by

Empat Golongan Manusia

Sartono A. Sanusi, S.Pd.I, M.Pd
(Mudirul MIT Daarun Na’im Wayame-Ambon)

Ambon, BKA- Menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, saatnya umat Islam bermuhasabah tentang kualitas ibadah yang dilakukan di bulan suci tersebut. Secara kuantitas, umat Islam sudah berlomba dengan berbagai ibadah wajib dan sunah. Puasa, shalat, zakat, membaca Qur’an, i’tikaf dan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan harus dievaluasi agar di Ramadhan yang akan datang bisa lebih baik lagi.

Allah SWT yang telah memilih manusia menjadi sebaik-baiknya ciptaan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S. Attin:4). Dan Allah SWT memberikan otoritas kepada Manusia untuk mengubah dirinya dengan kemauan dan kemampuan yang diberikan kepadanya. Seungguhnya Allah swt tidak merubah nasib sebuah kaum sehingga ia mau merubah dengan dirinya sendiri (Q.S. Arra’du:11).

Allah SWT tidak memberikan nikmat ini kepada selain manusia. Maka dari itu, marilah perbanyak syukur dengan semua keadaan yang kita miliki. Dan senantiasa berharap dan memohon petunjuk dari Allah SWT, agar kita menjadi orang yang selamat dunia dan akhirat.

Hidup ini adalah pilihan. Jika hidup ini adalah pilihan, maka pastikanlah kita memilih yang benar dan tepat, sehingga apa yang menjadi tujuan kita hidup, tergapai dengan paripurna dan tidak mengecewakan. Karena hidup yang kita punya adalah kesempatan yang tidak diberikan kedua kalinya, maka hidup ini juga sekaligus sebagai modal. Dalam pepatah arab disebutkan “Man zaro’a hashoda” yang artinya siapa menanam maka ia akan menuai.

Imam Al-Ghozali menyebutkan manusia digolongkan menjadi empat golongan. Antara lain: “Sa’idun fiddun-ya wa syaqiyun fil akhiroh” yang berarti orang yang bahagia didunia, tapi cilaka diakhirat.

Golongan ini adalah sekelompok manusia yang prinsip hidupnya hanya disandarkan untuk kepentingan dunia saja dia tidak mendapatkan petunjuk untuk kehidupan akhiratnya padahal dunia hanyalah sementara dan akhirat adalah selama-lamanya.

Allah SWT melalui firmanya menceritakan tentang Raja Fir’aun, yang kehidupanya dipenuhi dengan kekuasaan dan kemegahan, serta semua keinginanya telah dipenuhi oleh Allah SWT. Namun dia tidak mau bersyukur atas nikmat yang telah ia peroleh, sehingga ia tidak mau mengikuti kata Nabi Musa a.s untuk menyembah sang pemberi nikmat, karena hakikatnya semua kenikmatan dunia ini adalah hanya amanah yang diberikan dan kelak akan dimintai pertanggung jawabanya.

Seperti halnya Qorun, manusia yang tadinya miskin dan melarat, serta menderita. Namun karena rahmat Allah SWT, ia diberi kehidupan dunia yang berlebih. Tapi sayangnya, ia lalai sehingga Allah SWT menenggelamkanya kedalam tanah beserta harta yang dia usahakan.

Dan apakah kita akan menjadi fir’aun dan Qorun zaman modern? Cukuplah dua sosok itu menjadi ibroh (pelajaran), agar kita hidup tidak hanya mementingkan kehidupan di dunia.

Golongan masnusia yang berikut adalah “Syaqiyun fiddun-ya wa syaqiyun fil akhiroh”, yang berarti orang yang cilaka didunia dan cilaka diakhirat.

Golongan kedua ini apakah ada? Tentu jawabanya adalah ketika kita melihat tayangan di media atau bahkan terkadang kita melihat sendiri orang yang dalam kehiduan dunianya serba kekurangan dan tidak jelas arah tujuan hidupnya, namun heranya orang-orang seperti ini diajak menuju hidayah Allah pun tidak mau, untuk makan saja susah tapi hobinya mabuk-mabukan, judi, dan lain sebagianya na’udzubillah semoga Allah swt membimbing kita agar dijauhkan dari golongan ini. Didunia sengsara di akhirat menderita. Seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula artinya rugi berlipat.

Golongan manusia berikutnya adalah “Syaqiyun fiddun-ya wa sa’idun fil akhiroh” artinya orang yang cilaka didunia tapi bahagia diakhirat.

Kita harus berhati-hati dengan golongan ketiga ini karena bisa jadi orang dengan model ini Nampak kehidupanya di dunia serba menderita, anggap saja untuk makan sehari-hari susah bahkan dia tidak punya rumah layak, apalagi kendaraan, namun orang yang seperti ini bisa jadi doa-doanya langsung tembus kepada Allah SWT, karena begitu dekatnya dia dengan Allah SWT, walaupun serba kekurangan tapi tidak pernah lalai akan kewajiban terhadap penciptanya barangkali tidak seperti kita, yang mungkin harta pas-pasan tapi doa dan ibadah kita tidak kunjung diijabah oleh Allah SWT, karena kelalaian dan kurangnya dekat dengan Allah SWT. Orang seperti ini sangat paham, bahwa hidup di dunia ini sementara dan akhirat adalah tujuan hidupnya. Di zaman Nabi Muhammad SAW, ada sahabat namanya Uwais Al-Qorni. Dia adalah seorang penggembala kambing, hidupnya susah. Kerjaanya hanya mengurus ibu dan kambingnya, namun apa yang terjadi, Rasulullah SAW walaupun belum pernah ketemu Uwais, Rasulullah SAW berwasiat pada Sahabat Umar dan Ali Radiyallahu ‘anhuma, jika engkau bertemu Uwais sepeninggalku, maka mintalah doa istighfar kepadanya. Karena dia adalah salah satu penghuni langit (Ahli surga yang diridoi Allah SWT).

Maka berhati-hatilah dengan sesama, jangan memandang rendah seseorang karena tidak punya harta dan jabatan. Karena kita tidak tau, jangan-jangan kedudukan dia lebih mulia di sisi Allah SWT dan doanya lebih diijaah.

Goloangan manusia yang terakhir adalah “Sa’idun fiddun-ya wa sa’idun fil akhiroh” yang memiliki arti orang yang bahagia didunia dan bahagia diakhirat. Golongan ini adalah dambaan setiap insan, sesuai dengan doa yang kita panjatkan setiap waktu, yakni, Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar.

Kita ingin menjadi orang bahagia, sukses, tenang, tentram didunia dan akhirat, mungkin gambaranya adalah rumah mewah, kendararaan mewah, rumah tangga sakinah mawadah warohmah, anak-anak yang soleh-solehah, dan istiqomah serta mudah dalam ibadah.

Jika ingin seperti itu, sebenarnya kita kembali kedoa tersebut dan renungkanlah, dan jawabanya adalah kita harus seimbangkan antara urusan dunia dan amal untuk bekal kehidupan akhirat.

Kerja keras, kerja tuntas nikmati dan syukuri pemberian Allah swt dan jangan lupa tetap beribadah kepada Allah SWT serta menghadirkan Allah dalam setiap yang dilakukanya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah jaga hubungan dengan Allah swt dan bermanfaat lebih banyak untuk orang lain.

Pada akhirnya pilihan hidup di kembalikan kepada masing-masing, Allah SWT sudah membekali kita dengan kekuatan dan kemampuan serta pilihan. “Man jadda wa jadda” Siapa sungguh-sungguh maka ia akan sukses.(**)

Comment