by

Farrahdhiba Yusuf Dituntut 20 Tahun Bui

Ambon, BKA- Farrahdhiba Yusuf terdakwa utama kasus dugaan tipikor dan tindak pidana pencucian uang di BNI Cabang Utama Ambon, dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku dengan penjara selama 20 tahun, pada sidang yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Ambon, Jumat (24/7).

Sidang dengan agenda tuntutan JPU tersebut berlangsung secara online, dipimpin Ketua Majelis Hakim, Pasti Tarigan, dibantu Benhard Panjaitan dan Jefry S Sinaga selaku Hakim Anggota. Sedangkan terdakwa Farrahdhiba Yusuf didampingi kuasa hukumnya, Edward Diaz Cs.

Di dalam amar tuntutan JPU, wanita yang bermukim di desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, ini juga dibebankan membayar denda sebesar Rp 1 miliar, subsider enam bulan kurungan, serta diharuskan membayar uang pengganti sebesar Rp. 49 miliar lebih, yang apabila uang pengganti tersebut tidak diganti, maka harta benda terdakwa akan disita dan dilelang untuk menggantikan uang pengganti tersebut, jika terdakwa tidak memiliki harta benda, maka dipidana selama 10 tahun penjara.

Selain terdakwa utama Farrahdhiba Yusuf selaku Wakil ketua pemasaranBNI Cabang Utama Ambon, lima rekan terdakwa lainnya dituntut secara variatif.

JPU menuntut terdakwa Marce Muskitta alias Ace, selaku Pemimpin kantor Cabang Pembantu (KCP) Masohi dengan ancaman penjara selama 11 Tahun, denda sebesar Rp 500 juta, subsider tiga bulan kurungan, kemudian dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 75 juta, dan apabila uang pengganti tidak dibayarkan, maka diganti dengan pidana subsider selama lima tahun enam bulan kurungan.

Terdakwa Krestianus Rumahlewang alias Kres KCP Tual dituntut penjara selama 13 tahun penjara, denda Rp 500 juta, subsider tiga bulan kurungan. Dia juga dibebankan membayar uang pengganti sebesar Rp 50 juta.

Selanjutnya. untuk terdakwa Andi Yahrizal Yahya alias Calu selaku pimpinan Kas BNI Pasar Mardika, dituntut penjara selama 15 tahun penjara, denda sebesar Rp 500 juta, subsider tiga bulan kurungan. Sedangkan terdakwa Soraya Pelu alias Ola dituntut penjara selama 20 tahun, denda Rp1 miliar, subsider enam bulan kurungan.

Keenam terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan turut serta sebagai terbukti melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 ayat (1) ayat (2), dan ayat (3) UU nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU nomor 31 Tahun 1999 tentang tipikor jo pasal 55 ayat (1) ke -1 KUH Pidana Jo pasal 64 ayat (1) KUH Pidana.

Selain itu, terbukti melanggar pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencurian uang jo pasal 55 ayat (1) k2-1 KUH Pidana jo pasal 64 ayat (1) KUH Pidana.

JPU dalam berkas tuntutannya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan para terjadi awalnya terdakwa utama Fara pada Tahun 2012 menjabat selaku Karyawan BNI Ambon.

Saat itu, dia menawarkan kepada beberapa nasabah yang dianggap sebagai nasabah prioritas suatu investasi dalam bentuk program cashback, yakni penempatan dana pada produk tabungan dan deposito di BNI, dengan menjanjikan pemberian imbal hasil (return) dan bonus hingga mencapai 20 persen perbulan.

Dari nominal penempatan dana dan juga menawarkan investasi yang ditempatkan pada perdagangan hasil bumi (cengkeh), dengan presentase keuntungan tertentu yang dijanjikan, kemudian program-program tersebut seolah-olah adalah produk resmi dari PT BNI Ambon. Padahal BNI tidak pernah mengeluarkan program dimaksud,.melainkan program yang hanya dibuat terdakwa Fara untuk kepentingan pribadinya.

Selanjutnya terdakwa Fara pernah menawarkan beberapa program kepada nasabah pada tahun 2012 selaku custoner service di KCP Waihaong kepada nasabah-nasabah dengan program Tabungan Taplus modal, tabungan deposito,dengan nilai nominal uang berkisar puluhan miliaran (terlampir dalam dakwaan).

Selanjutnya, pada Tahun 2013-2014 sampai 2015, Fara menjabat selaku KCP Kas Mardika, dirinya pun turun melakukan program tersebut dengan berbagai jenis tabungan dengan nilai uang ratusan miliar.

Kemudian atas perbuatan yang dilakukan para terdakwa lain secara bersama-sama melakukan tindak pidana kejahatan bersama, yakni, terjadi setoran uang tanpa diketahui fisik uang pada KCP Tual sebesar Rp. 19.800.000,00., KCP Masohi sebesar Rp. 9.500.000.00., KCP Aru sebesar Rp. 29.650.000.000.00, sehingga terjadi kerugian pada bank BNI Cabang Utama Ambon sebesar Rp.58,950.000.000.

Dari uang-uang tersebut,terdakwa utama Farrahdhiba Yusuf yang saat itu menjabat selaku Wakil pimpinan PT BNI Cabang Utama Ambon memerintahkan untuk mentransfer ke rekening Fara yang sudah disiapkan.

Selain ke Fara, para KCP juga mentransfer ke rekening terdakwa Soraya Pelu. Atas perbuatan tersebut, terdakwa menggunakan uang hasil kejahatan itu sebanyak Rp.45.326.000.000,00. (Empat puluh lima miliar tiga ratus dua puluh enam ribu rupiah).

Atas perbuatan keenam terdakwa, membuat terjadi kerugian negara sesuai hitungan BPK RI sebesar Rp. Rp.58,950.000.000,00.(SAD).

Comment