by

Gustu Diminta Percepat Hasil Swab

Ambon, BKA- Badan Koordinasi Masyarakat Maluku asal Sulawesi Tenggara (BKMM-Sultra) meminta Pemerintah Daerah lewat Gugus Tugas (Gustu) Penanganan Pencegahan Covid-19, untuk mempercepat penyampaian hasil swab sejumlah pedagang yang dikarantina karena reaktif sesuai hasil rapid test.

Pasalnya, sebagian besar pedagang yang berasal dari Sultra itu, merupakan tulang punggung keluarga dan harus mencari nafkah buat keluarga masing-masing. Yang mana sebelumnya, telah dilakukan tracking (penelusuran) oleh tim Gustu terhadap ratusan pedagang di pasar Mardika pasca meninggalnya salah satu pedagang Mardika yang terkonfirmasi positif Covid-19 beberapa waktu lalu.

Termasuk istri dan satu anak dari almarhum, yang saat ini menjalani karantina di salah satu lokasi karantina di Kota Ambon.

“Informasi yang saya terima waktu turun berkomunikasi dengan para pedagang ini, mereka kurang lebih sektiar 150 orang lebih. Dan katanya itu hari ini mereka dikarantina karena sesuai rapid test itu ada yang reaktif.

Maka itu, saya meminta agar Pemerintah Daerah segera mempercepat hasil swab mereka untuk disampaikan ke publik. Karena mereka ini tulang punggung keluarga,” pinta Pimpinan BKMM Sultra, La Suryadi ketika menghubungi koran ini, Kamis (14/4).

Dirinya juga sempat menyangkan sikap Pemerintah Kota lewat dinas terkait yang terkesan mengancam para pedagang untuk melakukan rapid test karena diduga pernah melakukan kontak dengan almarhum yang merupakan salah satu pedagang Mardika.

“Kita sangat menyangkan perlakuan saat pelaksanaan rapid test kepada ratusan pedagang saat itu. Karena terkesan sebuah ancaman, bahwa kalau pedagang yang tidak ikut rapid test maka lapaknya akan dibongkar. Namun yang sangat diharapkan agar hasil swab mereka segera dipercepat, karena mereka juga menafkahi keluarga mereka,” tandasnya.

Menurut dia, ketika para pedagang Mardika ini dikarantina, maka setidaknya ada perhatian dari Pemerintah Kota maupun Provinsi untuk memberikan sedikit bantuan kepada keluarga mereka. Karena ketika di karantina, otomatis mata pencaharian para pedagang akan terputus selama 14 hari, sementara mereka harus menafkahi keluarga mereka masing-masing.

“Kalau boleh ada ada perhatian dari Pemerintah untuk penuhi kebutuhan mereka sehari. Karena mereka ini tulang pungung keluarga. Ketika mereka di karantina, lalu siapa yang mencari nafkah buat keluarga mereka di rumah. Ini yang harus dipikirkan oleh Pemerintah Daerah,” cetus La Suryadi.

La Suryadi yang juga merupakan Pemerhati Sosial ini menambahkan, Gugus Tugas harus belajar dari pengalaman atas ketelodoran tim medis sebelumnya. Yang menyatakan salah satu pasien meninggal dunia adalah positif Covid sesuai rapid test dan telah dimakamkan sesuai protab Covid-19. Namun nyatanya, setelah hasil swabnya keluar, pasien tersebut negatif Covid-19.

“Jadi tidak sekedar meminta maaf atas kecerobohan tim medis, terhadap pasien tersebut. tetapi harusnya diberikan bantuan kepada keluarga korban. Karena saat pemakaman itu secara protokol kesehatan, sehingga keluarga tidak dilibatkan. Meski suda meminta maaf, tapi harusnya ada perhatian lebih kepada keluarga korban bukan sekedar meminta maaf,” pesannya. (UPE)

Comment