahturahmi antar negeri yang ada dalam hubungan Pela Gandong tersebut, Negeri Ema dan Negeri Passo memberikan hewan qurban bagi negeri Batu Merah. Berbeda dengan tahun sebelumnya pemberian hewan qurban tahun ini tidak dimeriahkan dengan sederetan acara, karena adanya pandemi covid-19. Acara tahunan ini tetap dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan seperti jaga jarak dan memakai masker. Sekertaris Pemerintah Negeri Batu Merah mengakui, silaturahmi yang terjalin ini adalah upaya untuk tetap mempertahankan budaya yang sudah ada dan tetap membina persaudaraan.

” Idul Adha tahun ini saudara kita dari Negeri Ema dan Negeri Passo juga memberikan qurban masing-masing satu ekor sapi jadinya dua ekor yang kami terima. Berbeda dengan tahun sebelumnya pemberian tahun ini dilakukan tanpa adanya acara yang meriah seperti tahun sebelumnya. Bahkan saat acara pemberian kami tetap mengutamakan protokoler yang ada. Seperti mencegah kerumunan, menjaga jarak, dan tetap menggunakan masker,” tutur M Lisaholet Sekertaris Pemerintah Negeri Batu Merah.

Lisaholet mengakui, setiap ada momen keagamaan selalu ada kebersamaan yang dibina antar hubungan pela gandong tersebut. Untuk tahun sebelumnya, setiap ada acara keagamaan akan dilakukan serangkaian acara seperti penampilan hadrat dan tari-tarian yang berasal dari berbagai daerah. Bukan tanpa alasan, melainkan karena Batu Merah yang terkenal dengan kearifan budaya seperti baguyuban dan lain sebagainya yang sudah dikelola oleh sanggar milik Batu Merah sendiri. Begitu pun sebaliknya, jika di Negeri Ema dan Passo memiliki momen agama, Batu Merah juga akan turut serat dalam merayakan dan merasakan semua itu.
“Jadi ada tim pelaksanaan hari raya yang sudah dibentuk yang bertujuan untuk merencanakan setiap kegiatan yang berlangsung. Untuk tahun sebelumnya jika acara seperti ini selalu ada hadrat dan festival budaya. Di dalam festival budaya itu ada seperti tari-tarian dari negeri Batu Merah, Ema dan Passo. Juga ada tarian paguyuban dan peragaan busana oleh anak PAUD dan TK. Ini sudah agenda tahunan kita setiap ada momen besar seperti hari raya, cuma tahun ini tidak bisa dijalankan karena adanya pandemi covid-19,” tutupnya. (MG-1)

Comment