by

HMI Marah, Dituding Provokasi Pedagang

Ambon, BKA- Diduga salah satu oknum Satuan Pol-PP menyebut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah memprovokasi sejumlah pedagang, agar melakukan aksi demo tehadap kebijakan Pemerintah Kota Ambon.

Tudingan itu dilontarkan, saat terjadi aksi saling dorong antara Satuan Pol-PP dengan masa pendemo, yang terdiri dari pedagang Pasar Mardika dan kader HMI, di Balai Kota Ambon, Senin (15/6).

Tentu saja, tudingan oknum Satuan Pol-PP itu tidak diterima baik oleh kader HMI yang melakukan aksi demo bersama puluhan pedagang itu.

Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon, A. G. Latuheru, yang menemui pendemo, langsung meminta maaf kepada HMI atas tudingan oknum Satuan Pol-PP itu. “Kalau memang ada anggota Pol-PP berkata seperti itu, saya atas nama Pemerintah Kota Ambon minta maaf,” kata Latuheru.

Namun permintaan maaf itu, tidak dapat meredam emosi kader HMI. Mereka ingin, oknum Pol-PP yang sengaja ataupun tidak sengaja berkata HMI provokasi itu, bisa secara langsung mengklarifikasi tudingannya.

“Kami mau oknum Pol-PP itu harus mengklarifikasi pernyataannta terhadap konstitusi kami. Jangan hanya berbuat, tapi tidak bisa bertanggung jawab,” tegas Penjabat Ketum HMI Cabang Ambon, Achel Rahayaan.

HMI memastikan, jika sampai tidak ada klarifikasi dari oknum Pol-PP tersebut, maka akan ada aksi berikutnya yang melibatkan kader HMI yang lebih banyak.

“Hanya kasi klarifikasi saja tidak bisa. Sampai tidak klarifikasi, pejabat tinggi yang sekarang ada di Maluku, yang dibesarkan oleh organisasi ini, mereka yang nanti akan turun,” ungkap Rahayaan.

Untuk diketahui, aksi yang dilakukan oleh pedagang Pasar Mardika di Balai Kota Ambon itu, terkait penerapan Peraturan Walikota Nomor 16 Tahun 2020 yang dinilai memberatkan pedagang.

Aksi itu memang berjalan sedikit “panas”, karena keinginan pedagang untuk bertemu Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, dihadang oleh barisan Satuan POL-PP. Sehingga saling dorong antar kedua kubu, kerap terjadi.

Ada sejumlah tuntutan yang para pedagang Pasar Mardika itu sampaikan saat demo, diantara, meminta pencabutan Perwali Nomor 16 Tahun 2020 serta tidak bersedia direlokasi ke Pasar Transit Passo karena dinilai terlalu jauh dari pusat kota.

“Kami tidak akan pindah. Kami sudah 10 tahun berjualan di Mardika. Pasar Passo terlalu jauh,” ujar Koordinator Pedagang Pasar Mardika, Nurdin, dalam orasinya tersebut.(BKA-1/DHT)

Comment