by

Keluarga Pattilouw Apresiasi Hakim dan Jaksa

Ambon, BKA- Keluarga besar Alm Ridwan Abdullah Pattilow (71), mengapresiasi kinerja Majelis haim Pengadilan Negeri Masohi dan Jaksa Penuntut umum Kejaksaan Negeri Maluku Tengah yang sudah bekerja keras dalam mengungkap kasus pembunuhan di Desa Pasanea, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Anak Alm, Farida Pattilouw alias Ida yang dikonfirmasi Berita Kota Ambon mengungkapkan, kinerja majelis hakim Pengadilan Masohi dan JPU Kejari Malteng yang menangani kasus pembunuhan ini patut diacungkan jempol karena mampu mengungkap pelaku pembunuhan terhadap ayahnya itu dengan semaksimal mungkin.

Bahkan, kasus yang menyeret dua pelaku ini sampai kini mereka sudah menghuni hotel prodeo dengan hukuman yang bervariasi.

“Prinsipnya kita sangat apresiasi bapak majelis hakim dan jaksa penuntut umum, karena biar pun putusan ini tidak sesuai harapan kami keluarga tapi kami senang karena mereka sudah bekerja semaksimal mungkin,” jelas Ida, Senin (29/6).

Ida berujar, didalam persidangan dengan agenda putusan hakim terhadap terdakwa Adiman Nurlete beberapa hari lalu, majelis hakim memvonis Adiman dengan penjara selama selama 17 Tahun, sebelumnya JPU menuntut dia agar dipenjara selama 16 Tahun.

“Jadi sekali lagi biar putusan tidak sesuai dengan harapan kami keluarga, tapi kami puas dengan kinerja mereka. Daripada pihak penyidik Polsek Pasanea yang tidak mampu mengungkapkan fakta dibalik kasus ini, sehingga mereka hanya menyeret satu terdakwa R.T. yang kini sudah penjara, dan dari persidangan itulah, hakim dan JPU ungkap peran terdakwa utama Adiman Nurlete sehingga dia divonis lebih tinggi dari rekannya (R.T),” tandas Ida.

Berdasarkan informasi yang diterima dari kantor Kejari Malteng, terkait kasus ini. Majelis hakim Pengadilan Negeri Masohi, Kamis (25/6) menghukum Adiman Nurlete terdakwa pencurian dengan kekerasan yang mengakibat korban Ridwan Abdullah Pattilow (71) meninggal dengan dihukum penjara 17 tahun.

Sidang putusan kasus pencurian dan kekerasan yang mengakibatkan orang meninggal itu berlangsung secara Online, dipimpin majelis hakim yang diketuai Rivai R Tukuboya didampingi dua hakim anggota David Nainggolan dan Hasanul Fikhrie.

Majelis hakim menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal 365 ayat 4 KUHP.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum, Ronald Rettob menuntut terdakwa, Adiman Nurlette dengan hukuman 16 tahun penjara, di Pengadilan Negeri Masohi, Selasa (9/6).

JPU mengatakan, bukan lagi menuntut orang seberat-beratnya atau memasukan orang dalam penjara sebanyak mungkin. Ia berharap, hukuman itu bisa membuat orang berubah dan menjadi orang baik.

“Memang ancaman hukuman untuk terdakwa bisa hukuman mati, seumur hidup dan maksimal 20 tahun, tapi kita tidak memakai hukuman 20 tahun karena dia masih muda, dia punya hak juga dan diberi kesempatan memperbaiki dirinya,” ujar Rettop.

Saat kejadian tragis itu, korban mendapat perawatan di RSUD Masohi saat itu,namun akibat luka serius sehingga nyawanya tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

JPU juga mengakui, putusan hakim lebih tinggi satu tahun dari tuntutan. Dimana JPU menuntut terdakwa dengan pasal 365 ayat 4 KUHP dengan ancaman hukuman 16 tahun penjara, namun hakim menilai perbuatan terdakwa pantas dijatuhi hukuman berat dan diputuskan terbukti melangar pasal 365 ayat 4 dan dihukum dengan 17 tahun penjara.

Ronald Retob menjelaskan kasus ini memiliki dua terdakwa, dimana terdakwa lainnya masih di bawa umur dan telah diputus bersalah dengan hukuman penjara 8 tahun. (SAD)

Comment