by

Gerhana Matahari Terpantau Sebagian

Ambon, BKA- Gerhana Matahari Cincin yang melintasi Maluku pada Minggu (21/6) kemarin, tidak terpantau secara keseluruhan oleh BMKG lewat tim Stasiun Geofisika Ambon. Fenomena alam ini hanya terpantau sebagian akibat cuaca buruk.

“Tim baru saja melakukan pemantauan terhadap fenomena Gerhana Matahari Cincin. Dan ada foto kontak awal yang berhasil terpantau pada pukul 16.48 sampai 16.50 WIT. Tapi setelah itu tertutup awan hingga sekarang (kemarin),” ungkap, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Ambon, Andi Azhar Rusdin, saat dihubungi koran ini, di sela-sela pemantauan.

Menurus Andi, Gerharan Matahari sebagian ini merupakan peristiwa terhalangnya cahaya matahari oleh bulan, sehingga tidak semuanya sampai ke bumi.

Fenomena akibat dinamisnya pergerakan posisi matahari, bumi dan bulan ini hanya terjadi pada saat fase bulan baru dan dapat diprediksi sebelumnya.

Dijelaskan, adapun gerharan bulan yang merupakan peristiwa ketika terhalanginya cahaya matahari oleh bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke bulan dan selalu terjadi saat fase purnama. Dan di tahun ini, BMKG memprediksikan akan terjadi 6 kali gerhana.

Mulai dari Gerhana Bulan Penumbara (GBP) pada 11 Januari 2020 lalu dan dapat teramati di Indonesia. Kemudian GBP pada 6 Juni 2020 kemarin yang juga teramati, serta Gerharan Matahari Cincin yang terjadi Minggu kemarin. Sebagian besar Gerharan Matahari tersebut akan terpantau di pulau Jawa dan sebagian kecil Sumatera bagian Selatan.

GBP lainnya juga akan terjadi pada 5 Juli 2020, yang tidak dapat diamati di wilayah Indonesia. Kemudian GBP pada 20 November 2020 yang dapat diamati di wilayah Indonesia, bagian Barat jelang gerharan berakhir. Serta Gerhana Matahari Total (GMT) pada 14 Desember 2020 nanti yang tidak dapat diamati di Indonesia.

Dijelaskan, salah satu tupoksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah menyampaikan informasi dan pelayanan tanda waktu. Termasuk informasi Gerhana Bulan dan Matahari.

Gerhana Matahari Cincin yang terjadi, tutur Andi, ketika matahari, bulan dan bumi tepat segaris. Dan pada saat itu, piringan bulan yang teramati dari bumi lebih kecil daripada piringan matahari. Akibatnya, saat puncak gerhana, matahari akan tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya.

“Gerhana tersebut juga dapat diamati oleh sebagian masyarakat di Afrika bagian Utara dan Timur, Asia, Samudra India, sebagian negara Eropa, Australia bagian Utara dan Samudra Pasifik berupa Gerhana Matahari sebagian,” papa Andi.

Seiring berjalannya waktu, lanjutnya, piringan matahari yang tergerhanai akan semakin besar hingga akhirnya seluruh bulan mulai menutupi piringan matahari.
“Waktu saat peristiwa ini terjadi, disebut kontak kedua dan akan berakhir saat seluruh piringan bulan terakhir kali menutupi piringan matahari, yaitu saat kontak ketiga. Setelah itu dilalui, piringan matahari yang tampak tergerhanai akan semakin kecil hingga akhirnya bulan terakhir kali menutupi piringan matahari, yaitu saat kontak keempat atau kontak akhir,” pungkasnya. (UPE)

Comment