by

Hanya MI Yang Mampu Gulingkan Dinasti Tuasikal

Ambon, BKA- Siapapun calon Bupati Maluku Tengah (Malteng), paska berakhirnya masa kepemimpinan Tuasikal Abu dan Marlatu L. Leleury, pada 2022 mendatang, tidak bisa menggulingkan poltik dinasti Tuasikal.

Survey telah membuktikan, kekuatan politik dinasti yang dikomandoi Abdullah Tuasikal, sudah tertanam cukup kuat. Itu terlihat diempat priode Pilkada Malteng, baik diera kepimpinan Abdullah Tuasikal dan kini kakak kandungnya, Tuasikal Abua.

Bahkan untuk generasi dinasti Tuasikal berikutnya, kabarnya ada dua nama yang sudah dipersiapkan sebagai calon Bupati, yakni, Miranti Dewaningsih yang merupakan istri Abdullah Tuasika, maupun Amrullah Amri Tuasikal yang juga anak kandungnya.

Seperti diketahui, rekam jejak kekuasa dinasti Tuasikal di Malteng, dimuali dari Abdullah Tuasikal sebagai Bupati dua priode, 2002 sampai 2007 dan 2007 sampai 2012. Kemudian dilanjutkan kakak kandungnya, Tuasikal Abua, juga dua priode,
2012 sampai 2017 dan 2017 sampai 2022.

Bukan hanya itu, kekuasan dinasti Tuasikal juga berhasil mengirim anaknya, Amrullah Amri Tuasikal, ke Senayan sebagai anggota DPR RI periode tahun 2014-2019 dari Partai Gerindra. Meskipun akhirnya di PAW. Demikian juga dengan istrinya, Miranti Dewaningsih sebagai anggota DPR RI priode periode 2004-2009.

Saat ini, kekuatan dinasti Tuasikal ini juga telah menggiring pasangan suami-istri itu menuju kursi senayan, sebagai Anggota DPR RI dan Anggota DPD RI.

Anggota DPRD Maluku, Ruslan Hurasan, dari Fraksi PKB asal daerah pemilihan Malteng, kepada awak media di DPRD, mengutarakan, kalau politik dinasti itu hanya bisa digulingkan, jika MI bisa turun langsung ke Malteng.

Tentu bukan sebagai calon Bupati, karena MI merupakan Gubernur Maluku saat ini. Tapi hal itu dapat dilakukan lewat rekomendasi calon Bupati melalui rekomendasi PDIP atau orang yang menjadi pilihan.

Menurutnya, dari finansial, kekuatan dan kemampuan yang dimiliki Abdullah Tuasikal, semua itu hanya bisa diimbangi MI dengan kekuatan politik sebagai Gubernur, dengan menyiapkan kader sejak dini.

“Hanya MI yang bisa menggulingkan politik dinasti di Malteng, karena yang ditakuti Abdullah hanya seorang MI,” akuinya.

Keresahan politik dinasti juga disampaikan H. Ohorella Salah satu tokoh masyarakat Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah. Menurutnya, dinasti Tuasikal sudah menjadi habitus politik yang didalamnya terdapat modal sosial, modal finansial, modal pendidikan, yang kemudian membentuk modal politik.

Sehingga tidak mudah untuk menggulingkan dinasti Tuasikal di Malteng dari kursi Bupati. Itu karena klientelisme politik sudah tersusun secara kelembagaan dari periode-periode kepemimpinan sebelumnya, sejak Abdullah Tuasikal sebagai Bupati.

Selain itu, sudah terbentuk opini masyarakat, bahwa dinasti Tuasikal adalah dinasti yang banyak berbuat di masyarakat. Padahal semua itu, merupakan proyek negara. Yang kemudian diolah, kalau pemberian itu seakan-akan sebagai salah satu bentuk kedermawanan politik.

Untuk itu, katanya, sudah saatnya masyarakat Malteng harus merubah opini itu. Tidak lagi mempercayakan dinasti untuk memimpin daerah yang dijuluki Pamahanussa itu.

“Jadi apa yang diberikan, semuanya merupakan wujud dari program pemerintah. Tapi digunakan seakan-akan sebagai bentuk kepedulian dari dinasti Tuasikal yang terbangun sejak Abdullah menjabat Bupati. Sehingga menyebabkan dinasti ini kuat. Jadi sudah sangat sulit terkalahkan, tapi kalau ada campur tangan dari pak Murad, maka habis sudah kejayaan dinasti Tuasikal,” pungkas Ohorella.(RHM)

Comment