by

Hidup Dibekas Kandang Ayam, Dibedah Jadi Rumah

Impian Nenek Wa Dae Dikabulkan Polsek Amahai
Oleh : Dony Samloy
Wartawan Beritakota

Tak menyangka, jelang Hari Bhayangkara ke-74 akan menjadi berkah bagi nenek Wa Dae, wanita 85 tahun, yang hidup sebatang kara di Negeri Yainuelo, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Sudah sekitar puluhan tahun, nenek Wa Dae hidup di gubuk kecil yang pernah digunakan sebagai kandang ayam. Tempatnya sangat tidak layak untuk dihuni. Atasnya masih menggunakan atap dan dindingnya dari papan. Sementara lantainya hanya beralaskan tanah.

Untuk masak, masih menggunakan tungku. Beberapa hari sekali, nenek Wa Dae ini harus pergi mencari kayu bakar.

Entah di mana keluarganya. Nenek lanjut usia ini, hanya hidup ditemani kucing piaraannya. Bahkan sering makan sepiring dengan kucing kesayangannya itu.

Kondisi rumah Nenek Wa Dae sbelum dan sesudah dibedah oleh personil Polsek Amahai, di bawah komando Kapolsek Amahai, Ipda Rido Masihin

Meski hidup tak bercukupan, warga sekitar sering berbagi makanan dengan nenek Wa Dae.

Hingga hari itu, Senin (11/5), nenek Wa Dae tak menyangka akan mendapat bantuan dari Kapolri yang dibagikan sejumlah personil Polsek Amahai, di bawah komando Kapolsek Amahai, Ipda Rido Masihin.

Saat itu, hujan lebat sempat mengguyur. Belum lagi ancaman pandemi Covid-19 yang menjadi kekhawatiran warga sekitar. Namun tidak menghalangi niat pembagian sembako yang dilakukan jajaran Polsek Amahai.

Saat didatangi, nenek Wa Dae terlihat sedikit ketakutan. Ia sempat berpikir, akan ditangkap oleh para personil kepolisian tersebut. Ternyata sejumlah personil berpakaian dinas lengkap itu memboyong bantuan sembako, untuk diberikan kepadanya dan warga sekitar, yang terdampak pandemi Covid-19.

“Saat kami tiba dan mengucapkan selamat pagi, nenek Wa Dae terlihat sedikit ketakutan. Ia kemudian keluar dan menjawab sapaan kami, selamat pagi juga bapa Polisi,” tutur Ipda Rido, kepada Beritakota, baru baru ini.

Perbincangan pun berlanjut, kata Ipda Rido, sambil diserahkan bantuan sembako dan menyampaikan salam dari pak Kapolri. Tiba-tiba, rasa kemanusiaan mulai muncul saat mengetahui nenek Wa Dae tinggal seorang diri di gubuk itu.

Dirinya bahkan tak menyangka, gubuk tersebut merupakan bekas kandang ayam. Terharu akan kondisi dan perjalanan hidup si nenek, Ipda Rido bersama para anggotanya langsung sepakat untuk membedah gubuk nenek Wa Dae, menjadi rumah semi permanen yang layak untuk ditempati.

Untuk anggaran perbaikan rumah itu tidak terlalu besar. Tapi menariknya, dana itu berasal dari kantong pribadi seluruh personil Polsek Amahai, termasuk Ipda Rido Masihin.

“Pulang bagi sembako pak Kapolri, kami masukan giat ini (bangun bedah rumah) dalam agenda Polsek Amahai. Kami juga sepakat untuk nanti bangun sendiri bedah rumah itu. Kebetulan ada beberapa personil yang bisa kerja bangunan,” beber anggota Polri lulusan Bintara tahun 1997-1998 di SPN Passo ini.

Ia menilai, selain menjalankan tugas sesuai dengan tugas pokok kepolisian, setiap anggota Polri juga harus meluangkan waktu untuk membantu sesama yang dalam keadaan susah. Sehingga Ia bersama para anggotanya mulai melakukan bedah rumah milik nenek Wa Dae.

Sesuai kesepakatan bersama, agenda pembuat kontruksi bedah rumah semi permanen itu dikerjakan selama 7 hari. Dimana pekerjaan tersebut dimulai pada pertengahan Juni ini.
“Kita mulai dari hari Jumat 12 Juni, dengan kegiatan pembongkaran rumah nenek Wa Dae. Dan sampai Sabtu 20 Juni, rumah tersebut rampung. Tentu ini semua berkat kerjasama kami Polsek Amahai untuk membantu nenek Wa Dae,” sebutnya.

Setelah rampung dikerjakan, Polsek Amahai mengundang Kapolres Maluku Tengah, AKBP Hendrik Purwono untuk meresmikan sekaligus memberikan kunci rumah kepada nenek Wa Dae pada hari Senin (22/6) kemarin.

“Semoga saja, bedah rumah yang diberikan kepada nenek Wa Dae bisa mengurangi beban hidupnya. Dan sekali lagi, ini kita berikan dalam rangka menyambut hari Bhayangkara Polri ke 74,” tutup Masihin. (*)

Comment