by

Dusun Taeno Lakukan Program Pengendalian Inflasi

Ambon, BKA- Dusun Taeno Desa Rumah Tiga Kecamatan Teluk Ambon memiliki program pengendalian inflasi berupa perkebunan yang ditanami sayur-sayuran. Bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) dan Dinas Pertanian, perkebunan di Taeno berusaha dikembangkan menjadi lebih baik.

Letaknya yang berada di daerah pegunungan membuat Dusun Taeno memilki banyak lahan untuk dibudidayakan dengan tanaman. Melihat potensi yang ada, Dinas Pertanian dan BI membuat klaster untuk setiap kelompok tani yang ada. Sekali dalam setahun BI memberikan bantuan berupa bibit yang bisa ditanam dan pupuk untuk digunakan petani.

Perkebunan yang ada juga menjadi lapangan pekerjaan bagi mereka yang bisa bercocok tanam. Pemilik perkebunan mengakui bahwa pemasukan yang didapat bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para petani.

“Saya sudah mengelolah perkebunan ini dari tahun 2014. Untuk modal dari keluarga sendiri, hanya mungkin bantuan dari Dinas Pertanian seperti bibit, alat dan lain-lainnya. Tanaman yang ditanam di kebun saya rata-rata berupa sayur yang berbuah seperti cili, terong, mentimun, dan lainnya.

Kalau tanaman sayur palingan untuk dimakan keluarga saja. Kelompok tani saya kebanyakan ibu rumah tangga dan jumlahnya 15 orang, keuntungan yang didapat dari jual sayur kita bagi dengan adil,” tutur Rasyd selaku pemilik perkebunan gapoktan Bukit Barisan, Dusun Taeno.

Perkebunan di Taeno memiliki daya tarik sendiri sehingga dilirik oleh beberapa kalangan seperti BI sehingga BI mendirikan klaster untuk kelompok tani. Perkebunan ini juga pernah mengikuti seleksi lomba perkebunan tingkat nasional dan berhasil memasuki babak 2 besar.

Lulus penilaian lahan membuat perkebunan di sini berhasil mengalahkan provinsi yang lain. Bukan tanpa sebab melainkan perkebunan ini merupakan lahan tidur yang berhasil dikelola menjadi perkebunan yang subur walaupun kurangnya pengairan. Kapolda pada tanggal (9/7) kemarin sempat berkunjung untuk menanam bibit jagung bersama petani.

“Dari 34 provinsi di Indonesia, kami mengikuti lomba dan Ambon dalam hal ini mewakili provinsi Maluku masuk dalam dua besar. Itu pada tahun 2016. Kami lulus seleksi tanah perkebunan karena berhasil memanfaatkan lahan tidur yang tidak mungkin menjadi perkebunan menjadi perkebunan yang bisa menghasilkan. Kalau didaerah lain perkebunan memiliki kondisi yang memungkinkan, berbeda dengan kami yang merupakan daerah kurang air. Jika sudah musim kemarau maka kami akan sangat kesulitan.

Misalnya saja kemarin ada kunjungan dari Kapolda untuk menanam bibit jagung bersama kelompok tani yang ada di sini. Selain itu juga sudah beberapa kali ada mahasiswa yang melakukan penelitian untuk skripsinya di perkebunan sini,” tambah Rasyid

Rasyid juga mengakui ada kendala yang ditemui saat membuka perkebunan. Masalah irigasi atau perairan menjadi salah satu masalah yang ada, walaupun di daerah pegunungan Dusun Taeno tetap kesulitan air untuk perkebunan. Para petani berharap pemerintah bisa mengerti permaslahan tersebut walaupun untuk pembangunan pipa air membutuhkan dana yang besar. Selain permasalahan air ada juga persoalan lahan. Para petani khawatir jika kedepannya ada pembangunan gedung sehingga lahan untuk pertanian semakin sempit.

“Pengembangan untuk pertaninan tidak bisa berkembang karena lahan yang semakin sempit. Misalnya saja perkebunan yang di Desa Nania yang sudah ditutup, dan ada berbagai lahan pertanian yang ditutup akibat pembangunan gedung. Saya dan para petani hanya berharap semoga pemerintah bisa menyediakan lahan khusus untuk pertanian sehingga tidak bisa tutup hanya karena pembangunan perusahaan dan gedung-gedung. Bagaimana pun Ambon tetap membutuhkan sayur yang dari daerah Ambon sendiri,” pungkasnya. (MG-1)

Comment