by

Korban Pembunuhan Di Haruku Minta Polisi Bijak

Ambon, BKA- Cornelia alias Nel Watunglawar (47), Istri dari korban DT, meminta Polsek Pulau Haruku, Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, bijaksana dalam melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan tersangka Jecky Mustamu tepatnya di Negeri Haruku, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Nel Watunglawar melalui kuasa hukumnya Rany Samloy kepada wartawan di Ambon mengatakan, penyelidikan yang dilakukan Polsek Haruku terkait kasus pembunuhan korban DT harus dipertanyakan.

Sebab, kasus pembunuhan ini diduga tidak hanya melibatkan tersangka tunggal namun yang jelas ada rekan tersangka Liberti Silvera yang harus dimintai pertanggungjawaban hukum.

Sebab kata Samloy, kasus ini awalnya, sebelum tersangka melakukan pembunuhan terhadap korban, tersangka bersama rekannya Liberti Silvera sudah lebih awal berdiskusi. Sehingga diduga, otak dibalik kasus pembunuhan ini juga ada pada Liberti Silvera. “Mengapa bisa demikian, awal tersangka membunuh korban, dia lari ke hutan. Kemudian polisi melakukan penahanan terhadap Liberti Silvera.

Dengan demikian peran dari Liberti ini harus didalami petugas,” ungkap Samloy, Senin (4/5).

Kata pengacara muda ini, jika memang Polsek Pulau Haruku tidak menjadikan Liberti sebagai tersangka, mestinya yang bersangkutan tidak boleh ada di dalam kampung atau dusun tersebut, demi mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.

“Seharusnya dia ada di luar kampung, karena jangan sampai tagal dia, memicu konflik baru di dalam kampung antara keluarga korban dan keluarga Liberti, maupun keluarga tersangka,” tuturnya.

Lebih jelas tambah Samloy, saat ini keluarga korban sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan tersangka dan rekannya Liberti Silvera tersebut. Sehingga mereka meminta agar pihak kepolisian arif dan bijak dalam menyikapi hal ini.

“Yang penting pihak Polsek bijak saja dalam melakukan penyelidikan terhadap kasus ini, dan juga mampu mengatasi agar tidak lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di masyarakat,” tandasnya.

Terpisah, Kapolsek Pulau Haruku, AKP Karimudin yang dikonfirmasi melalui selulernya tidak terhubung. Pesan pendek yang dilayangkan pun tak dibalas.

Untuk diketahui, seorang warga Desa Haruku Kabupaten Malteng berinisial DT (41), tewas usai lehernya ditebas dengan parang oleh JM juga warga Haruku yang masih kerabatnya.

Pelaku melayangkan parang di leher dan bahu korban lantaran sudah dipengaruhi minuman keras. Peristiwa tragis ini terjadi di Kompleks Sia Dusun Soa Belanda, Desa Haruku usai pelaku dan korban menghadiri hajatan nikah salah satu warga, Kamis (19/3) dini hari.

Kasubbag Humas Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Iptu Julkisno Kaisupy, kepada wartawan di Mapolresta Ambon Kamis (19/3) menjelaskan, berdasarkan keterangan JT (sak­si), kejadian berawal dari saksi dan korban menghadiri acara nikahan, dimana dalam acara tersebut pelaku sudah lebih dulu hadir dalam keadaan mabuk.

Pelaku yang terkenal suka membuat keributan, kemudian ditegur oleh saksi JT. Sambil berkelakar, saksi sempat mengajak pelaku berkelahi jika pelaku masih melakukan keributan.

Hal tersebut membuat pelaku tidak terima. Usai acara pesta digelar pelaku pulang mengambil sebilah parang dan mencari saksi JT. “Jadi pelaku tidak terima dengan perkataan saksi, sehingga pelaku ambil parang dan menuju rumah saksi, namun pada saat itu saksi tidak berada di rumah sehingga pelaku pulang dan membuat keributan di depan rumahnya,” jelas Kaisupy.

Di depan rumahnya, sejumlah warga yang baru pulang dari lokasi acara melewati rumah pelaku dan mendengar adanya keributan. Korban bermaksud untuk menegur pelaku, justru jadi pelampiasan amukan pelaku yang saat itu memegang sebilah parang yang langsung diayunkan ke arah korban sebanyak dua kali dan mengenai bahu kiri dan leher korban.

“Korban sempat menyelamatkan diri dengan berlari usai ditebas pelaku, namun luka yang parah membuat korban jatuh dan langsung meninggal dunia akibat kehabisan darah,” beber Kaisupy. (SAD)

Comment