by

Bebaskan Hukuman Dua Terdakwa Cinabar

Ambon, BKA- Ridwan Pelu dan Ahmad Kaimudin terdakwa kasus tindak pidana pertambangan dan Batu Bara, selaku penasehat hukumnya, Rony samloy meminta kepada majelis hakim agar melepaskan kedua terdakwa dari segala tuntutan hukum yang dijerat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Malteng dengan ancaman pidana selama Dua Tahun dan Enam Bulan kurungan (2,6).

Menurut Samloy, penyidik dan JPU yang manangani kasus ini terlihat tebang pilih dengan meloloskan pemilik asli Merkuri dan disparitas pengenaan hukuman terhadap terdakwa. Didalam perpektif hukum, dan kacamata kalangan juris dan terkesan dipaksakan supaya kliennya harus diproses di dalam kasus ini.

“Mengapa, berangkat dari keterangan terdakwa Ridwan Pelu alias Wan dan terdakwa Ahmad Kaimudin mereka menyebut, pemilik barang lima cerigen merkuri atau air raksa itu adalah sosok misterius bernama La Ana, dan menjadi pertanyaan penting adalah mengapa penyidik tidak menyeret yang bersangkutan ke meja hijau,” ungkap Samloy dalam nota pledoi yang dibacakan di persidangan melalui sarana Video Teleconference, dipimpin ketua majelis hakim Lucky Rombot Kalalo dibantu Hamjah Kailul dan Feliks R. Wuisan selaku hakim anggota, sedangkan JPU dihadiri Donald Rettob.

Samloy berujar, jika kliennya merupakan pengusaha tambang maka kesalahannya masih masuk dalam kesalahan administrasi, hanya saja kedua terdakwa bukan merupakan pengusaha tambang. “Jadi prinsipnya kita minta supaya klien kami dibebaskan dari segala tuntutan JPU.

Dan memang pasal yang disangkakan oleh kedua terdakwa sangat tidak tepat. Karena mereka bukan pemilik batu cinabar,” tandas Samloy.

Sebelumnya, JPU Kejaksaan Negeri Malteng, Donald Rettob, menuntut dua terdakwa pemilik batu Cinabar yakni Ridwan Pelu dan Ahmad Kaimudin dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan kurungan (2,6),serta denda sebesar Rp.500 juta subsider lima bulan kurungan penjara, dalam persidangan yang digelar secara online di pengadilan Negeri Ambon, Rabu (3/6).

Didalam amar tuntutan JPU, kedua terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 158 Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara jo pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

JPU dalam berkas dakwaanya menguraikan, kedua terdakwa tertangkap pada Rabu, 11 Desember 2019. Kejadian itu bermula pada 10 Desember 2019 sekitar pukul 22.00 WIT. Saat itu, Terdakwa Ahmad menelepon terdakwa Ridwan, untuk menyewa mobil.

Mobil tersebut akan digunakan untuk mengangkut Cinnabar di rumahnya di Dusun Waitomu Desa Hila Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah.

Mereka bersepakat mengangkutnya keesokan harinya. Pagi hari, sekitar pukul 08.00 Wit, terdakwa Ridwan sudah berada di rumah Ahmad.
Saat itu juga, kedua terdakwa mengangkut lima buah jerigen ukuran liter berisi cairan mercury atau air raksa ke dalam mobil.

Terdakwa Ahmad meminta terdakwa Ridwan membawa kendaraan itu ke Desa Nania. Terdakwa Ahmad akan mengikuti dari belakang dengan menggunakan sepeda motor. Ketika mobil yang dikendarai melewati kantor Polsek Leihitu, mobil tersebut dihentikan dan diperiksa oleh anggota Polri yang bertugas di Polsek Leihitu.

Setelah ditemukan adanya cairan mercury/ air raksa tersebut di dalam mobil, polisi kemudian menjemput terdakwa Ahmad di rumahnya untuk diproses seusia hukum yang berlaku. (SAD)

Comment