by

BMKG : Waspada Gelombang Tinggi

Ambon, BKA- Pasca pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Regional (PSBR) di Maluku akibat pandemi Covid-19, pelayaran laut hanya dibolehkan untuk pendistribusian logistik. Untuk itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghimbau agar waspada gelombang tinggi di Maluku.

Dalam rilisnya, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Ashar menyebutkan, tinggi gelombang mencapai 2,50 hingga 4,0 meter berpeluang terjadi di laut Arafuru bagian tengah.

Sementara untuk tinggi gelombang mencapai 1,25 hingga 2,50 meter dengan kategori sedang, berpeluang terjadi di perairan Selatan pulau Buru, laut Banda, perairan Kepulauan Sermata hingga Leti, perairan Selatan Kai dan laut Arafuru bagian Barat dan Timur. Dimana kondisi ini diprakirakan akan bertahan hingga Selasa besok.

Menurutnya, terdapat dua pusat tekanan rendah di Samudra Hindia Barat Bengkulu dan perairan Kepulauan Kai-Aru. Dua sirkulasi udara terpantau di Selat Karimata dan Samudra Pasifik Utara Papua.

Sehingga pola angin di wilayah Indonesia bagian Utara umumnya dari Barat Laut hingga Timur Laut dengan kecepatan 3 hingga 25 knot.

“Kecepatan angin tertinggi terpantau di perairan Bengkulu hingga Enggano, Samudra Hindia Selatan Jawa Tengah hingga NTB, selat Makassar dan laut Arafuru. Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut,” ungkap Ashar, Minggu (3/5).

Ia menghimbau dapat memperhatikan resiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Dimana untuk perahu nelayan, kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang diatas 1,25 m. Sementara kapal tongkang, kecepatan angin lebih dari 16 knot dengan tinggi gelombang diatas 1,5 m.

Untuk kapal ferry, kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang diatas 2,5 m. Sedangkan kapal ukuran besar seperti kapan kargo atau kapal pesiar, kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang diatas 4,0 m.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi, agar tetap selalu waspada,” imbaunya.

Kepala Stasiun Meterologi Pattimura, Ot Oral Sem Wilar menambahkan, untuk kondisi cuaca terdapat sirkulasi tertutup di Utara Papua dan tekanan rendah di Papua Barat. Yang membentuk daerah belokan angin (shearline) di wilayah Maluku mengindikasikan pola angin timuran mulai terlihat dominan.

Analisis suhu muka laut, sebutnya, satu minggu terakhir di wilayah Maluku cenderung menghangat dengan nilai berkisar 29-31 derajat Celsius. Dan kelembaban udara pada lapisasn atas 850 hPa dan 700 hPa, menunjukkan kondisi yang cenderung lembab hingga basah yaitu 80-100 persen.

“Namun relatif kering di wilayah Maluku bagian tengah, diantaranya pulau Buru, pulau Ambon, Lease dan pulau Seram. Kondisi ini mengindikasikan cuaca di wilayah Maluku pada umumnya hujan ringan hingga sedang,” pungkas Ot Oral. (UPE)

Comment