by

Cinta Ditolak, Kepala KOSP Banda PHK Pegawai Kontrak

Ambon, BKA- Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Banda Naira, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Rusli Mahmud, mengambil kebijakan sepihak untuk memberhentikan lima pegawai kontrak di kantornya.

Diduga kebijakan sepihak itu lantaran cintanya ditolak oleh salah satu pegawainya, berinisial A.R.

Kebijakan pemberhentian sepihak terhadap pegawai kontrak KSOP Banda juga pernah dilakukan Rusli Mahmud kepada tiga pegawai sebelumnya. Merekapun dipecat tanpa melalui mekanisme yang benar.

Pemecatan tersebut akhirnya dipertanyakan orangtua A.R, karena dinilai tidak sesuai mekanisme dan prosedur yang tertuang dalam klausal kontrak perjanjian kerja.

“Seharusnya, kalau ada kesalahan yang dilakukan bawahan, harus mendapatkan teguran secara berjenjang. Bukan seenaknya memberhentikan begitu saja. Sebagai pimpinan, mestinya tahu aturan. Ada prosedur untuk memberhentikan pegawai. Bukan asal pecat begitu saja, tanpa ada alasan,” ujar M. Ramli selaku orangtua A.R. kepada wartawan, Kamis( 11/6).

Menurutnya, A.R salah satu pegawai kontrak yang memiliki SK resmi bersama sembilan orang lainnya, setelah lulus dalam tahapan seleksi rekrutmen pegawai kontrak.

Dalam perjanjian kontrak, kerja sama itu berlangsung selama setahun. Tetapi ditengah perjalanannya AR diberhentikan sepihak, tanpa ada alasan yang jelas dari Kepala KSOP.

Kebijakan lain yang merugikan hak-hak 10 Pegawai Kontrak pada kantor itu, yakni, adanya pemotongan gaji sebesar Rp 800.000 per masing-masing pegawai kontrak.

Uang dari pemotong gaji itu kemudian diberikan kepada lima pegawai non kontrak yang diangkat atas kemauannya sendiri.

Ironisnya, meskipun pemotongan itu atas dasar kesepakatan bersama, namun itu terpaksa dilakukan karena Kepala KSOP mengancam untuk memecat mereka yang keberatan dengan keputusannya.

Sememtara dalam pasal 6 kontrak perjanjian kerja sama tentang pemutusan hubungan kerja, menerangkan, apabila dalam masa kontrak berakhir, pihak kedua dinilai tidak dapat memenuhi tugas, kewajiban dan tanggungjawab, maka sesuai pasal empat akan dilakukan peringatan sebanyak tiga kali.

Dan apabila pihak kedua berhalangan hadir dikarenakan sakit, ijin dan sebagainya yang cukup lama menyebabkan terbengkalainya pekerjaan yang ditugaskan kepada pihak kedua, akan dibicarakan lebih lanjut

“Dalam klausal perjanjian ini jelas. Pemberhentian pegawai itu baru bisa dilakukan ketika melanggar ketentuan-ketentuan yang disepakati. Itupun ada aturan mainnya, dimana mereka harus diberikan peringatan sebanyak tiga kali,” tegas Ramli.

Ia mengaku, A.R selama melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya berjalan dengan baik sejak diangkat sebagai pegawai kontrak KSOP Kelas IV Banda Naira.

“Kita ini orangtua. Kita bisa mengetahui hal-hal seperti itu (cinta, red-). Tapi jika memang ada kaitannya, maka itu adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala KSOP Banda Rusli Mahmud berdalih, tidak melakukan pemecatan, melainkan mengistirahatkan pegawainya dengan alasan etika.

“Saya telah umumkan saat apel, bahwa AR dan rekannya sementara diistirahatkan. Ini bertujuan agar sebagai pimpinan, saya dapat menilai kembali prilaku mereka. Aapakah selama di rumah mereka berubah atau tidak,” dalih Rusli.

Rusli mengaku, ada dua hal penting yang dinilai pimpinan terhadap pegawai. Diantaranya, kedisiplinan, kinerja dan etika.

“Nah, pemberhentian yang saya lakukan terhadap A.R itu bukan lantaran dia melanggar disiplin dan kinerjanya tidak bagus,”akui Rusli.

Dia juga tak bisa mengelak soal kebijakan pemecatan sepihak yang dilakukannya kepada para pegawai sebelumnya. “Iya memang sebelumnya saya juga memecat mereka. Sementara pegawai lainnya karena pelanggaran yang mereka lakukan. Diantaranya, ada yang menipu saya, katanya sedang di kantor, tapi saat dicek tidak ada. Sementara dua
orang yang saya pecat lebih awal itu memang tidak bisa ditoleril, mereka ribut soal gaji, padahal baru kerja dan itu kurang bagus,” pungkasnya.(RHM)

Comment