by

Laki-Laki Yang Powerfull, Jujur dan Amanah

Oleh: Ustadz Sunoto, ST
Dai Ikadi/Konsultan IT

Ambon, BKA- Laki-laki separuh baya itu sedang duduk didalam gubuk miliknya yang selama ini dijadikan tempat menyimpan harta kekayaan. Dari tempat duduknya, ia bersama penjaga gubuk itu bisa melihat terik panas permukaan bumi seperti aspal jembatan Merah Putih yang menguap, ketika kemarau panjang melanda.

Samar-samar dari kejauhan ia lihat ada laki-laki seumuran dengannya, sedang berlari-lari di bawah sinar matahari yang panas menyengat membakar kulit. Sambil bergumam, ia berkata: “Kenapa dia tidak diam di kota dulu hingga panas ini berlalu”. Kemudian ia menoleh kepada pembantunya dan berkata: “Lihat orang itu, siapa dia” sambil menujuk orang yang samar-samar semakin kelihatan mendekat. Lalu pembantunya menimpali “Seorang laki-laki dengan pakaian tertutup sedang menggiring dua ekor anak unta”.

Debu mengepul keatas karena kaki laki-laki tersebut beserta kedua ekor anak unta yang digiringnya. Semakin dekat dengan gubuk, terlihat semakin jelas. Kemudian Laki-laki pemilik gubuk tersebut berkata kepada pembantunya : “Coba kamu lihat, siapa orang itu”.

Pembantunya menjawab dengan mantap disertai raut wajah yang terkejut : “Dia adalah Umar, Amirul Mukminin”.

Sayyidina Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘Anhu yang sedari tadi terheran-heran dari dalam gubuk, ia melongokkan kepalanya melalui pintu, langsung terasa semburan hawa panas menyentuh wajahnya, sehingga ia dengan cepat memasukkan kembali kepalanya kedalam, sampai laki-laki tersebut menghampirinya. Utsman berkata : “Apa yang membuatmu keluar pada saat seperti ini?”

Ternyata Sayyidina Umar ibn Khattab Radhiyallahu ‘Anhu adalah laki-laki yg berlari-lari bersama dua ekor anak unta tadi. Kemudian beliau menjawab : “Dua ekor anak unta tertinggal dari rombongan unta zakat, sementara unta zakat sudah berangkat lebih dulu. Aku akan membawanya ke Hima (Tempat pengurusan unta zakat), karena aku khawatir keduanya hilang dan Allah akan meminta pertanggung jawaban kepadaku”.

Utsman kemudian berkata : “Wahai Amirul Mu’minin! Singgahlah untuk minum dan berteduh, biarkan kami yang mengurusi anak unta itu”.

Sembari berlalu, Umar memerintahkan Utsman agar tetap di dalam.

Utsman kemudian berkata: “Barang siapa yang ingin melihat orang yang kuat dan memegang amanah, maka lihatlah Umar!”

Kisah epik yang sarat akan pesan mendalam tersebut, seakan ingin menyampaikan kepada kita, bahwa kejujuran, keteguhan, dan tekad yang kuat dalam menjaga keimanan, adalah perkara yang tidak dapat ditawar dan ditukar dengan apapun juga. Seorang Umar yang telah menjadi Amirul Mu’minin, dimana tidak ada batas lagi antara Dia dan Allah Ta’ala, menjadikan ia adalah orang paling kuat di daratan Timur Tengah pada masa itu. Namun begitu, kedigdayaan dirinya, popularitas dan segala macam status sosial yang disandangnya, tidak sedikitpun melemahkan cintanya kepada rakyat dan pertanggung jawabanya kepada Allah SubhanahuwaTa’ala.

Dengan teladan Sayyidina Umar tersebut setidaknya kita bisa meraba-raba hati kita masing-masing, sejauh mana keteladanan tersebut bisa kita tiru serta dapat kita jadikan barometer pengukur keimanan. Sejauh mana perbandingan level keimanan antara para Sahabat Rosulullah dengan kita sebagai Ummat Rosulullah Shollallahu ‘AlaihiWasallam yang hidup di akhir zaman ini.

Tentu dengan ini harapanya, hati kita dapat tersentuh, betapa sesungguhnya jabatan, kekuasaan, kekuatan, kekayaan, ketenaran dan segala macam atribut duniawi ini sama sekali tidak menjadi pertimbangan sedikitpun dihadapan Allah Ta’ala, melainkan Iman dan Amal Sholeh yang telah kita lakukan.

Bulan Ramadhan yang setiap menitnya dan hari-harinya ini adalah berkah. Maka lakukanlah segala bentuk kebaikan dengan sumber daya dan upaya yang kita miliki, baik itu menyangkut ibadah diri kita sendiri maupun amal-amal sosial dalam menghadapi keadaan yang serba tidak menentu seperti saat ini.

Gunakanlah kekuasaan dan kekuatan bagi yang memilikinya untuk membantu ummat manusia, atau gunakan lisan dan pena untuk mengajak dan mengingatkan kepada yang lainnya. Mari kita berharap, hari-hari yang kita lalui saat ini adalah selalu bernilai ibadah dan menjadi tambahan catatan amal baik kita dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amiin Yaa Rabbal ‘Alamin. (**)

Comment