by

Dua Proyek PLN UIP Maluku Jalan Ditempat

Ambon, BKA- Sungguh disayangkan, setelah dilakukan eksplorasi dengan menghabiskan uang negara ratusan juta rupiah, malah dua mega proyek PT PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Maluku, belum bisa dioperasikan alias jalan ditempat.

Dua mega proyek tersebut, yakni, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suli dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Tulehu, yang terletak di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Memang sebelumnya, kedua mega proyek tersebut sudah terkendala dengan persoalan sengketa lahan sejak tahun 2016. Saat itu, PLN Wilayah M2U berada dibawa kepemimpinan Indrandi Setiawan. Bahkan setelah dialihkan ke PLN UIP Maluku, kedua proyek tersebut sudah juga tidak bisa diselesaikan.

Komisi II DPRD Maluku, sempat juga mempertanyakan lewat pertemuan bersama dengan PLN UIW dan UIP Maluku, yang berlangsung diruang paripurna, Rabu (9/9).

Namun karena waktu, maka Komisi II belum sempat meminta penjelasan pihak PLN UIP Maluku, kenapa kedua proyek tersebut belum bisa diselesaikan.

Terkait belum selesainya kedua proyek PLN itu, Manager Operasi Konstruksi PLN UIP Maluku, Muhammad Yusuf, yang sempat dikonfirmasi koran ini, mengatakan, awalnya PLN telah merencanakan proyek itu dengan kapasitas besar, yakni, 35 Megga Watt (MW).

Tapi karena masalah pandemi Covid-19, maka rencana itu ditinjau kembali. “Jadi dulu, setelah kita rencanakan, bakal ada 35 MW. Ternyata, dengan alasan perekonomian, apalagi dengan kondisi pandemi Covid-19, kita harus tinjau ulang lagi. Apa bisa diselesaikan di tahun 2022 atau tidak. Jadi kita harus review kembali dan mengatur schedule untuk target penyesuaiannya,” ujarnya.

PLTP Tulehu, kata Yusuf, merupakan proyek yang langsung berhubungan dengan bawah tanah. Sama halnya dengan Pertamina, yang harus melakukan eksplorasi. Namun hasilnya tidak sesuai dengan target 35 MW, tapi hanya bisa menghasil potensialnya 5 MW, dengan jenjang waktu hanya selama 10 tahun.

Lanjutnya, meskipun sudah dilakukan eksplorasi kembali dititik lokasi lain, hasilnya tetap sama. Termasuk yang ada di lokasi Suli.

“Kalau hasilnya cuma 5 MW, jadi kalau investasi nilainya hanya dipakai 10 tahun, jadi mahal. Sementara yang kita butuhkan 2 kali 10 MW. Sehingga proyeknya tidak bisa dilanjutkan, tapi hari dikaji ulang,” ucapnya.

Khusus PLTU Waai, masuk dalam kajian PLN pusat lantaran proses tendernya berlangsung di pusat.

Seperti yang diketahui, proyek PLTU Suli dikembangkan untuk menambah pasokan listrik di daerah Pulau Ambon, dan akan bekerja sama dengan JICA dari Jepang.

PLN sendiri juga sudah melakukan pengujian uap yang keluar dari satu titik pengeboran. Hanya saja, uap air yang keluar itu belum kontinu.

Kemudian air yang keluar juga memiliki suhu yang tertinggi pada alat deteksinya. Sedangkan suhu air sendiri pada pembuangan, terukur 86 derajat. Sehingga dilakukan proses selanjutnya.

Sama halnya dengan PLTP Tulehu yang memaksimalkan penggunaan Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai bagian dari pembangunan program 35.000 MW dengan kapasitas 2 kali 10 MW.

Proyek yang dibangun diatas lahan seluas 1.920 Ha, awalnya juga ditargetkan beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date /COD) di tahun 2019, yang akan memperkuat sistem kelistrikan di Pulau Ambon.(RHM)

Comment