by

Mahasiswa Korban Kampus Sengketa

Ambon, BKA- Posisi tidak menguntungkan kini dirasakan oleh Yasmin, salah satu alumni Universitas Darussalam (Unidar) yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Darussalam Maluku (YPDM) di Tulehu.

Lulusan Unidar Ambon di Tulehu pada 2016 lalu, kini terancam tidak dapat menyelesaikan pendidikan Strata Dua (S2) di salah satu perguruan tinggi di Yogjakarta.

Pada proses pemberkasan akhir studi pasca sarjana, pihak kampus meminta sejumlah persyaratan. Diantaranya, ijazah Starata Satu (S1).

Saat dia memasukkan ijazah S1 lulusan Unidar Ambon di Tulehu, ternyata ijazahnya tidak terdaftar pada Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD-Dikti). Sehingga berkasnya ditolak oleh perguruan tinggi tempat dia melanjutkan program S2.

“Saya ini sementara melanjutkan studi jenjang S2 di Yogyakarta. Ketika pihak kampus meminta untuk kelengkapan berkas, salah satunya kelulusan tingkat S1 pada Unidar Ambon di Tulehu. Ketika dicek, nama saya pada PD-Dikti dinyatakan mengundurkan diri. Saya kemudian meminta kejelasan dari pihak kampus Unidar Tulehu, namun yang diberikan adalah surat keterangan saja,” keluhnya, saat menghubungi BeritaKota Ambon, kemarin.

Untuk itu, Yasmin berharap, ada jalan keluar yang diberikan oleh pihak kampus Unidar Ambon, baik yang dikelola oleh pihak YPDM maupun yang dikelola Yayasan Darussalam Maluku (YDM), sehingga dia dapat menyelesaikan studi S2-nya.

Karena, katanya, kalau tidak ada solusi yang diberikan oleh kedua belah pihak pengelola kampus Unidar Ambon, baik YPDM maupun YDM, maka dia tidak akan dapat melanjutkan pendidikan pasca sarjana-nya yang saat ini sudah memasuk tahap akhir. “Mungkin saya tidak bisa menyelesaikan pendidikan S2, karena masalah ijazah S1 ini,” katanya.

Masalah itu, lanjutnya, mungkin tidak hanya membelit dirinya. Namun juga membelit sejumlah rekan-rekan seangkatannya, kalau mereka juga tengah melanjutkan pendidikan S2.

“Karena mahasiswa angkatan 2016 yang telah diwisuda Unidar Ambon Tulehu mungkin bernasib serupa. Untuk itu, Saya hanya berharap, pihak kampus Unidar Ambon yang ada di Wara (Ambon, red) dan Tulehu, dapat menfasilitasi hal ini, sehingga mahasiswa tidak dikorbankan,” harap Yasmin.

Rektor Unidar Ambon yang berlokasi di Dusun Wara, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Dr. M. Riadh Uluputty, mengatakan, pihaknya tidak bertanggung jawab terhadap semua lulusan dari Unidar Ambon yang berada di Tulehu. Termasuk masalah ijazah mereka yang tidak terdaftar pada PD-Dikti.

Menurutnya, yang bertanggung jawab untuk itu adalah pimpinan kampus Unidar Ambon di tulehu yang dikeloa oleh YPDM. Bukan YDM.

Pasalnya, kata Uluputty, pasca dikeluarkan SK Kemendristekdikti, sebenarnya semua persoalan yang berkaitan dengan konflik internal di tubuh Unidar Ambon sudah harus selesai. Karena yang mendapatkan persetujuan adalah Unidar Ambon yang dikelola YDM.

Namun hal itu justru tidak diindahkan oleh pihak YPDM Tulehu. Karena itu, yang berkaitan dengan semua persoalan YPDM, katanya, dirinya tidak bertanggung jawab.

“Memang kita punya kebijakan untuk mahasiswa yang dari kampus Tulehu. Tapi kita harus mengecak rekam jejaknya dulu. Kalau berkasnya tidak ada, maka harus kuliah ulang. Tidak bisa kita ambil keputusan secara bebas. Apalagi yang sudah lulus, kemudian mau datang untuk minta bantu. Itu sama sekali tidak ada kebijakan untuk itu. Biarkan kampus Tulehu yang bertanggung jawab. Jangan dialihkan ke kita. Karena ijazahnya bukan dari kita. Karena apa yang kita lakukan hari ini sesuai dengan aturan pemerintah,” tegas Uluputty.

Dia menjelaskan, untuk mendapatkan Penomoran Ijazah Nasional (PIN), tidak semudah yang dipikirkan. Harus ada persyaratan yang dipenuhi oleh calon lulusan kampus. Karena sebelum mahasiswa diwisuda, semua berkas sudah dimasukkan dan diproses untuk dikirim ke pusat, guna mendapatkan PIN

“Jadi tidak mungkin yang sudah wisuda di kampus Tulehu, datang untuk legalisir ijazah di kampus Wara. Memang kasihan juga, mahasiswa yang menjadi korban. Tapi mau buat seperti apa. Kita bisa membantu, tapi apakah mereka siap untuk kuliah ulang atau tidak? Karena kalau datang pun, kita akan cek lagi berkasnya. Pada saat konflik 2015 itu, dia di semester berapa. Kalau pada saat itu, dia semester V, maka harus mulai dari semester itu. Tidak bias kita ambil kebijakan sembarangan,” tuturnya.

Uluputty mengungkapkan, pasca dia dipercayakan memimpin Unidar Ambon oleh YDM pada 2017 lalu, ada sekitar 10.000 mahasiswa sudah dikeluarkan pada 2018 lalu, lantaran berkasnya tidak diketahui oleh pihak kampus.

“Jujur, saya merasa prihatin dengan mahasiswa di kampus Tulehu. Orangtua mereka bekerja keras agar mereka bisa kuliah, tapi sayangnya mereka salah jalur. Apa yang mau diharapkan, kalau ijazah tidak terdaftar di PD-Dikti. Pasca kita keluarkan 10.000 mahasiswa pada waktu itu, ada sebagian yang datang untuk proses kembali, dan itu kita bantu. Tapi kalau sudah wisuda, lalu mau datang minta bantu, tidak bisa. Tidak ada kebijakan untuk itu. Intinya, kita kerja sesuai dengan peraturan, jadi kalau ijazah bermasalah, silahkan ke kampus Tulehu untuk cari jalan keluarnya. Tidak bisa disini, karena berkasnya tidak ada,” tandas Uluputty.

Sementara itu, upaya BeritaKota Ambon untuk mengkonfirmasi pihak Kampus Unidar Ambon yang dikelola YPDM di Desa Tulehu, Senin (13/7), belum bisa dilakukan. Karena tidak ada aktivitas perkuliahan di kampus Unidar di Tulehu.(LAM/RHM)

Comment