by

Jaksa Tunggu Audit BPKP Korupsi SMA 2 Kobi

Ambon, BKA- Tim penyidik Kejaksaan Negeri Maluku Tengah (Malteng) Cabang Wahai, menyatakan berkas perkara kasus dugaan korupsi proyek pembangunan SMA 2 Kobi saat ini tinggal menunggu hasil audit BPKP Provinsi Maluku-Malut.

“Saat ini kita tinggal menunggu hasil audit dari BPKP saja,”ungkap Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Maluku Tengah di Wahai, Hubertus Tanate ketika dikonfirmasi Beritakota Ambon, Senin (27/7).

Kata dia, serangkain penyidikan untuk perkara tersebut sudah selesai dilakukan,termasuk memenuhi penunjuk BPKP pun sudah dilakukan penyidik.

“Prinsipnya apa yang menjadi kekurangan dalam berkas perkara ini pasti dilengkapi tim penyidik, dan sejauh ini koordinasi penyidik dan BPKP berjalan lancar,”tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Maluku Tengah di Wahai, Hubertus Tanate yang dikonfirmasi Beritakota Ambon mengungkapkan, berkas perkara dugaan korupsi SMA 2, Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), sudah dinyatakan rampung oleh tim penyidik.

Hal ini , setelah tim penyidik menggarap sejumlah saksi yang berhubungan langsung dengan kasus ini, kemudian dari bukti-bukti yang dikantongi penyidik sudah dianggap cukup dan dinyatakan rampung untuk selanjutnya diserahkan ke BPKP Perwakilan Maluku- Maluku Utara untuk dilakukan audit.

“Kalau pemeriksaan saksi-saksi sudah selesai, berkasnya sudah kita rampungkan, dalam pemeriksaan itu berlangsung di Ambon dan juga di Malteng,” ujar Hubertus Tanate, Minggu (19/7).

Menurutnya, berkas perkara ini sudah dimasukan ke BPKP Maluku di kawasan Waihaong sejak beberapa hari lalu. “Saat ini kita hanya tunggu hasil audit keluar,” tandasnya.

Ditanyakan soal aktor yang diduga kuat terlibat dalam perkara ini, apakah pihak internal sekolah atau eksternal. Dirinya menepis hal tersebut.

Menurut jaksa dengan satu bunga melati dipundak itu, sebagai tim penyidik, mereka tidak bisa menjastis seseorang, namun semua akan terpulang dari hasil audit di BPKP.

“Kita tidak bisa bilang siapa nanti tersangkanya, semua ini kita tunggu hasil auditnya saja, dan perkiraan penyidik di lapangan, kasus ini diduga merugikan uang negara sebesar Rp.800 juta lebih,”tandasnya.

Sebelumnya diberitakan koran ini, Kejari Malteng Cabang Wahai, diam-diam mengusut kasus dugaan tindak pidana korupsi Pembangunan SMA 2 Seram Utara Timur Kobi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Proyek yang dikerjakan dari panitia pembangunan Swakelola ini diduga indikasi korupsi mencapai ratusan juta.

Sumber di Kacabjari Wahai kepada Koran ini mengaku, jaksa punya bukti kuat untuk menjerat para tersangka dalam kasus ini, sebab hingga kini sebanyak 24 orang dari panitia Swakelola dicecar tim penyelidik.

“Prinsipnya jaksa punya bukti kuat dalam kasus ini, sebab proyek itu terlihat amburadul sama sekali, bahkan kerugian ratusan juta,” ungkap sumber jaksa menolak namanya di korankan melalui selulernya, Selasa (31/3).

Bahkan, lanjut sumber itu, bukti yang saat ini dikantongi jaksa penyelidik sudah kuat tinggal saja mengincar kembali calon tersangka dalam proyek ini.

“Kita tinggal incar calon tersangka saja, entah itu dari pihak sekolah atau dari pihak mana tanyakan saja ka Jaksanya,” tandas sumber itu.
Kacabjari Wahai, Hubertus Tanate yang dikonfirmasi membenarkan hal tersebut.

Kata dia, timnya sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan korupsi pembangunan SMA 2 Seram Utara Timur Kobi, tahun 2017 senilai Rp. 2.669.651.000.

Bahkan dari hasil pemeriksaan diketahui, pekerjaan fisik terhadap sekolah tersebut, tidak sesuai Rancangan Anggaran Belanja (Rab). Dan juga dari hitungan sementara, kasus ini kerugiannya mencapai Rp. 895.065.350.
“Jadi pekerjaannya tidak sesuai dengan RAB, dan sekarang kita masih dalami lagi bukti-bukti lain,” jelas Tanate melalui selulernya, Selasa kemarin.

Selain pembangunan yang tak sesuai RAB, diduga proyek yang dikerjakan oleh Panitia Pembangunan dari Swakelola ini juga terjadi Mark Up pada nota belanja.

“Dari Mark-Up Nota belanja itu termasuk upah kerja dan pembelian material semuanya di Mark-Up. Makanya indikasinya disitu,” jelas Tanate. (SAD)

Comment