by

Kontroversi 18 Pasien Positif Rapid Test

Ambon, BKA- Warga Kota Ambon kembali terusik dengan isu temuan 18 orang warga Kelurahan Waihaong, Kecamatan Nusaniwe, yang disebutkan positif Covid-19 sesuai hasil rapid test. Informasi ini bahkan tersebar di media sosial, sehingga menimbulkan kontroversi.

Data yang diterima koran ini, isu tersebut beredar di facebook yang diunggah mengatasnamakan Rektor Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM). Yang menghimbau agar mahasiswa tenaga kependidikan dan tenaga pendidikan dilarang beraktivitas di kampus. Sebab, setelah dilakukan rapid tes terhadap 253 warga Waihaong (baru tiga RT) dan hasilnya 18 orang positif virus Corona.

Status yang diunggah mengatas namakan Rektor UKIM, Dr Jafet Damamain, lantas viral dan menuai kontrversi. Namun informasi tersebut kemudian diklarisikasi oleh Rektor UKIM. Bahkan Ia meminta maaf kepada Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota Ambon, masyarakat Kota Ambon serta warganet atas informasi yang telah viral di dunia maya itu.
Dalam klarifikasinya, himbauan tersebut secara internal dikhususkan bagi mahasiswa dan tenaga pendidik di kampus tersebut. Namun himbauan tersebut justru beredar luas di kalangan masyarakat.

Jafet menjelaskan, menurut info yang dibacakan lewat salah satu media online, sejak selasa (29/4) kemarin terdapat 253 orang yang tergabung dalam tiga RT di Kelurahan Waihaong melakukan rapid test dan 18 orang diantaranya, dinyatakan positif virus corona.

Maka dari itu, Ia menyampaikan himbauan khusus untuk penghuni kampus UKIM, agar jika ada keperluan mendesak untuk tidak lagi menaiki angkot jurusan LIN III sebagai sarana transportasi.

“Himbauan tersebut adalah himbauan secara internal kepada warga kampus untuk waspada dan mendukung himbauan pemerintah, dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus corona. Karena himbauan tersebut ditujukan kepada warga kampus, sehingga saya tidak bermaksud sedikit pun untuk menyinggung pihak lain dalam himbauan itu” ungkap Jafet dalam klarfisikasinya, Rabu (29/4).

Ia mengaku, kalau sampai dengan hari dimana himbauan itu disampaikan untuk pihak kampus, karena ada rasa kecemasan akibat mahasiswa yang datang ke kampus setiap hari dengan urusan yang tertentu.

“Kegiatan perkuliahan memang sudah dilakukan secara online, Tetapi masih ada mahasiswa yang datang untuk urusan-urusan tertentu. Disamping itu juga proses penerimaan mahasiswa baru telah dilakukan secara online, tetapi masih cukup banyak calon mahasiswa yang belum mahir dalam proses pendaftaran online, sehingga mereka terus berdatangan di kampus” ujarnya.

Ia menambahkan, kalau pihak Lurah Waihaong telah mengklarifikasi terkait perihal adanya 18 jiwa yang positif Corona melalui hasil rapid test itu, adalah hoaks atau berita bohong.

“Dengan klarifikasi ibu Lurah Waihaong, saya menyatakan bahwa informasi yang saya sampaikan salah dan saya tarik. Sekaligus meminta maaf kepada Pemeritah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, ibu Lurah dan saudara-saudaraku di Waihaong, dan semua pihak yang telah terganggu dengan himbauan tersebut,” sebutnya.

Sementara himbauan untuk tidak menggunakan angkot LIN III, lanjut dia, itu didasarkan atas realitas bahwa mobil angkutan tersebut menjadi sarana transportasi bagi seluruh pihak yang ada dikampus.

“Jika ada kegiatan mahasiswa keluar kampus dan mesti menggunakan mobil angkutan kota, kami menggunakan angkot LIN III. Tetapi karena himbauan internal saya telah tersebar luas maka himbauan untuk tidak menggunakan mobil angkot Lin III saya tarik, sekaligus meminta maaf kepada pemilik dan supir angkot LIN III, yang merasa terganggu dengan himbauan tersebut,” pungkasnya.

Jafet menyarankan, bagi siapa dengan sengaja meluaskan himbauan itu, agar bisa membantu bertanggung jawab untuk mengklarifikasi kalau himbauan tersebut tidaklah benar.

Dilain sisi, informasi tersebut juga ditanggapi Ketua DPRD Kota Ambon, Elly Toisuta. Politisi Golkar ini mengaku, terkait 18 orang positif itu belum dapat dipastikan. Akan tetapi, dari informasi yang diterima dari dinas terkait, hasil tracking (penelusuran) bukan dilakukan terhadap 253 orang warga Waihaong, melainkan kepada 181 warga Waihaong.
Dimana setelah dilakukan rapid test, ada 18 orang yang positif. Dan sementara akan dilanjutkan untuk pemeriksaan swab.

“Terkait warga Waihaong yang katanya 18 orang sudah positif, itu diadakan tracking di Waihaong oleh dinas terkait. Itu 181 orang yang diadakan tracking oleh dinas terkait lewat rapid test. Dan hasil rapid test itu 11 orang dinyatakan positif. Dan 7 orang itu di tempat lain. Jadi sesuai rapid test itu positif, tapi belum dilakukan swab. Nanti setelah swab, baru membenarkan orang itu positif atau tidak,” ungkap Toisuta, di ruang kerjanya.

Diakuinya, seandainya 18 orang positif hasil rapid test itu dinyatakan positif sesuai hasil swab, maka sangat memprihatinkan bagi warga Kota Ambon.

“Semoga hasil swab nanti, 18 orang itu negative. Tapi kalau dinyatakan positif, maka ini sangat memprihatinkan bagi warga Kota Ambon,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinskes) Kota Ambon, Wendy Pelupessy, ketika dihubungi koran ini menolak memberikan tanggapan terkait informasi hasil tracking
hingga ditemukan 18 orang positif Covid-19 sesuai hasil rapid test.
“Untuk lebih jelas, tanya dokter Chandra Sekdis (sekretaris dinas), sebagai Ketua Tim Tracking,” singkat Wendy, lewat akun whatsappnya.

Selanjutnya, Sekretaris Dinas Kesehatan, Roberth Chandra, yang juga dihubungi koran ini, juga menolak memberikan tanggapan terkait 18 kasus positif hasil rapid test tersebut.

Klarifisikasi selanjutnya muncul dari Lurah Waihaong, yang mengklarifikasi informasi tersebut lewat akun facebooknya dengan nama Quraizin Tuheteru Sangadji. Menurutnya, informasi terkait beradarnya 18 warganya yang positif sesuai hasil rapid test tidaklah benar alias hoks.

“Bapak Ibu, saudarai-saudari, ade atau kakak, saya selaku Lurah Kelurahan Waihaong ingin mengklarifikasi pemberitaan yang sedang beredar di masyarakat. Bahwa tidak benar ada 18 warga yang terindikasi karena Corona. Dan rapid test pun belum di laksanakan untuk warga Waihaong. Sementara masih melakukan rapat koordinasi dengan pihak Dinas Kehatan Kota Ambon. Tolong jangan menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya, sekian informasi yang perlu diketahui,” tulisnya. (BKA-1/UPE)

Comment