by

Erick Thohir Mau TKI Bisa Ikut Kartu Prakerja

Jakarta, BKA- Menteri BUMN Erick Thohir mau para Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bisa mengikuti program kartu prakerja. Begitu juga dengan program pemerintah lain, seperti bantuan usaha mikro hingga padat karya tunai (PKT).

Menurut Erick, akses bagi para pekerja migran ke program-program tersebut perlu diberikan. Sebab, tekanan ekonomi di tengah pandemi virus corona atau covid-19 tidak hanya berdampak pada pekerja di dalam negeri, tapi juga pekerja migran yang selama ini menggantungkan pendapatan di luar negeri.

Sayangnya, ketika pandemi corona menyebar di berbagai negara, tak sedikit para pekerja migran yang kehilangan pekerjaan dan harus kembali ke Tanah Air. Sementara saat ini, program kartu prakerja diprioritaskan untuk pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di dalam negeri.

“Kita harus siapkan supaya kartu prakerja bisa dikerja samakan dengan PMI,” ungkap Erick saat berkunjung ke Kantor BP2MI, Jakarta, Selasa (18/7).

Untuk itu, Erick mendorong Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto agar para pekerja migran bisa diberi akses mengikuti program tersebut.

Erick belum memberi penjelasan lebih lanjut mengenai seberapa besar peluang dan serapan pekerja migran di kartu prakerja nanti.

“Saya sangat menyarankan BP2MI segera melakukan kerja sama dgn Pak Menko untuk sinergikan data, karena kadang karena ego sektoral, kita tidak mau satukan data, padahal programnya bagus. Kebetulan saya Ketua Pelaksana (Penanganan Covid-19 dan Transformasi Ekonomi), saya akan support untuk penggabungan data,” katanya.

Tak hanya ke program kartu prakerja, Erick bilang para pekerja migran sejatinya bisa juga mengikuti program lain yang sudah dimiliki pemerintah. Misalnya, bantuan modal untuk usaha mikro sebesar Rp2,4 juta per penerima hingga program PKT di desa.

“Nanti ke depan kalau pasarnya siap (untuk PMI kembali ke luar negeri), kami bisa maksimalkan. Kalau pasarnya belum siap, butuh waktu 1 tahun-2 tahun, ya tadi, negara hadir dengan program-program yang pemerintah sudah luncurkan sekarang,” terangnya.

Lebih lanjut, Erick meminta para BUMN untuk ikut membantu pekerja migran. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan karena pekerja migran merupakan penyumbang devisa bagi Indonesia.

Kebetulan, hari ini telah dilangsungkan penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara tiga BUMN untuk mendukung fasilitas dan layanan kepada pekerja migran. Tiga perusahaan pelat merah itu adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Pos Indonesia (Persero).

“Mudah-mudahan ini bukan lip service saja, tetapi konkret dan bisa memastikan PMI bisa kita support maksimal,” jelasnya.

Fasilitas dan layanan itu terkait pendidikan dan pelatihan kerja bagi calon PMI, keberangkatan dan kepulangan, remitansi, dan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro, pelatihan kewirausahaan, serta promosi produk purna PMI.

Sebelumnya, fasilitas keberangkatan dan kepulangan telah diberikan oleh PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero).

“Sehingga ini membantu mereka saat merantau maupun kembali ke Tanah Air. Saya juga pernah jadi pekerja migran, waktu mengurus klub basket di Amerika dan klub bola di Itali. Jadi, saya sebetulnya ikut merasakan, seperti apa kerja di luar negeri. Kadang kita suka dianggap sebelah mata, sampai mereka melihat hasil kerja kita,” ucapnya.

Sementara, Kepala BP2MI Benny Ramdhani mengatakan kerja sama ini diharapkan bisa semakin memberi kenyamanan bagi pekerja migran yang selama ini menjadi pahlawan devisa bagi Indonesia. Catatannya, devisa dari pekerja migran mencapai Rp159,7 triliun pada tahun lalu.

“Ini hampir setara dengan sumbangan dari sektor migas,” ujar Benny pada kesempatan yang sama.

Lebih lanjut, kerja sama ini diharapkan bisa memaksimalkan dampak ekonomi dari para pekerja migran untuk usaha di dalam negeri. Khususnya di bidang remitansi, sehingga tidak perlu bekerja sama dengan pihak asing.

“Saya ingin menyatakan say good bye kepada bank yang tidak berbendera nasional, say good bye untuk Western Union, say good bye untuk penerbangan ke luar negeri di luar penerbangan nasional atau berbendera merah putih,” tandasnya. (INT)

Comment