by

Laporan Penggunaan APD Berpotensi Dispekulasi

Ambon, BKA- Sejumlah aktivis yang tergabung dalam beberapa Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung Plus menggelar demo di Pendopo Bupati Seram bagian Timur (SBT), Rabu (24/6).

Demo sejumlah aktivis itu terkait adanya dugaan penggunaan Alat Pelindung Diri (SPD) yang dipakai tenaga medis RSUD Bula secara berulang kali dalam penanganan pasien Covid-19 disana.

Bahkan dihadapan Bupati SBT, Abdul Mukti Keliobas, salah satu pendemo, Rustam Rumasukun, mengungkapkan, sesuai kenyataan yang mereka temukan dilingkungan RSUD Bula, hampir setiap hari ditemukan puluhan APD yang dijemur.

Kalau hal itu benar, maka dikhawatirkan ada spekulasi dalam laporan penggunaan APD oleh pihak RSUD tersebut. “Pak Bupati, APD untuk tenaga medis dalam menangani pasien positif Covid-19, sebenarnya satu kali pakai atau bisa dipakai secara berulang-ulang? Kami menduga ada spekulasi dalam laporan penggunaan APD oleh pihak RSUD. Karena kami menemukan setiap hari ada puluhan APD yang dijemur di lingkungan RSUD,” jelas Rustam.

Untuk memperkuat pernyataan tersebut, mereka juga memperlihatkan foto puluhan APD yang dijemur di lokasi RSUD Bula, kepada Bupati Abdul Mukti Keliobas.

Usai mendengar aduan para aktivis maupun melihat bukti yang foto tersebut, Keliobas meminta salah satu ajudannya untuk menghubungi Kepala RSUD Bula, untuk mendapat penjelasan terkait hal itu.

Setelah mengkonfirmasi langsung Kepala RSUD Bula, Keliobas kembali menemui para aktivis itu. Dia mengatakan, kalau APD yang dijemur itu tidak digunakan kembali oleh petugas medis untuk menangani pasien COvid-19.

APD yang telah dicuci itu digunakan untuk petugas Laundry RSUD. “Jadi ini kepala RSUD baru sampaikan, katanya, APD yang dijemur itu digunakan petugas Laundry RSUD untuk jaga-jaga saja. Bukan untuk para tenaga medis,” ucapnya.

Usai menemui pendemo, Keliobas kepada wartawan, mengatakan, jika benar informasi yang disampaikan para pendemo itu, dipastikan akan ada sanksi tegas.

“Jika itu benar, saya akan panggil Kepala RSUD. Kalau betul, harus diberikan sanksi. Tidak boleh tidak itu. Besok saya akan panggil. Itu kan penyalahgunaan. Uang ini kan ada di sana, tapi kenapa seperti itu. Ini sama saja dengan membunuh orang. Upaya kita selama ini untuk memutus mata rantai dan itu komitmen kita semua. Kenapa hal seperti ini terjadi, itu sama saja dengan katong (kita) lepas ditempat lain, tapi kena di tempat lain. Saya tadi sudah tegaskan, APD itu hanya sekali dipakai. Tidak boleh dipakai, lalu dicuci dan dipakai kembali. Itu sama saja dengan kita mau membunuh orang itu,” terang Keliobas.

Sementara itu, berdasarkan hasil penelusuran media ini, pada tanggal 16 Juni lalu, salah satu petugas Laundry RSUD Bula, mengaku, setiap hari terdapat dua puluh lebih APD hazmat dicuci, lalu disterilkan, untuk kemudian digunakan kembali. Hal itu terbukti, puluhan APD dijemur di belakang gedung Londry RSUD Bula.

Selain itu, pada 24 Juni, bertepatan dengan demo yang digelar sejumlah aktivis di Pendopo Bupati SBT, lagi-lagi terlihat puluhan APD kembali dijemur.

Petugas Laundry lain yang saat itu lagi menjemur, mengatakan, pakaian astronot itu setelah dicuci, dijemur selama 3 jam, lalu disterilkan untuk kemudian dipakai kembali.

Dia menambahkan, sebenarnya dirinya merasa khawatir, tapi tidak berani menolak.

Sebelumnya, Kabid Pelayanan RSUD Bula, Ismail Suakul, kepada wartawan, mengatakan, RSUD dalam melakukan penanganan pasien positif Covid-19, setiap harinya menghabiskan lebih dari 50 APD. Sementara yang dicuci untuk digunakan kembali hanya Sepatu Boad, pelindung mata, dan helem.

Kepala RSUD Bula, dr. Linggar Sukraningtias, yang coba untuk dikonfirmasi wartawan, tidak ingin ditemui.(LAN)

Comment