by

Kejati Kembali Teliti Berkas Tata Ibrahim

Ambon, BKA- Berkas perkara Tata Ibrahim, salah satu tersangka kasus pembobolan uang BNI Cabang Ambon kembali diteliti oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku.

Progres pemeriksaan berkas tersebut dilakukan setelah menerima berkas perkara dari penyidik Dit Reskrimsus Polda Maluku, beberapa hari lalu.

Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, kepada BeritaKota Ambon mengungkapkan, beberapa hari lalu, JPU baru saja menerima berkas perkara tersangka Tata Ibrahim dari penyidik Dit Reskrimsus Polda Maluku.

“Benar bekas perkara tersangka TI sudah diterima kembali oleh Penuntut Umum. Saat ini masih diteliti oleh Penuntut Umum,” ungkap Sapulette, melalui selulernya, Minggu (10/5), kemarin.

Sebelumnya diberitakan koran ini, berkas Tata Ibrahim tersangka kasus pembobolan uang BNI Cabang Ambon sampai kini belum dilengkapi penyidik Dit Reskrimsus Polda Maluku, akibat merebaknya Covid-19 di Maluku dan Indonesia pada umumnya.

Direktur Reserse dan Kriminal Khusus Polda Maluku, Kombes Pol. Eko Santoso, kepada BeritaKota Ambon mengungkapkan, petunjuk JPU terhadap berkas tersangka Tata Ibrahim hingga kini belum juga dilengkapi penyidik Ditreskrimsus Polda Malulu, sebab virus Corona.

“Jadi supaya diketahui, petunjuk JPU itu suruh kita sita aset Tata Ibrahim, sedangkan kondisi saat ini corona. Kita mau jalan bagaimana? Makanya hingga kini kita masih menunggu sampai kondisi benar-benar aman, baru agenda dijalankan,” jelas Santoso di ruang kerjanya, Rabu (29/4).

Orang nomor satu di markas Polisi Mangga Dua, Kecamatan Nusaniwe, itu melanjutkan, aset-aset yang dimiliki Tata Ibrahim dari perbuatan korupsi itu, yakni, mobil, rumah, lahan, semuanya itu berada di Ujung Pandang, Provinsi Sulawesi Selatan.

“Jadi karena aset tersangka ada di luar daerah, makanya kita sedang menunggu sampai kondisi membaik, baru kita agendakan lagi kesana, guna sita aset,” tandas Santoso.

Sekedar tahu saja, kasus pembobolan uang BNI Ambon senilai Rp 58,9 miliar itu, penyidik Dit Reskrimsus Polda Maluku menetapkan delapan tersangka.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. M. Roem Ohoirat, mengungkapkan, kasus pembobolan uang BNI Ambon diketahui semuanya berjumlah delapan orang tersangka.
Masing-masing, Wilian Alfred Ferdinandus selaku Taller BNI Ambon, yang baru saja di tetapkan belum lama ini. Tata Ibrahim selaku Divisi Humas BNI Kantor Wilayah Makassar. Selain itu ada enam tersangka lainnya, yang kini sedang disidangkan di Pengadilan Tipikor Ambon. Mereka adalah Faradiba Yusuf, Soraya Pelu, eks Kepala KCP BNI Tual yang juga eks Kepala KCP Unpatti Krestiantus Rumahlewang, eks Kepala KCP Dobo Josep Resley Maitimu, eks Kepala KCP BNI Mardika Andi Yahrizal Yahya dan eks KCP BNI Masohi Marce Muskitta.

Juru Bicara Kapolda Maluku itu mengatakan, pengembangan penyidikan kasus pembobolan BNI masih terus dilakukan. Penyidik masih memperkuat bukti-bukti untuk menetapkan tersangka lain. “Delapan tersangka ini disangkakan dengan pasal 49 ayat (1) dan (2) UU No 7 Tahun 1972 tentang perbankan, sebagaimana diubah dengan UU RI No 10 Tahun 1998 dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun. Komulatif ancaman denda sebesar Rp.10 miliar. Selain itu para tersangka juga dijerat UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Pasal 3, 4 dan 5 UU No 8 Tahun 2010. (SAD)

Comment