by

Guru Mengaku Sulit Dengan PJJ

Ambon, BKA- Sejumlah guru mengaku sulit dengan penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) oleh pemerintah, akibat penutupan sekolah untuk mencegah penyebaran virus corona.

Salah satu guru SD Inpres 36 Rumah Tiga, Rony Wairisal, mengungkapkan, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan selama pandemi virus corona ini, sangat membingungkan mereka. Hal itu belum ditambah dengan berbagai keterbatasan dari orangtua dan siswa.

Untuk itu, para guru sulit untuk mencarikan format pembelajaran yang tepat bagi anak-anak didik di rumah. Apalagi PJJ yang dilakukan hanya satu arah. Tidak ada komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa.

“Dengan dinamika yang ada. Tidak mungkin kita paksakan untuk belajar di sekolah, karena pasti orang tua tidak mau mengijinkan anak mereka. Mau paksakan untuk semua miliki HP android juga, sebagian besar siswa ini berasal dari keluarga yang berpenghasilan harian. Kalau ada HP android pun, pasti terkendala biaya kuota internet. Bagaiman dengan yang sama sekali tidak bisa miliki faslitas itu,” ungkapnya.

Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah, sebelum dimulainya tahun ajaran baru, yang kemungkinan besar kembali menerapkan pola pembelajaran PJJ, karena pandemik Covid-19 belum berakhir.

Ketika hal itu dibiarkan begitu saja, maka berbagai kendala pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang ada di tengah wabah virus corona, akan memberikan dampak buruk bagi perkembangan kualitas pendidikan anak di sekolah.

“Kalau tingkat SMP dan SMA itu, saya kira masih lebih muda, jika dibandingkan dengan tingkat SD. Anak-anak ini kan masih sangat kecil, jadi tidak bisa kita menggunakan pola pembelajaran yang tegas seperti di tingkat sekolah atas lainnya. Karena itu, perlu pola pembelajaran khusus PJJ ini. Supaya kita guru ini juga tidak merasa kesulitan dalam memberikan materi pelajaran. Jangan sampai PJJ ini hanya sebagai simbol saja, tanpa memberikan dampak bagi pertumbuhan kualitas anak-anak didik ini,” papar Wairisal.

Menurutnya, sebagai pendidik, guru akan tetap memiliki semangat untuk mendidik anak-anak didiknya kapan dan dimana saja. “Yang terpenting, semua kesiapan teknis dan kendala-kendala yang terjadi di 3 bulan lalu itu di perhartikan dengan baik,” pungkasnya. (LAM)

Comment