by

Dolar AS Tertekan, Rupiah Melenggang ke Rp14.395

Ambon, BKA- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.395 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (9/7) sore. Mata uang Garuda menguat 15 poin atau 0,1 persen dibandingkan Rp14.410 pada hari sebelumnya.
Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.466 per dolar AS atau melemah tipis dari Rp14.460 per dolar AS pada Rabu (8/7).

Di kawasan Asia, rupiah menguat bersama mayoritas mata uang lain. Ringgit Malaysia menguat 0,25 persen, yuan China 0,24 persen, peso Filipina 0,17 persen, baht Thailand 0,06 persen, dan rupee India 0,03 persen.

Sedangkan sisanya melemah dari dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,04 persen, won Korea Selatan minus 0,03 persen, dan yen Jepang minus 0,02 persen. Hanya dolar Hong Kong yang stagnan dari dolar AS.

Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas berada di zona hijau. Rubel Rusia menguat 0,62 persen, poundsterling Inggris 0,25 persen, dolar Kanada 0,13 persen, dolar Australia 0,11 persen, euro Eropa 0,03 persen, dan franc Swiss 0,02 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong mengatakan banyak mata uang di dunia berhasil menguat dari dolar AS karena sentimen negatif tengah menekan mata uang Negeri Paman Sam. Mulai dari tingginya jumlah kasus baru virus corona (covid-19) hingga proyeksi lemahnya perekonomian AS ke depan.

Belum lagi, stimulus ekonomi dari pemerintah dan bank sentral AS, The Federal Reserve, yang terus mengalir turut memberi sinyal perekonomian belum siap membaik dalam waktu dekat.

Padahal, pelonggaran penguncian wilayah (lockdown) dan aktivitas ekonomi sudah berlangsung. “Sentimen masih sama, teknikalnya dolar AS sangat tertekan terhadap semua mata uang saat ini,” kata Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Namun, sambung dia, pelemahan dolar AS tak cukup bisa menguatkan rupiah karena kurang sentimen dari dalam negeri.

Saat ini, sentimen ekonomi masih cenderung datar karena belum ada terobosan baru dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

“Pasar masih lebih condong memperhatikan kondisi global,” pungkasnya. (INT)

Comment