by

Gubernur Tantang Pengkritik Gustu

Ambon, BKA- Gubernur Maluku, Murad Ismail, menantang orang yang suka mengkritik tugas Gugus Tugas (Gustu) Percepatan Penanganan Covid -19 Maluku.

Tantangan Gubernur Maluku itu, yakni, berani atau tidak, menerima orang yang terpapar Covid-19 tinggal di rumahnya?

Kalau berani, Gubernur bersedia menanggung semua biaya hidup si penerima tantangan itu bersama keluarganya maupun pasein Covid-19 tersebut.

“Kalau ada orang-orang tertentu yang mengatakan ini-itu, kenapa tidak dipulangin saja. Saya tawarin opsi bagi orang-orang yang kritik itu, mau tidak terima pasien yang terinfeksi Covid-19 pulangi ke rumahnya. Saya bayar berapa bulan orang itu ada di rumahnya. Nanti saya kasih makan satu rumah itu juga,” tantang Gubernur, saat menggelar konfrensi pers di Kantor Gubernur Maluku, Senin (15/6).

Menurut Gubernur, selama ini yang terjadi dilapangan, penanganan warga yang dikarantina, selalu diposting di media sosial (medsos). Sedangkan virus sendiri merupakan wabah yang sangat mudah terjangkau dengan cepat ke orang lain.

Sehingga langkah yang diambil Gustu, yakni, dengan melakukan karantina. Dan selama proses itu, kalau ada pasien yang keluar, maka harus betul-betul terbebas dari virus itu. Sehingga masa karantina tidak tergantung lamanya 14 hari, bahkan itu bisa terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan, mungkin juga bisa sampai setahun. Semua itu tergantung bagaimana proses penyembuhannya, agar bisa dikatakan negatif dari Covid-19.

Gubernur mencontohkan, kenapa ada seorang ibu yang berusia 74 tahun, proses penyembuhannya bisa cepat. Itu karena dia tidak stres.

“Kalau dia (mereka, red-) itu kemarin sakit jantung atau kanker, itu kami pulangkan. Tapi seharusnya mereka bersyukur, kita mau menangani mereka. Tidak ada untungnya Pemda,” katanya.

Sekali lagi, Gubernur menantang para pengkritik tugas Gustu. “Covid-19 ini tidak main-main. Kalau kita pulangkan dia, nanti masyarakat yang lain bisa terima atau tidak? Karena dampak dari virus itu dapat tercemar ke orang lain, termasuk keluarga yang merawatnya. Jadi harus berterima kasih buat kita yang masih peduli dengan covid ini,” ujarnya.

Ia mengingatkan kembali, ada pasien Covid-19 yang meninggal beberapa waktu lalu, itu ditolak daerah untuk jenazahnya dimakamkan. Apa lagi orang yang masih dikatakan positif Covid-19.

“Ya, ada beberapa pemuka-pemuka, partai dan dari sana-sini lewat SMS, meminta saya, pak Gub, kenapa ini tidak bisa ditangani sendiri? Saya jawab, ini Covid, ini virus, dan kalau dia sakit jantung, kanker, maka saya pulangkan,” akuinya.

Dia menjelaskan, dengan terinfeksi Covid-19 dan mendapat perawatan yang memadai, setelah sembuh akan berdampak kepada penyakit yang lain juga, karena turut sembuh. Sebab dalam penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah, akan dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan terkait penyakit yang ada pada diri seorang yang terinfeksi virus.

“Pada dasarnya, kita semua yang disini terpapar Covid-19. Namun imun kita kuat, sehingga kita terhindar dari virus sampai sekarang ini. Kalau imun kita, tidak kuat, sudah lama kita deat (meninggal, red) juga. Karena imun kita kuat, maka kita harus melakukan apa yang menjadi anjuran pemerintah,” tutupnya.(BKA-1)

Comment