by

Gempa di Maluku Capai 1.679 Kali

Ambon, BKA- Baru pertengahan tahun 2020, total gempa bumi yang terjadi di Maluku telah mencapai 1.679 kali gempa. Dari ribuan gempa tersebut, hanya 77 kali gempa yang dirasakan dan tidak berpotensi tsunami.

Sebelum dilanda pandemi Covid-19, masyarakat Maluku sempat trauma dengan rentetan gempa bumi yang terjadi pertengahan 2019 lalu.

Akibatnya, ribuan bangunan kantor, sekolah, rumah, tempat ibadah ikut rusak dihantam gempa. Termasuk sejumlah korban jiwa yang meninggal dunia.

Gempa tersebut terpusat pada tiga kota/kabupaten di Maluku saat itu. Yakni Kota Ambon, Maluku Tengah (Malteng), dan Seram Bagian Barat (SBB). Naasnya, Maluku kurang mendapat perhatian serius dari Pemerintah Pusat.

Sementara di tahun ini, gempa bumi sudah terjadi sebanyak 1.679 kali. Yakni yang dirasakan hanya 77 kali dan tidak berpotensi tsunami. Namun Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tetap menghimbau agar masyarakat Maluku tetap waspada.

“Meski baru pertengahan tahun 2020, tapi total gempa bumi yang terjadi sudah 1.679 kali. Dan yang dirasakan 77 kali, tapi tidak berpotensi tsunami,” ungkap, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Ambon, Andi Azhar Rusdin, saat dihubungi koran ini, Jumat (19/6).

Diakuinya, dari ribuan gempa tersebut, magnitudo (M) kurang dari 3 sebanyak 968 kali. Kemudian yang lebih besar magnitudonya 3-5 sebanyak 685 kali. Sementara gempa dengan magnitude lebih besar sama dengan 5 sebanyak 26 kali.

“Dari total gempa tersesebut, untuk kedalaman yang kurang dari 60 km sebanyak 1.391 kali. Kemudian kedalaman 60 km sampai dengan 300 km itu sebanyak 256 kali. Dan kedalaman lebih dari 300 km itu sebanyak 32 kali,” terang Andi.

Kepala Stasiun Geofisika Ambon, Sunardi, sebelumnya telah menjelaskan soal kondisi wilayah Maluku yang merupakan bagian dari jalur aktif gempa bumi. Dimana kondisi fisiologi wilayah Maluku sangat dipengaruhi aktivitas tumbukan 3 lempeng tektonik utama dunia.

Yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Ketiga lempeng tektonik ini bertumbukan dan bergerak secara relatif antara satu dengan yang lain, sehingga menjadikan wilayah Maluku sebagai salah satu kawasan rawan gempa dan tsunami di Indonesia, bahkan di dunia.

Menurut Sunardi, wilayah Maluku memiliki banyak sumber gempa. Secara umum, Maluku memiliki 2 sumber gempa subduksi laut banda bagian utara dan laut banda bagian selatan. Selain itu wilayah Maluku juga memiliki tidak kurang dari 30 segmentasi sesar aktif dari total 295 segmentasi sesar aktif yang telah terpetakan.

Berdasarkan kondisi tektonik yang kompleks ini, maka gempa dapat terjadi kapan saja dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.

“Hasil monitoring Stasiun Geofisika Ambon menunjukkan selama periode 2011-2019, rata-rata dalam setahun terjadi gempa sebanyak 1000 hingga 1500 kali. Dan gempa signifikan dengan magnitudo di atas 5,0 sebanyak 60 kali. Tidak kurang dari 40 kali kejadian tsunami pernah terjadi di Maluku, salah satunya tsunami dahsyat pada tahun 1674 di Ambon, yang mengakibatkan lebih 2.000 korban jiwa,” pungkas Sunardi, baru baru ini. (UPE)

Comment