by

Impor RI Bengkak Gara-gara Serbuan Produk China

 

Jakarta, BKA- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia membengkak pada Agustus 2020 karena serbuan produk dari China, mulai dari laptop hingga buah anggur.

Kepala BPS Suhariyanto mencatat total nilai impor Indonesia mencapai US$10,74 miliar pada Agustus 2020 atau naik 2,65 persen dari US$10,46 miliar pada Juli 2020. Peningkatan impor terbesar berasal dari China mencapai US$138,7 juta atau 4,31 persen dari US$3,21 miliar menjadi US$3,35 miliar.

“Impor dari China meningkat, beberapa komoditasnya adalah laptop dan buah-buahan seperti anggur serta crane untuk komunikasi,” ujar Suhariyanto saat konferensi pers virtual, Selasa (15/9).

Total impor dari China mencapai US$24,71 miliar pada Januari-Agustus 2020. Jumlah impor dari Negeri Tirai Bambu masih menjadi yang tertinggi dibandingkan impor dari negara lain.

Kontribusi impor dari China terhadap keseluruhan nila impor Indonesia mencapai 29,9 persen dari total US$92,11 miliar. Sisanya, diisi oleh Jepang 8,84 persen, Singapura 6,55 persen, Amerika Serikat 6,02 persen, dan Thailand 5,44 persen.
Selain China, peningkatan impor juga berasal dari Hong Kong sebesar US$69,6 juta pada bulan lalu. “Yang terbesar adalah impor emas,” katanya.

Peningkatan impor juga berasal dari Ukraina sebesar US$66,6 miliar, Kanada US$58,2 miliar, dan Prancis US$43 miliar. Sementara penurunan impor nonmigas terjadi dari Korea Selatan sebesar US$131,8 juta, Jepang US$99,4 juta, Singapura US$91,5 juta, Australia US$17,3 juta, dan Polandia US$16,6 juta.

Secara total, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,33 miliar secara bulanan pada Agustus 2020. Realisasi tersebut lebih rendah dari surplus US$3,26 miliar pada Juli 2020, namun lebih tinggi dari surplus US$85,1 juta pada Agustus 2019.

Neraca perdagangan surplus US$11,05 miliar pada Januari-Agustus 2020. Realisasi ini lebih baik dari defisit US$1,81 miliar pada Januari-Agustus 2019. (INT)

Comment