by

Cabul Tiga Kali, 7 Tahun Menanti Leleury

Ambon, BKA- Aksi tak terpuji dilakoni Ronaldo Peterson Leleury alias Roni. Pemuda Desa Abubu, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) ini, terancam dipenjara selama tujuh (7) tahun, karena dia diancam Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Malteng, terbukti melakukan pencabulan terhadap korban sebanyak tiga kali.

Selain pidana badan tujuh tahun penjara, pria 45 Tahun ini juga dibebankan membayar denda sebesar Rp.60 juta subsider tiga bulan kurungan.

Hal ini disampaikan JPU, Kejari Malteng, Inggrid Louhenapessy dalam surat tuntutan yang dibacakan dipersidangan yang dipimpin ketua majelis hakim, Hamjah Kailul dibantu Lucky R. Kalalo dan Jimmy Waly selaku hakim anggota, sementara terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Alfred Tutupary.

Di dalam amar tuntutan JPU, terdakwa dinyatakan terbukti melanggar pasal 82 Ayat (1), UU Nomor 17 Tahun 2016, tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No 1 Tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU RI. No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi UU jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

“Yang memberatkan, perbuatan terdakwa membuat korban malu, sedangkan yang meringankan, terdakwa berlaku sopan dipersidangan dan mengakui perbuatannya,” tandas JPU.

Sesuai dalam dakwaan JPU menyebut, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi selama tiga kali tepatnya di awal, pertengahan, dan akhir Bulan Oktober 2019 kemarin.

Peristiwa bejat ini awalnya, terdakwa mengendarai sepeda motor melewati depan rumah korban. Korban yang melihat terdakwa kemudian menawarkan untuk sama-sama berboncengan dengan sepeda motor menuju Desa Sila, namun sampai dipertengahan jalan, terdakwa minta ganti posisi untuk korban menyetir sepeda motor. Tidak lama kemudian, terdakwa mulai merayu korban untuk melakukan aksi tak terpuji itu dipinggir jalan, sebelum terdakwa memberikan uang kepada korban.
Aksi kedua dan ketiga yang dilakukan terdakwa terhadap korban pun berlangsung di pinggir jalan.

Karena perbuatan terdakwa tercium salah satu guru di sekolah, membuat guru tersebut menanyakan hal itu kepada korban terkait hubungan korban sama terdakwa. Dihadapan sang guru, korban menceritakan apa yang sudah dialaminya kepada guru tersebut.

Merasa korban dilecehkan, dia kemudian melaporkan hal ini ke keluarga korban, kemudian keluarga korban melaporkan tindakan terdakwa di kantor Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk diproses hukum. (SAD)

Comment