by

Mahasiswa MBD Butuh Bantuan

Ambon, BKA- Akademisi Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Abraham Mariwy, menggugah sejumlah tokoh Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) yang ada di Kota Ambon, untuk memperhatikan nasib mahasiswa asal kabupaten berjuluk Kalwedo yang saat ini menempuh pendidikan Strata Satu (S1) pada sejumlah perguruan tinggi di Kota Ambon.

Perhatian dan dukungan itu sangat diperlukan oleh mereka saat ini, untuk tetap mempertahankan asah menempuh pendidikan yang sementara mereka geluti.

Karena dimasa pandemi virus corona ini, kehidupan menjadi sulit. Terutama bagi mahasiswa yang hidup di kos-kosan, yang hanya mengharapkan kiriman biaya kuliah dari orangtua di kampung. Sedangkan transportasi laut di Maluku saat ini ditutup.

Apalagi sebagian besar dari mahasiswa asal Kabupaten MBD itu berasal dari kalangan kurang mampu, yang orangtua mereka bekerja sebagai petani dan nelayan.

Untuk itu, Mariwy tidak tanggung-tanggung mengajak sejumlah tokoh asal MBD, seperti, Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Orno, Bupati MBD, Benyamin Thomas Noach, maupun sejumlah Anggota DPRD Maluku asal MBD, Anos Yermias, Hengky Pelata, Frangkois Orno, Anggota DPRD MBD, serta akademisi asal MBD yang saat ini berada di Kota Ambon.

“Dengan hormat, saya mengajak kita para tokoh asal MBD yang ada di Kota Ambon, untuk memperhatikan nasib adik-adik mahasiswa asal MBD, yang sampai sekarang ini masih bertahan di kos-kosan,”ujar Mariwy, Selasa (28/4).

Mariwy merasa terpanggil karena prihatin melihat ada begitu banyak generasi muda MBD yang sampai saat ini masih tetap berada di Ambon, mengikuti kuliah secara online di kos-kosan, akibat penyakit Covid-19 ini. Sehingga dia berharap, agar ada rasa terpanggil yang sama sebagai anak daerah, untuk saling membantu dan menghidupkan, sebagai tindakan nyata dari pekikkan salam Kalwedo itu.

“Betapa berdosanya, kalau kita tidak lihat adik-adik kita. Karena di kota ini, ada banyak sekali anak MBD yang punya jabatan struktural di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta. Percuma, kalau kita teriak kalwedo, tapi kita tidak saling membantu,” tegas Mariwy.

Menurutnya, sebagian besar dari mahasiswa ini, berasal dari keluarga tidak mampu. Yang rata-rata pekerjaan orangtua adalah petani dan nelayan. Dengan ditutupnya akses transportasi laut untuk mencegah penyebaran virus, justru semakin membuat mereka terbeban dengan kebutuhan hidup setiap hari. Dilain sisi, mereka harus tetap bertahan hidup di kos-kosan, lantaran kuliah tetap berjalan seperti biasa.

“Ini yang membuat, sehingga walaupun sedikit, mari kita berbagi dengan mereka. Kasihan, adik-adik kita ini kan kehidupan mereka tergantung kapal. Karena, biasanya dikirim uang kuliah, bahkan makanan dari kampung. Tidak tahu, dengan ditutupnya pelabuhan laut ini, mereka makan bagaimana,” tutup Mariwy. (LAM)

Comment