by

Fery Tanaya Minta Bebas dari Status Tersangka

Ambon, BKA- Menilai produk hukum yang dipakai tim penyidik Kejaksaan Tinggi Maluku tidak memiliki dasar hukum yang kuat, Fery Tanaya melalui kuasa hukum pemohon meminta Majelis Hakim membebaskan status hukum Fery Tanaya dari tersangka.

Pernyataan ini disampaikan kuasa hukum pemohon dalam sidang perdana Praperadilan melawan termohon dari Kejati Maluku, yang berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (16/9).

Kuasa hukum pemohon yang terdiri dari Henry Lusikooy, Firel Sahetapy dan Herman Koedoeboen dalam pembacaaan gugatannya menyebut, sebagai pemohon mereka menilai, termohon telah melakukan perbuatan melawan hukum dimana objek lahan yang dijadikan dasar untuk menetapkan pemohon sebagai tersangka adalah tanah milik pemohon sejak tahun 1985. Berdasarkan akta jual beli nomor 14/PPAT/1985 yang ditandatangani oleh pejabat PPAT di Namlea (Drs. U.Rada).

Menurut termohon, lahan milik pemohon adalah lahan milik negara, maka perlu diketahui hal tersebut telah di kualitisir sebagai persengketaan hak milik atau hak kekuasaan yang di lepaskan pemohon. Sehingga menimbulkan kesimpulan hukum yang dipakai penyidik untuk menjerat pemohon.

Dijelaskan, penetapan tersangka terhadap diri pemohon dilakukan sejak 18 Mei 2020, baru dilakukan penyidikan terhadap perkara ini sejak 26 Mei 2020. Selain itu, termohon melakukan penetapan tersangka tidak berdasarkan alat bukti.

Dan kalaupun terdapat alat bukti yang telah dikemukakan pemohon, maka alat bukti tersebut dipandang sebagai alat bukti yang tidak sah. Karena alat bukti yang diperoleh dari luar penyidikan dalam perkara ini.

Kemudian, penetapan tersangka yang dilakukan termohon sangat bertentangan dengan putusan MK nomor 21/PU-12/2014/28 April 2015 yang mengatur soal penetapan tersangka harus mengantongi dua alat bukti yang sah.

“Bahwa dengan demikian penetapan pemohon sebagai tersangka oleh termohon sesuai surat penetapan tersangka nomor B-749/Q.1/Fd.1/05/ 2020, tanggal 08 Mei 2020 adalah tidak sah.Dan tidak mengikat secara hukum, sesuai dengan materi gugatan yang termuat dalam gugatan pemohon,” ungkap Henry Lusikooy saat membacakan gugatan praperadilan pemohon di persidangan, yang di pimpin ketua majelis hakim, Ismail Wael sedangkan para termohon di hadiri Y.E. Oceng Almahdaly Cs.

Setelah mendengarkan pembacaan gugatan pra tim hukum pemohon, hakim menunda sidang hingga Kamis 16 September 2020, untuk mendengarkan jawaban termohon.

Ketua Tim Hukum Pemohon, Herman Koedoeboen yang ditemui usai persidangan mengatakan, inti dari gugatan pra yang dibacakan di persidangan itu yakni, penyidik Kejati Maluku melakukan penetapan tersangka terlebih dahulu baru mulai mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan.

Padahal surat perintah penyidikan itu seharusnya menjadi dasar, menjadikan seseorang sebagai tersangka. Surat penyikan itulah sebagai sarana bukti. Dari bukti tersebut ditemukan tersangka.

“Tapi ini malah sebaliknya. menetapkan tersangka lebih dulu, baru mengeluarkan surat perintah penyidikan. Pertanyaannya alat bukti apa yang dijadikan untuk menjadikan seseorang sebagai tersangka. Kalau pun ada alat bukti, alat bukti tersebut di peroleh secara hukum dengan media apa. Sebab alat bukti itu diperoleh berdasarkan dimulai dan dikeluarkan surat penyidikan itu,” jelasnya.

Kedua, lanjut dia, ada konflik interest dari objek yang sama, subjek yang sama dan perbuatan yang sama itu ada, dilakukan perbuatan prafentif. Yaitu pendampingan hukum yang dilakukan melalui Kejati Maluku Bidang Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara.

“Jadi proses itu sudah terlewati, pendampingan hukum bagi pihak PLN dalam rangka pengadaan tanah. Berarti tugas prefentif yang dilakukan mendapat kepastian dan keabsahan terhadap subjek maupun objek. Tetapi di lain pihak, secara represif, kemudian di gunakan sebagai sarana untuk menetapkan pemohon sebagai tersangka dalam perbuatan yang sama.

Subjek dan objek yang sama, sebagaimana dalam tugas pendampingan. Disinilah terjadi konflik interest. Maka terjadi anomali hukum, karena di dalam hukum tidak bisa bermuka dua,” paparnya.
Ketiga, sambung dia, proses pemeriksaan, yakni sebagai pemohon tidak mempersoalkan sisi perdana atau pidana, tapi soal proses pemeriksaan. Oleh karena dari materi pemeriksaan itu akan melahirkan elemen melawan hukum dari sisi perdata. Yang seesinsial berbeda melawan hukum dari sisi pidana.

Sehingga menurutnya, lalu bagaimana proses pemeriksaan semacam itu melahirkan dasar hukum untuk menuntut seseorang sebagai tersangka.

“Jadi kita tidak bicara soal pokok perkara perdata atau pidana, tapi kita bicara proses pemeriksaan. Karena dari materi pemeriksaan itu melahirkan elemen melawan hukum dari sisi pidana. Jadi dari tiga aspek itulah sehingga kuasa pemohon berpendapat, penetapan tersangka tidak berdasarkan fakta hukum,” tutup mantan jaksa senior ini. (SAD)

Comment