by

Korban Akui Dicabuli Pengaruh Buah Mangga

Ambon, BKA- Bunga (Bukan Nama Asli), korban pencabulan yang dilakukan terdakwa Semuel Hetharia alias Semi, mengakui dipersidangan terkena rayuan terdakwa (Cabul) lantaran ingin memberikan buah mangga kepada korban, lantas mangga yang dimiliki terdakwa berada di belakang rumahnya, di Negeri Nalahia- Kasuari, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Hal ini diungkapkan, Penasehat Hukum Terdakwa, Ronald Salawane usai menggelar persidangan lanjutan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi korban, ibu korban dan satu saksi mata, pada sidang di Pengadilan Negeri Ambon, Jumat (3/7).

“Jadi dipersidangan tadi, apa yang disampaikan dalam dakwaan JPU bahwa Pria 65 Tahun asal Negeri Nalahia-Kasuari, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Malteng ini benar, kalau terdakwa sebelum memberikan buah mangga yang diminta korban, terdakwa lebih dulu mengajak korban ke kamarnya dan melakukan hal tak senonoh itu,” ungkap Salawane kepada Berita Kota Ambon, di luar arena persidangan, Jumat (3/7).

Dia berujar, selain pengakuan saksi korban, ibu korban dan saksi mata yang melihat keduanya di kamar, pun mengakui semua perbuatan terdakwa sesuai dengan dakwaan JPU.

“Prinsipnya semua yang terurai dalam dakwaan jaksa benar, dan tadi kita sudah periksa tiga saksi, dan tidak dibantah terdakwa,” tandas Salawane.

Sebelumnya, Semuel Hetharia alias Semi, pria bejat asal Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) harus digiring ke meja hujau akibat perbutan bejatnya menyetubuhi bunga (bukan nama asli), yang masih dibawah umur sebanyak dua kali.

Sesuai dakwaan JPU, terdakwa didakwa melanggar pasal 81 ayat (2) UU nomor 16 Tahun 2016, tentang penetapan peraturan pengganti UU nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentag perlindungan anak.

Dari sidang perdana itu, JPU Kejari Malteng, Inggrid Louhenapessy menjelaskan,perbuatan bejat yang dilakukan terdakwa terjadi awalnya Januari 2020 kemarin, saat itu, korban didatangi terdakwa dengan tujuan mengambil buah mangga di belakang rumah terdakwa, lantas korban tinggal bertetangga dengan terdakwa.

Dengan kondisi rumah yang sepi, sebelum mengambil buah mangga, terdakwa membawa korban ke kamarnya dan memaksa korban untuk melayani napsu birahinya. Korban yang masih polos menolak tawaran terdakwa namun dipaksa terdakwa sehingga hubungan terlarang itu pun berlangsung.

Setelah itu, terdakwa memegang tangan korban ke belakang rumah lalu memberikan dia buah mangga, kemudian menyuruh korban untuk pulang ke rumahnya.

Kedua, pada Bulan Maret 2020 kemarin, terdakwa datang ke rumah korban lalu memanggil korban ke rumah terdakwa,dengan tujuan yang sama untuk mengambil buah mangga. Ternyata pria bejat itu kemabali menyetubuhi korban di dalam kamarnya.

Perbuatan terdakwa pun tidak diketahui orang tua korban, akan tetapi pada waktu korban bersama terdakwa di dalam kamar, saksi yang merupakan tetangga rumah terdakwa mengintip aksi biadap terdakwa dari jendela kamar.

“Tak menerima aksi biadap terdakwa terhadap korban, saksi kemudian memilih untuk memberitahukan peristiwa itu ke orang tua korban, kemudian orang tua korban melaporkan hal ini ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk diproses hukum,” ucap JPU, Inggrid Louhenapesy dalam berkas dakwaannya dipersidangan yang dipimpin ketua majelis hakim, Lucky R. Kalalo dibantu Christina Tetelepta dan Hamja Kailul selaku hakim anggota. (SAD)

Comment