by

Jabatan Kakanwil Kemenag Maluku Diragukan

Ambon, BKA- Belum sebulan menjabat Kepala Kantor Wilayah (KaKanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Maluku pasca dilantik oleh Menteri Agama (Menag) RI, Fachrul Razi, kepemimpinan Jamaludin Bugis sudah diragukan.

Bagaimana tidak, dia disinyalir tidak memenuhi syarat untuk memimpin kantor kementerian yang bermoto “Iklas Beramal” yang berada di kawasan jalan Jenderal Sudirman, Kampung Pinang Putih, Tantui Atas, Kota Ambon itu.

Jamaludin Bugis belum mengantongi sertifikat pendidikan dan pelatihan (Diklat) PIM III, sebagaimana syarat yang ditentukan oleh Tim Seleksi (Timsel) Asesmen Eselon II untuk jabatan Kakanwil Kemenag.

Selain belum pernah mengkuti Diklat PIM III, Jamaludin Bugis juga hanya berlatar belakang pendidikan Starata Satu (S1). Padahal tingkatan pendidikan juga menjadi syarat penting, karena tingkatan pendidikan yang lebih tinggi menjadi syarat seorang peserta seleksi untuk diutamakan sebagai calon KaKanwil Kemenag.

Namun anehnya, tanpa mengantongi sertifikat Diklat PIM III dan hanya mengandalkan ijazah terakhir S1, Jamaludin Bugis dengan mudah lolos seleksi dan terpilih sebagai KaKanwil Kemenag Maluku, mengalahkan sejumlah peserta lain yang memenuhi syarat memiliki sertifikat Diklat PIM III serta berpendidikan lebih tinggi.

Mantan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Ambon yang juga salah satu peserta seleksi asesmen eselon II, Dr. H. Abdul Kahar, mengungkapkan, untuk menempati jabatan eselon II itu seseorang harus memiliki Sertifilat PIM III, karena merupakan bagian penting bagi jenjang karier.

“Jadi kemarin, saya juga mengikuti proses seleksi asesmen eselon II untuk jabatan Kakanwil Kemenag Maluku. Dalam persyaratan Timsel, itu ada bahasa diutamakan, jadi S1, S2 dan S3. Jadi pendidikan yang lebih tinggi diutamakan dan pernah mengikuti PIM III. Tapi ternyata, yang belum pernah mengikuti PIM III itu juga lolos dan diakomodir sebagai salah satu perserta seleski, dalam hal ini Jamaludin Bugis,” jelasnya, Minggu (26/7).

Terakomodirnya Jamaludin Bugis sebagai peserta, akui Kahar, angsi merupakan kelalaian timsel Kemenag. “Kenapa hanya berlatar belakang pendidikan S1 dan tidak pernah ikut PIM III, bisa terakomir bahkan terpilih sebagai Kakanwil Kemenag Maluku. Ini yang perlu dipertanyakan, dimana transfaransi dan profesional timsel dalam bekerja,” terang Kahar.

Seharusnya, dalam proses awal adiministrasi, sesuai persyaratan utama, timsel sudah tidak lagi mengakomodir peserta dengan status pendidikan S1 dan belum PIM III, jika ada perserta lain yang berpendidikan S2 dan S3 serta pernah mengikuti Diklat PIM 3.

Tapi kenyataan yang terjadi, kenyataan itu tidak dilakukan oleh timsel asesmen eseloan II untuk jabatan KaKanwil Kemenag. “Kalau misalnya ada S2 dan S3 yang lulus, tentu yang bersangkutan tidak lulus, karena dia hanya S1. Sehingga yang harus menjadi penentuan timsel, tidak lain harus kepada dua calon lain yang sudah memenuhi syarat, yakni, Hani Rumatiga dan satu peserta lain dari Makasar. Tapi yang lolos S1 dan belum pernah PIM III yang lolos, sehingga ini yang menjadi persoalannya disitu,” ungkapnya.

Kalau hal ini tidak ditindaklanjuti, katanya, maka bisa jadi temuan. “Saya tidak salahkan beliau, pak Bugis ini kan peserta yang sama juga dengan saya. Tapi Timsel. Tapi kalau menurut saya, pak Menteri Agama (Menag) tidak tahu ini,” katanya.

Jamaludin Bugis yang coba dikonfirmasi via chat WhatsApp dan selulernya, sama sekali tidak menanggapi. Sementara Kasubag Kepegawaian dan Ortala Kanwil Kemenag Maluku, La Ciri, yang dikonfirmasi ihwal hal ini, hanya menjawab kalau semua proses menjadi tanggungjawab timsel pusat. (RHM)

Comment