by

Jaksa Akan Hadirkan Saksi Memberatkan

Sidang Kasus Pornografi

Ambon, BKA- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku akan menghadirkan saksi memberatkan pada sidang kasus dugaan tindak pidana pornografi yang dilakukan terdakwa Steven Carlos de Fretes alias Steven, nanti.

Saksi memberatkan yang dihadirkan, yakni, saksi korban dan juga saksi-saksi yang melihat langsung perbuatan terdakwa.

“Saksi memberatkan yang kita hadirkan itu saksi korban. Selain saksi korban, ada pun saksi-saksi lain yang mengetahui langsung perbuatan terdakwa,” jelas sumber JPU yang menolak namanya di korankan kepada Beritakota Ambon, Jumat (21/8).

Disinggung hal-hal apa saja yang akan dibongkar saksi dalam kesaksiannya nanti, menurut sumber itu, kasus tersebut merupakan kasus pornografi sehingga tidak bisa dibeberkan ke media masa.

“Ini kasus bicara soal privasi, jadi tidak bisa kita bicara di publik. Yang jelas, semua akan kita buktikan dipersidangan melalui keterangan saksi-saksi itu,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, dalam persidangan perdana, pekan lalu, terdakwa yang merupakan warga Kayu Putih, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon ini, didakwa melanggar dua pasal, yakni, pasal 29 Ayat (1) Jo Pasal 4 ayat (1) huruf d UU RI No 44 Tahun 2008 tentang pornografi dan juga pasal 27 Ayat (1) Jo pasal 45 Ayat (1) UU RI Mo 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sidang perdana tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim, Lucky R. Kalalo, dibantu dua hakim anggota lainnya. Sedangkan terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Rony Samloy.

JPU S. Aryani dalam berkas dakwaanya menyebutkan, tindak pidana yang dilakukan terdakwa terjadi pada 28 Juli 2018, sekitar pukul 11.00 WIT, tepatnya di rumah terdakwa.

Awalnya ketika terdakwa mengirim gambar bernuansa kesusilaan terhadap korban yang merupakan mantan pacaranya, sambil mengancam akan menyebarkan gambar itu melalui aplikasi instagram.

Merasa malu dengan gambar itu, korban langsung melaporkan perbuatan terdakwa ke Polsek Sirimau. Petugas yang sudah menerima laporan itu langsung bergerak cepat mendatangi tempat tinggal terdakwa untuk melakukan penangkapan. Namun terdakwa sudah melarikan diri.

Tak sampai disitu, aksi terdakwa masih terus berlanjut. Dalam waktu yang sama, terdakwa terus mengirimkan foto bernuansa negatif itu ke korban yang diserta dengan ancaman. “Kamu yang malu, bukan saya yang malu,” sebut terdakwa, sebagaimana dalam dakwaan JPU.

Atas perbuatan terdakwa, postingan gambar korban diketahui rekan kerja korban. Ketika mereka menegur terdakwa, terdakwa malah membentak mereka dengan mengirimkan pesan melalui selulernya, bahwa tidak takut kalau dilaporkan ke Polisi.

Kemudian, dari laporan korban inilah, terdakwa menghilang dari pihak kepolisian, dan dimasukan dalam daftar Pencarian Orang (DPO). Akhirnya, terdakwa berhasil dibekuk tim Cyber Ditreskrimsus Polda Maluku untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.(SAD).

Comment