by

Hasil Swab Bisa Berubah

Ambon, BKA- Swab test yang dilakukan seseorang bisa saja berubah. Hal itu tergantung faktor yang mempengaruhi.

Kepala Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL PP) Kelas I Ambon, Budi Santoso, mengatakan, bahwa dalam pengambilan hasil spesimen virus Covid-19 ada tiga faktor yang bisa menyebabkan hasil swab PCR bisa berubah.

Ketiga faktur tersebut biasanya disebut dengan kesalahan analisis sampel, yang disebabkan oleh faktor dilapangan, laboratorium dan laboratorium plus adiminstrasi. Sehingga terkadang hasilnya bisa membingunkan masyarakat.

“Hal itu bisa terjadi disebabkan banyak faktor. Misalnya saja cara pengembalian spesimen. Karena cara pengambilan spesimen yang salah akan menjadi negatif palsu,” kata Budi, kemarin.

Di samping itu, Budi melanjutkan, bahan spesimen yang diambil juga ikut mendorong hasil dari tesnya. Umumnya yang diambil adalah darah ataupun dahak.

Selain itu, waktu pengambilan juga turut berkontribusi untuk menentukan hasil dari tes Covid-19. Metode pengambilan di waktu yang tidak tepat pun bisa mengakibatkan perbedaan hasil tes.

“Misalnya nih, seperti TBC. Mengapa harus diambil tiga kali, kemudian kita menetapkan dari tiga kali itu, tiga hari lagi. Hari pertama, hari kedua, hari ketiga. Harus tiga hari, karena hari pertama sensitivitasnya masih rendah. Karenanya harus dua kali lagi, baru kita mendapatkan tesitasnya lebih tinggi mendekati 100 persen,” jelasnya.

Budi juga menyebut, jika pada saat pengiriman ke suatu tempat virus tersebut terpapar matahari, maka bisa merusak virus itu sendiri. “Apakah lama dalam perjalanan. Nah itu bisa mempengaruhi menjadi false negative,” ungkapnya.

Menurut dia, hasil bisa didapatkan secara optimal bila pengambilan spesimen dilakukan pada waktu yang tepat, alat yang tepat dan prosedur yang tepat.

Kenapa itu bisa terjadi perbedaan, kata Budi, karena yang diukur dan dilihat itu virus. Jika terjadi infeksi virus, sehingga yang paling terasa jika sesorang terkena virus pada pekan pertama dan kedua, selanjutnya akan turun pada pekan kelima dan keenam.

“Pada saat, dimana hasil spesimen diambil ada beberapa analisa virus yang dimbil bisa sedikit baik yang negatif maupun positif, sehinga hasil yang didapat tidak bisa murni 100 persen,” jelasnya.

Meskipun akuinya, kalau kesalahan analis sampel spesimen kemungkinan terjadi, baik itu dalam pengambilan sampel, handling, tranportasi, yang secara analis lapangan kemungkinan terjadi kesalahan bisa mencapai 60 persen. Ini sama halnya dengan hasil analis di laboratorium, yang kesalahan hasilnya bisa mencapai 30 persen. Termasuk hasil analis laboratorim dan SDM yang bisa mencapai 10 persen.

“Jadi sebenarnya banyak faktor yang bisa menyebabkan hasil itu berubah, baik itu dari sisi waktu pengambilan sampel, SDM dan peralatannya, sehingga hasil yang keluar belum bisa dikatakan 100 persen postif atau negatif. Sehingga hal itu harus dilakukan selama kurang lebih empat kali diuji,” pungkasnya.(RHM)

Comment