by

Dinas Temukan Kendala Belajar Daring

Ambon, BKA- Akibat pandemi Covid-19 dengan status zona orange, Pemerintah Kota Ambon telah menerapkan kurikulum berbasis daring untuk tahun ajaran 2020/2021. Namun Dinas Pendidikan Kota Ambon masih menemukan berbagai kekurangan yang dialami siswa maupun guru.

Diantaranya keterbatasan smartphone hingga jaringan internet untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara online atau daring. Untuk itu, Dinas Pendidikan sementara berupaya untuk memfasilitasi siswa maupun guru yang belum memiliki kelengkapan tersebut.

Dengan melakukan pendataan terhadap guru dan siswa pada sekolah swasta maupun negeri yang ada di kota Ambon. Untuk nantinya membantu melengkapi sarana tersebut dalam menunjang kurikulum berbasis daring.

“Ada 200 sekolah itu yang sudah terdata. Bukan siswa saja, tapi kami juga mendata guru-guru yang tidak punya android,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, Fahmy Salatalohy, saat ditemui koran ini, Selasa (4/8).

Menurut Fahmy, secara umum proses belajar daring sebenarnya sudah berjalan diakhir tahun ajaran 2019-2020, walau disadari sungguh masih ada berbagai kekurangan. Akan tetapi, banyak sekolah selalu berinovasi untuk bagaimana bisa merangsang siswa belajar lewat daring.

Namun banyak kekurangan pada siswa-siswi yang tidak memiliki fasilitas smartphone dan keterbatasan jaringan internet.

“Kemudian wilayah-wilayah yang jaringan internetnya masih tersendat-sendat itu kekurangannya. Kemudian ada orang tua yang anaknya sekolah sampai tiga orang, dan pada saat ujian itu mereka butuh android. Jadi kalau seperti itu, sangat kesulitan. Makanya kita sementara mendata siswa miskin dan bekerjasama dengan teman-teman di Pemeritnah Kota dan kemungkinan di tahun ajaran baru ini sementara diupayakan,” terangnya.
Ia mengaku, ada kemungkinan untuk Pemerintah Kota Ambon menggunakan dana desa (DD) guna mendorong pemberlakuakn siswa-siswi di desa untuk menyesuaikan proses belajar mengajar melalui kurikulum berbasis daring di Kota Ambon.

Karena untuk mengembangkan pendidikan demi menghidupkan anak bangsa, lanjut dia, bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota lewat Dinas Pendidikan. Tetapi seluruh pihak, termasuk pemerintah desa atau negeri yang ada.

Dan saat ini sementara diupayakan untuk bagaimana siswa tidak bergantung pada smartphone saja, tetapi perlu langkah alternative seperti belajar melalui TV kabel lokal.

“Bisa juga kita menggunakan android dan bisa juga kita gunakan alternatif lain seperti TV kabel. Ada dua alternatif itu, kalau TV kabel seluruh program pembelajaran itu dibuat dalam bentuk feature video. Dan itu dimuat di TV kabel. Dan pada saat pembelajaran siswa hanya menerima pembelajaran itu dari tv kabel itu. Tapi ini tidak mudah dan butuh akurasi data,” imbuh Fahmy. (BKA-1)

Comment