by

Jenguk Keluarga Diluar Kota Dibatasi

Ambon, BKA- Selama pemberlakuan PSBB, masyarakat tidak diizinkan untuk mengunjungi keluarga yang berada di luar kota Ambon. Pasalnya, Ambon merupakan zona merah yang telah masuk dalam penyebaran Covid-19.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Ambon, Joy Adriaansz menegaskan, pembatasan ini dilakukan karena orang tanpa gejala (OTG) bisa saja menularkan virus Corona kepada keluarganya di luar kota Ambon.

Dan pembatasan ini dibuktikan dengan penolakan yang dilakukan Pemerintah Kota lewat tim yang berada di posko-posko PSBB, dengan tidak menerima permohonan keluar dari Kota Ambon.

“Penolakan itu sebagian besar karena keperluannya tidak penting dan mendesak. Misalnya mengunjungi keluarga, pasti kita batasi. Karena sementara kita pahami bahwa Ambon ini sudah masuk kepada penularan Covid 19 level komunitas,” beber Joy, kepada wartawan di Balai Kota, Sabtu (27/6).

Dikatakan, sudah banyak Surat Keterangan Keluar Masuk (SKKM) Ambon yang diurus oleh warga tapi ditolak, terutama bagi yang ingin mengunjungi keluarganya.

“Sampai dengan hari ini untuk pengurusan SKKM Ambon itu total 2.420. Yang di setujui itu 1.852 dan yang di tolak itu 506, dan sementara menunggu verifikasi itu 62. Itu sampai dengan jam 12.43 WIT. Data ini pasti berubah, karena ini diproses secara online maupun offline, jadi mereka harus datang ke ULA dan kemudian kita bantu untuk proses pengurusan dan verifikasi,” tuturnya.

Ia melanjutkan, kalau pihaknya tidak mencegah warga Kota Ambon untuk keluar kota Ambon. Akan tetapi, akan sangat berbahaya bagi masyarakat yang berada di zona hijau. Pasalnya Kota Ambon sendiri sudah masuk dalam zona merah penyebaran covid 19.

“Kalau kita tidak mencegah masyarakat ini keluar, misalnya ketemu dengan keluarga yang ada di kecamatan Leihitu, Leihitu Barat maupun Salahutu maupun daerah masuk zona hijau. Itu berarti kita tidak sayang masyarakat yang ada di daerah sana,” ucap dia.

Akan tetapi, pihaknya hanya berlakukan pembatasan bagi warga yang hendak mengunjungi keluarga di luar kota, hingga berakhirnya PSBB. “Kita batasi sampai dengan selesainya PSBB, silahkan mereka kunjungi keluarga. Tapi untuk sementara mereka ada di rumah, tidak mengunjungi keluarga,” pesannya.

Dia mengungkapkan, untuk yang diprioritaskan masuk dan keluar dari Kota Ambon yakni yang membawa sembako maupun farmasi atau obat-obatan. Karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik yang ada di Ambon maupun daerah lainnya.

Mengingat Ambon merupakan ibukota dari provinsi Maluku dan pintu masuk untuk menuju ke kota maupun kabupaten lainnya di Maluku.

“Kalau di Maluku rata-rata mereka itu untuk distribusi sembako dan farmasi, itu kita wajib mengizinkan mereka. Terkait dengan pemenuhan kebutuhan di masing-masing daerah, begitu juga misalnya mau masuk ke Ambon untuk distribusi farmasi dan juga sembako itu kita prioritaskan,” imbuh Joy.

Sementara untuk SKKM, sambung dia, yang diproses oleh pihaknya lebih banyak keluarga Kota Ambon yang mengunjungi Maluku Tengah, Seram maupun keluar Maluku. Dan rata-rata surat yang diproses oleh pihaknya yakni 250 hingga 500 surat per hari.

“Surat yang lebih banyak memang keluar Ambon, keluar itu rata-rata ke Maluku Tengah. Ada yang ke kecamatan Leihitu, Leihitu Barat kemudian ada yang ke pulau Seram atau saparua. Juga ke Buru dan sebagainya. Termasuk juga ada yang ke luar Maluku seperti ke Makassar, Jakarta,” pungkasnya. (DHT)

Comment