by

Benyamin Th. Noach, Nahkoda di Tengah Badai

Oleh: Nikolas Maloky
Siapa yang tak kenal sosok Bupati Maluku Barat Daya, Benyamin Th. Noach. Baru setahun (terhitung Mei 2019-Mei 2020) dia menjadi eksekutor di MBD.

Kendati usia kepemimpinannya baru seumur jagung, namun
masalah yang dihadapinya bukan main. Kalau dibilang, saat menjadi bupati dia diperhadapkan dengan masalah kemiskinan, pemerataan, kesenjangan sosial dan masalah kerakyatan lainya. Maka itu semua merupakan kewajiban mulia yang harus dia selesaikan.

Namun yang terjadi, dia malah diperhadapkan dengan fitnaan, berita hoaks hingga mengucilkan dirinya. Bahkan masalah privasi-nya pun digiring ke ranah publik.

Sesekali bertemu, saat lagi ramai isu di media cetak, online dan medsos, yang memberitakan tentang dirinya, namun ekspresi lelaki berdarah Kisar- Babar itu tetap tersenyum seperti biasa saja. Tanpa harus sibuk telepon sana- sini untuk meredam isu- isu.

Kalau ditanya terkait situasi yang terjadi. Dirinya menanggapi santai. “Biasa, namanya juga politik. Mungkin saja ada yang masih kurang paham, jadi diprovokasi pasti cepat termakan. Katong ( kita) semua orang bersaudara, jangan karena berbeda pilihan, lalu saling membenci,” ucapnya sembari humor.

Tak lama lagi, Kabupaten MBD akan ada pergantian kepemimpian alias Pemilihan Kepala Daerah pada 9 Desember 2020 mendatang.

Ketika sang petahana berencana dan menyatakan sikap resminya untuk mencalonkan dirinya sebagai Bupati MBD, disitulah muncul para pesaing- pesaingnya dari kalangan birokrat hingga politisi.

Ironinya adalah, pesaingnya pun mulai sensitif dengan segalah kebijakannya. Kebijakan benar apapun yang pro rakyat, pasti dinilai salah dan politis.

Meminjam kata salah satu pengusaha sukses Indonesia, Bob Sadino. “Rencana adalah bencana”.

Pepatah Bob Sadino ini, sepertinya dirasakan pria jebolan Fakultas Teknik Universitas Pattimura Ambon itu. Karena setelah dirinya merencanakan bertarung di Pilkada, mulai muncul diskusi yang melahirkan pesan-pesan provokatif.

Dia diserang dari segala segi. Pokoknya mereka memainkan skenario habis- habisan, ibarat bencana yang datang bertubi- tubi.

Tapi itu bukan penghalang baginya. Bagi pria yang murah senyum itu, apapun bentuk konsekwensinya dan atas dasar keyakinan politiknya untuk bertarung, tak sedikitpun yang bisa membatalnya. Hanya Tuhan yang bisa merubah jejak takdir politik Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Maluku itu.

Hal menarik lain adalah disaat arus dan gelombang kencang buatan yang coba dimainkan para lawan politiknya, membuat dia semakin tenang.

Mereka mencoba memancing emosionalnya supaya bisa berbalas pantun di media. Tetap saja dia sabar dan santai keluar dari zona yang mencekam.

Tipikal politisi ini ibarat sang nahkoda yang tenang dan sabar mengarungi samudera dari amukan badai.

Hal itu membuat lawannya semakin susah membaca dan menebak alur pikirannya kedepan. Terbukti, ditengah keasikan mereka memainkan skenario itu, pak Oyang (sapaan akrab Benyamin Th. Noach) dengan strategi politiknya membangun silaturahmi dengan para elit partai politik.

Puji Tuhan, pertengahan konsolidasinya saat ini, mantan Ketua PAC PDI Perjuangan itu kini mengantongi rekomendasi PDI Perjuangan, NasDem dan PKPI.

Politik Kuasai Covid -19
Bulan Mei lalu. Masyarakat MBD digemparkan dengan virus corona. Ketika hasil rapid test yang reaktif hingga hasil pemeriksaan sweb, tiga orang dinyatakan positif terkena virus corona. Itu membuat panik ditengah masyarakat. Sayangnya ada pihak yang diduga secara sengaja mengaitkan masalah politik dengan kondisi tersebut.

Tim gugus tugas, dokter dan pemerintah daerah, menjadi sasaran empuk untuk dibuli di media. Kesehatan digiring ke area politik. Masalah korupsi, rekomendasi parpol digiring habis- habisan ditengah pandemi Covid-19.

Demi kekuasan, budaya kita seakan tidak bermakna dan injak-injak. Nafsu politik tak bisa dibendung. Kebersamaan yang harmonis pergi berlalu begitu saja. Tak ada lagi makna hidup orang adik-kakak. Potong di kuku rasa di daging, hanyalah pemanis bibir.

Atas gejolak opini yang menyudutkan, bagi seorang Benyamin Th. Noach hanyalah dinamika hidup. Dia menjadikan kritik, sindiran dan penilaian sebagian oknum seburuk apapun, hanya merupakan accessories untuk memperindah pengabdian, derap langkah perjuangannya dalam karir berpolitik.

Dibalik ketegaran pria kelahiran Wonreli 20 Desember 1968 itu, ada sosok pendamping setianya adalah ibu Rely Lobloby bersama ketiga buah hatinya, yang selalu memberikan support.

Semoga tetap sabar dan kokoh melewati badai ini. Badai Pasti berlalu Pak Bupati. Yakinlah, “Tuhan tak pernah janji langit selalu biru, tetapi Dia berjanji selalu menyertai. Tuhan tak pernah janji jalan selalu rata, tetapi Dia berjanji selalu memberi kekuatan. Demikan penggalan lagu dari Edward Chen.(*)

Comment