by

Direktur PT. Papua Citra Buana Akui Ditipu

Ambon, BKA- Direktur PT. Papua Citra Buana. Adiyohana, mengakui dipersidangan kalau menjadi korban penipuan dan penggelapan Mobil yang dilakukan terdakwa Hidayat Palembang.

Hal ini diungkapkan Adiyohana ketika di hadirkan di persidangan lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangannya sebagai saksi korban dalam kasus pembelian mobil tersebut.

Sidang lanjutan yang digelar secara virtual tersebut, dipimpin Jenny Tulak didampingi Felix Wiusan dan Esau Yerisitouw selaku hakim anggota, Selasa (21/7) lalu. Didepan majelis hakim, Adiyohana mengakui, mengalami kerugian hingga Rp. 200 juta.

Dia mengaku, merasa prihatin ketika ditawari mobil oleh terdakwa.
Saat itu, terdakwa datang menemuinya membawa satu unit Mobil Hilux Doble Cabil dengan nomor polisi DE8834. Terdakwa lalu mengatakan akan menjual mobil karena sedang membutuhkan uang dengan harga Rp. 275 juta.

“Jadi waktu itu, saya bilang saya tidak punya uang, tapi terdakwa bilang tidak apa-apa dicicil saja karena dia butuh uang. Ternyata dibelakang, terdakwa tidak taati kesepakatan kami, makanya saya merasa rugi dan melaporkan hal ini ke pihak berwajib,” tandasnya.

Kasus ini sesuai dakwaan JPU menyebutkan, terdakwa Hidayat Palembang (46), warga Dusun Bara, Desa Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku itu tertangkap pada Sabtu 12 Januari 2019 sekitar pukul 10.00 Wit, di Jalan Dermaga Kota Namlea Kabupaten Buru.

Kasus ini bermula, ketika terdakwa bersama Adisucipto (DPO) datang menemui saksi korban Adi Yoana membawa satu unit Mobil Hilux Doble Cabil dengan nomor polisi DE8834 di Kantor Cabang PT. Papua Citra Buana Jalan Dermaga Kota Namlea, Rabu 12 Desember 2018 sekitar pukul. 7.00 Wit.

Disana, terdakwa mengatakan akan menjual mobil karena sedang membutuhkan uang dengan harga Rp. 275 juta. Lalu korban mengatakan tidak memiliki uang sebanyak itu. Dia bilang hanya memiliki Rp. 100 juta. Terdakwa pun membolehkan korban mengambil mobil serta BPKP, dengan melunasi sisanya pada Juli 2019.

Setelah mendengar penjelasan itu, saksi korban langsung menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp.100 juta. Terdakwa lalu menyerahkan STNK Asli, Buku Kir Asli serta dibuatkan berita serah terima kendaraan diatas meterai 6000 yang ditandatangani oleh terdakwa dan korban.

Korban menyadari nama di STNK bukan milik terdakwa, melainkan nama orang lain, Timo Gozali. Dia pun menanyakan hal tersebut kepada terdakwa. Terdakwa lalu menyatakan sudah membelinya dari Timo. Terdakwa bahkan menawarkan diri akan mengurus pengalihan nama untuk saksi korban.

Selanjutnya, pada Selasa 8 Januari 2019, terdakwa menelpon korban yang sedang berada di Jakarta. Terdakwa meminta kepada korban untuk mengirimkan sisa uang penjualan mobil tersebut sebesar Rp.175 juta.

Lalu dijawab korban akan dilunasi pada bulan juli. Karena terdakwa mengatakan ada keperluan mendesak, korban pun mentransfer uang Rp. 25 juta ke rekening terdakwa.

Pada 12 Januari 2019, terdakwa datang ke kantor korban untuk mengambil mobil.

Saat itu, korban masih berada di Jakarta. Terdakwa mengambil kunci mobil dan mengatakan uang yang sudah terbayar sebagai uang sewa lalu membawa pergi mobil. Atas kejadian tersebut, korban mengalami kerugian senilai Rp. 200 juta. (SAD)

Comment