by

BKKBN : 30 Persen Bayi Beresiko Kurang Sehat

Ambon, BKA- Sesuai data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Maluku, sebanyak 30 persen bayi beresiko tidak memenuhi standar kesehataan saat lahir. Akibat ketidaktahuan dan ketidaksiapan pasangan saat akan menikah, hingga timbul resiko kesehatan bagi ibu dan bayi yang dilahirkan.

Ketidaktahuan ini, juga dapat menurunkan kemampuan pasangan muda untuk menghasilkan generasi baru yang unggul dan berkualitas.

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (G) menyarankan, agar para pasangan usia subur (PUS) dapat menunda untuk punya momongan di masa pandemi Covid-19. Sebab, usia kehamilan muda, memiliki resiko tinggi terpapar virus Corona karena daya tahan tubuhnya menurun.

Selain itu, sebut dia, pada saat pandemi Covid-19 ini akan memberikan ujian berat bagi para wanita di masa-masa kehamilan. Yakni wanita hamil diciptakan dengan daya tahan tubuh yang menurun.

“Biasanya kalau hamil muda daya tahan tubuhnya menurun, karena ada penyesuaian tubuh ibu dengan bayi yang ada dalam kandungan,” ungkap Hasto, lewat rilisnya kepada koran ini, Kamis (7/5).

Menurutnya, untuk mewujudkan generasi Indonesia unggul, pihaknya berupaya melakukan pendekatan bagi para calon ibu dengan memberikan edukasi dan kesadaran tentang pentingnya mempersiapkan 1.000 hari pertama kehidupan bagi bayi. Agar bayi yang mereka lahirkan menjadi generasi baru yang unggul dan berkualitas.

“Banyak program yang bagus di BKKBN, namun apakah generasi muda mengetahui itu? Ini yang harus menjadi perhatian kita,” ujar Hasto.
Ia menjelaskan, BKKBN baru saja meluncurkan laman siapnikah.org (www.sispnikah.org) yang bekerja sama dengan Rumah Perubahan. Laman tersebut merupakan media edukasi mengukur kesiapan menikah bagi para remaja di Indonesia.

Laman tersebut, terdapat kuesioner yang mengukur kesiapan menikah seseorang. Selain itu, terdapat bacaan-bacaan yang bisa menjadi referensi bagi anak muda, terkait mempersiapkan diri menjadi orang dewasa yang dapat memenuhi kebutuhan.

Dengan massa pandemi Covid-19, sambung Hasto, telah memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penggunaan alat kontrasepsi pada PUS. Dan terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi, dapat menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan karena tidak teraksesnya PUS terhadap pelayanan kontrasepsi.

“Berbagai upaya telah dilakukan oleh BKKBN untuk meningkatkan awareness masyarakat Indonesia termasuk stakeholder, dan mitra kerja melalui berbagai media. Bukan hanya resiko kesehatan namun juga resiko psikologis karena kekahawatiran. Maka itu, kita harus sosialisasikan penundaan kehamilan ke masyarakat. Dan harus dikemas pula secara baik dan menarik sehingga terpahami isi pesannya,” imbuhnya.

Dikatakan, saat ini proporsi jumlah penduduk pada kelompok umur muda dan produktif sangat besar, menjadikan mereka sebagai sasaran utama program BKKBN. Dan mereka menjadi tumpuan pembangunan nasional. Sehingga BKKBN mulai merubah pendekatan program agar menjadi relevan bagi generasi milenial dan zilenial.

Ini dilakukan dengan upaya rebranding, yaitu penyegaran penampilan pada logo, tagline dan jingle. Bukan hanya itu, BKKBN juga melakukan cara pendekatan yang lebih sesuai dengan selera dan dinamika generasi millenial dan zillenial.

Diera digital saat ini, sebut Hasto, BKKBN melakukan berbagai pendekatan dan memanfaatkan media-media komunikasi untuk meningkatkan akses penyebaran informasi. Media sosial (social-media) merupakan salah satu media pilihan untuk penyampaian informasi.

Salah satu upaya yang strategis dalam penyebarluasan informasi program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan keluarga Berencana (Bangga Kencana) dengan sasaran yang luas yaitu hampir 70 juta keluarga Indonesia.

Dan 70 juta remaja Indonesia yang membutuhkan informasi Program Bangga Kencana dan cara-cara perubahan yang efektif, untuk berpartisipasi dalam pembangunan kesejahteraan, guna mewujudkan keluarga yang tentram, mandiri, dan bahagia dalam koridor Pembangunan keluarga.

“Perlu adanya penyebarluasan informasi terkait Program Bangga Kencana melalui semua media, seperti, jalur udara/ (TV, radio, website, sosmed), jalur darat (mobile, printing, billboard), jalur akar rumput (poster, booklet, merchandise),” tambahnya.

Di akhir sambutannya, Hasto berpesan, agar pihaknya menggunakan seluruh kemampuan untuk melayani masyarakat. Dengan memberikan informasi yang baik dan benar, serta menarik untuk diketahui masyarakat.

“Petakan media-media yang ada dan sesuaikan jenis media dan saluran untuk menjangkau audience. Tingkatkan kemampuan komunikasi agar menjadi komunikator yang handal. Pelajari dan kenali penerima pesan kita, sehingga pesan yang disampaikan diterima dengan baik dan dipahami,” tutup dia. (RHM)

Comment