by

Data Ekonomi RI Buruk, Rupiah Dekati Rp14.800 per Dolar AS

Jakarta, BKA- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.799 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (9/9) sore. Mata uang garuda melemah 34 poin atau 0,23 persen dibandingkan kemarin sore, yaitu Rp14.765.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.853 per dolar AS atau melemah dari Rp14.798 per dolar AS pada Selasa (8/9).

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama won Korea Selatan minus 0,21 persen, peso Filipina minus 0,19 persen, ringgit Malaysia minus 0,08 persen, dan yuan China minus 0,03 persen.

Sisanya, para mata uang Asia menguat dari dolar AS, seperti rupee India 0,07 persen, dolar Singapura 0,04 persen, yen Jepang 0,03 persen, dan baht Thailand 0,02 persen. Hanya dolar Hong Kong yang stagnan.

Para mata uang utama negara maju juga bergerak variasi. Poundsterling Inggris melemah 0,26 persen, euro Eropa minus 0,06 persen, dan franc Swiss minus 0,01 persen.
Namun, rubel Rusia menguat 0,39 persen, dolar Australia 0,24 persen, dan dolar Kanada 0,05 persen.

Analis sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena pasar tertekan sentimen anjloknya data penjualan eceran pada Juli 2020. Tercatat, Indeks Penjualan Riil (IPR) terkontraksi 12,3 persen secara tahunan.

Bahkan, Bank Indonesia (BI) memperkirakan penjualan eceran akan tetap terkontraksi sekitar 10,1 persen pada Agustus 2020. “Artinya, permintaan memang betul-betul lemah,” kata Ibrahim.

Selain itu, mata uang Garuda juga terpapar sentimen pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyatakan kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan, sehingga harus tanggap dengan paket kebijakan yang dikeluarkan. Di sisi lain, jumlah kasus terus meningkat dari hari ke hari di Indonesia.

Dari global, sentimen pergerakan mata uang berasal dari pandangan bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB) yang terus mencermati pergerakan kurs euro di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Ditambah lagi, sentimen penantian terhadap cetak biru perjanjian kerja sama Inggris dengan negara-negara Eropa setelah keluar dari Uni Eropa. (INT)

Comment