by

Hakim Belum Temukan Motif Pembunuhan di Haruku

Ambon, BKA- Lucky Rombot Kalalo Cs, hakim yang menyidangkan kasus pembunuhan dengan terdakwa Jecky Mustamu (33), tepatnya di Soa Belanda, Dusun Sea, Negeri Haruku, Kecamantan Pulau Haruku,Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) ini, belum menemukan motif pembunuhan yang dilakukan terdakwa terhadap korban Daniel Tahya, sejak Kamis 9 Maret 2020 kemarin.

Hal ini ketika Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Malteng, Inggrid Louhenapessy menghadirkan empat saksi fakta, termasuk istri korban Cornelia. Sedangkan tiga saksi lainnya kakak terdakwa Berti Silfera, teman baik terdakwa Yulius dan Maikel (Saksi yang menggelar acara pesti di rumahnya).

Dihadapan majelis hakim, saksi Cornelia menerangkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terhadap korban (suami) saat itu, dia bersama korban pulang dari acara pesta. Waktu melewati depan rumah terdakwa, dia melihat terdakwa sedang marah-marah didepan rumahnya sambil memegang parang, sehingga korban berniat untuk menegur. Tapi tiba-tiba terdakwa langsung menebas parang ke bagian tubuh korban sebanyak satu kali. Saat itu tiba-tiba korban jatuh, kemudian dia bangun berlari kembali ke acara pesta, sampai disana korban ditolong beberapa warga, sedangkan terdakwa langsung berlari ke Hutan.

“Karena gelap waktu itu yang mulia, jadi tidak sempat ketahui jelas, tapi memang suami (korban) saya, tujuannya datang menegur terdakwa, tiba-tiba dia dibacok sebanyak satu kali, saya pun karena takut hanya bisa lari dan berteriak minta tolong warga saja,” kata Saksi seraya menangis di hadapan persidangan.

Sedangkan untuk saksi Berti Silferi (kakak terdakwa) mengaku, waktu kejadian di halaman rumahnya (TKP), dia memang ada, tapi karena melihat sifat terdakwa yang sering mabuk dan membuat onar, saksi memilih pergi untuk membangunkan anak dan istrinya lalu menceritakan peristiwa pembunuhan tersebut.

“Karena kami takut jadi pas saya melihat terdakwa sudah memotong korban, saya langsung masuk ke dalam rumah bangunkan anak dan istri untuk siap-siap berlari. Dan waktu itu saya mendengar kalau korban dibacok dengan luka dibagian belakang, Leher dan Kepala ,” tutur Silfera.
Sedangkan untuk saksi Yulius dan Maikel menuturkan, waktu kejadian di TKP, mereka tidak melihat, namun mereka mengetahui kalau terdakwa mengambil parang sebelum mendengar peristiwa naas itu.
“Saya kan di rumah (acara pesta) jadi waktu itu saya lihat korban berlari dengan luka-luka datang, terus ada warga yang bilang kalau dia dipotong terdakwa,” sebut saksi Maikel.

Sedangkan untuk saksi Yulius, sebelum terdakwa pergi mengambil parang, dia sempat berkelakar dengan terdakwa. “Saya sempat sengaja dengan dia, saya undang dia berkelahi, tapi itu Cuma sebatas iseng, dan saya sudah tidak tahu lagi kalau terdakwa memotong korban, karena saat itu saya sudah pulang ke rumah,”tandas saksi Yulius.

Mendengarkan keterangan saksi, ketua majelis hakim mulai mencari tahu motif dibalik pembunuhan korban, sayangnya dari semua keterangan saksi dibawa sumpah, tidak ditemukan motif yang jelas terkait pembunuhan korban. Mereka semua mengaku kalau pembunuhan itu secara tiba-tiba terdakwa melayangkan parang terhadap korban.

“Jadi memang si terdakwa ini sering buat onar, tidak ada alasan apa-apa juga dia langsung potong korban ya, ini harus kita hukum dia berat saja,” sebut hakim ketua, sembari di iakan saksi Berti Silfera. “Iya pak, Hukum dia berat saja. Dia tidak ada kerja, minum sopi (minuman keras) saja,” jawab Silfera ke hakim ketua.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, hakim kemudian menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda pemeriksaan terdakwa.
Terpisah di luar persidangan, penasehat hukum terdakwa Dominggus Huliselan yang ditemui koran ini mengatakan, sebenarnya berangkat dari keterangan saks-saksi di persidangan tadi, bisa ditemukan kalau motif dari kejadian ini karena terdakwa geram atas perkataan korban. Saat itu korban datang melerai terdakwa yang sedang memegang parang berukuran 20 centimeter, dengan berkata kalau korban juga orang jahat di Jakarta. “Kan di BAP yang tadi jaksa baca itu bilang, Ade (terdakwa), pegang parang untuk apa, beta (saya) di Jakarta lebih jahat lai,”. Dari perkataan korban inilah yang membuat terdakwa marah dan mengejar korban sampai membacok sebanyak tiga kali,” tandas Huliselan.

Ditanyakan soal apa yang harus dikejar guna meringankan hukuman terdakwa. Kata Huliselan, perbuatan terdakwa dalam insiden ini terbukti, maka, dia hanya berupaya terdakwa mendapat keringanan hukuman dari majelis hakim.“Ini kan terbukti toh, jadi kita kejar hanya minta supaya terdakwa berlaku sopan dipersidangan, mengakui perbuatan, dan hal-hal lain yang bisa meringankan terdakwa,” tandasnya. (SAD)

Comment